<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Duh! Perempuan di Jaktim Jadi Korban Pelecehan Seksual Sejak SD oleh Ayah Tirinya&amp;nbsp;</title><description>Namun tidak jarang kekerasan seksual yang diterimanya dilakukan saat korban tengah tertidur. Korban merasa perbuatan itu meninggalkan trauma tersendiri baginya.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/10/02/338/3173897/duh-perempuan-di-jaktim-jadi-korban-pelecehan-seksual-sejak-sd-oleh-ayah-tirinya-nbsp</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/10/02/338/3173897/duh-perempuan-di-jaktim-jadi-korban-pelecehan-seksual-sejak-sd-oleh-ayah-tirinya-nbsp"/><item><title>Duh! Perempuan di Jaktim Jadi Korban Pelecehan Seksual Sejak SD oleh Ayah Tirinya&amp;nbsp;</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/10/02/338/3173897/duh-perempuan-di-jaktim-jadi-korban-pelecehan-seksual-sejak-sd-oleh-ayah-tirinya-nbsp</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/10/02/338/3173897/duh-perempuan-di-jaktim-jadi-korban-pelecehan-seksual-sejak-sd-oleh-ayah-tirinya-nbsp</guid><pubDate>Kamis 02 Oktober 2025 07:33 WIB</pubDate><dc:creator>Jonathan Simanjuntak</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/10/02/338/3173897/perindo-8ghY_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Duh! Perempuan di Jaktim Jadi Korban Pelecehan Seksual Sejak SD oleh Ayah Tirinya&amp;nbsp;</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/10/02/338/3173897/perindo-8ghY_large.jpg</image><title>Duh! Perempuan di Jaktim Jadi Korban Pelecehan Seksual Sejak SD oleh Ayah Tirinya&amp;nbsp;</title></images><description>JAKARTA - Perempuan asal Jakarta Timur berinisial SR (21) menjadi korban pelecehan seksual sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Pelaku merupakan ayah tirinya sendiri yakni EDS (37)&#13;
&#13;
Menurut korban SR, pelaku perbuatan tindakan keji itu dilakukan beberapa kali selama pelaku tinggal bersama korban saat hidup di kawasan Jakarta Timur. Pelaku menurutnya kerap menyentuh dirinya tanpa konsensual.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kekerasan seksual mulai dari menyentuh sampai bagian yang memang tidak boleh disentuh. Dari kelas 6 SD. Terus-terusan, kelas 6 SD, dia perbuat lagi pas saya SMP, terus dia perbuat lagi SMA dan sampai usia 20 tahun,&amp;quot; ujar korban saat ditemui di Polres Metro Jakarta Timur, dikutip, Kamis (2/10/2025).&#13;
&#13;
Namun tidak jarang kekerasan seksual yang diterimanya dilakukan saat korban tengah tertidur. Korban merasa perbuatan itu meninggalkan trauma tersendiri baginya . &amp;quot;Saya seperti takut saja, tidak berani melawan,&amp;quot; lanjut korban.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kekerasan seksual yang diterimanya itu mulai disadari saat dirinya duduk di bangku SMA. Dalam beberapa seminar kekerasan seksual, ia baru menyadari bahwa dirinya menjadi salah satu korban.&#13;
&#13;
&amp;quot;Saya itu pernah seminar waktu SMA, seminar tentang pelecehan seksual dan saya itu langsung &amp;#39;deg&amp;#39; sadar bahwa selama ini saya menjadi korban kekerasan seksual,&amp;quot; jelas dia.&#13;
&#13;
Sayangnya, korban tidak mendapatkan lingkungan yang suportif. Beberapa kali ia mencoba melaporkan kejadian itu namun lingkungannya justru menampik kejadian yang dialaminya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Yang direspon itu malah cuman dibilang mungkin hanya mimpi. Saya juga malah mendapatkan ancaman dari ayah tiri saya (pelaku), saya langsung ditunjuk-tunjuk, dia (pelaku) masang muka marah,&amp;quot; jelas korban.&#13;
&#13;
Hal traumatis ini memuncak pada Januari 2025 lalu, ia mendesak ibunya untuk membantu membuat aduan dan membantu dirinya. Masih juga merasa tidak mendapatkan dukungan, korban akhirnya memilih untuk melarikan diri.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Karena saya sudah muak akhirnya saya memilih melarikan diri dari unit (rusun) saya, saya berteriak-teriak, banyak yang menyaksikan,&amp;quot; ujar SR.&#13;
&#13;
SR akhirnya lebih memilih tinggal bersama lingkungan yang mendukungnya, termasuk seorang pendamping. Ia mendapatkan pemulihan psikologis hingga akhirnya resmi melakukan pelaporan pada Maret 2025 ke Polres Metro Jakarta Timur.&#13;
&#13;
Sayangnya, enam bulan setelah laporan ini dibuat, belum ada perkembangan lebih lanjut terkait perkara ini. Padahal, kata dia, pelaku EDS masih berkeliaran di kawasan Jakarta Timur.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ada beberapa saksi yang mengenal saya, ada yang mengatakan mereka (pelaku) masih berkeliaran di sekitar Jakarta Timur,&amp;quot; ujar SR.&#13;
&#13;
SR juga meminta pendampingan dari organisasi sayap Partai Perindo yaitu Puspadaya Perindo untuk memberikan bantuan hukum. Ia berharap dukungan yang datang dari Puspadaya Perindo ini bisa memberikan keadilan baginya.&#13;
&#13;
Sekretaris Jenderal Puspadaya Perindo, Amriadi Pasaribu menyampaikan perkembangan penanganan kasus ini. Amriadi bersama pimpinan Puspadaya Perindo menagih dan mempertanyakan perkembangan penanganan perkara ini pada Selasa (30/9), sayangnya menurutnya penyidik yang menangani kasus ini tengah lepas dinas.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami akan terus mendesak meminta perkembangannya lagi karena ini laporan sudah di bulan Maret 2025 dan korban menerima kekerasan seksual belasan tahun, kita akan dampingi terus sampai pengadilan,&amp;quot; jelas Amriadi.&#13;
&#13;
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Puspadaya Perindo, Sri Agustina Nadeak mengatakan selain pendampingan hukum, korban juga akan diberikan pemulihan psikologis atas tindak pidana yang diterimanya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kita akah berikan pemulihan psikologis, akan kita cek berkala klien yang kita tangani ini secara klinis baik atau tidak,&amp;quot; kata Sri Agustina Nadeak.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Perempuan asal Jakarta Timur berinisial SR (21) menjadi korban pelecehan seksual sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Pelaku merupakan ayah tirinya sendiri yakni EDS (37)&#13;
&#13;
Menurut korban SR, pelaku perbuatan tindakan keji itu dilakukan beberapa kali selama pelaku tinggal bersama korban saat hidup di kawasan Jakarta Timur. Pelaku menurutnya kerap menyentuh dirinya tanpa konsensual.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kekerasan seksual mulai dari menyentuh sampai bagian yang memang tidak boleh disentuh. Dari kelas 6 SD. Terus-terusan, kelas 6 SD, dia perbuat lagi pas saya SMP, terus dia perbuat lagi SMA dan sampai usia 20 tahun,&amp;quot; ujar korban saat ditemui di Polres Metro Jakarta Timur, dikutip, Kamis (2/10/2025).&#13;
&#13;
Namun tidak jarang kekerasan seksual yang diterimanya dilakukan saat korban tengah tertidur. Korban merasa perbuatan itu meninggalkan trauma tersendiri baginya . &amp;quot;Saya seperti takut saja, tidak berani melawan,&amp;quot; lanjut korban.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kekerasan seksual yang diterimanya itu mulai disadari saat dirinya duduk di bangku SMA. Dalam beberapa seminar kekerasan seksual, ia baru menyadari bahwa dirinya menjadi salah satu korban.&#13;
&#13;
&amp;quot;Saya itu pernah seminar waktu SMA, seminar tentang pelecehan seksual dan saya itu langsung &amp;#39;deg&amp;#39; sadar bahwa selama ini saya menjadi korban kekerasan seksual,&amp;quot; jelas dia.&#13;
&#13;
Sayangnya, korban tidak mendapatkan lingkungan yang suportif. Beberapa kali ia mencoba melaporkan kejadian itu namun lingkungannya justru menampik kejadian yang dialaminya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Yang direspon itu malah cuman dibilang mungkin hanya mimpi. Saya juga malah mendapatkan ancaman dari ayah tiri saya (pelaku), saya langsung ditunjuk-tunjuk, dia (pelaku) masang muka marah,&amp;quot; jelas korban.&#13;
&#13;
Hal traumatis ini memuncak pada Januari 2025 lalu, ia mendesak ibunya untuk membantu membuat aduan dan membantu dirinya. Masih juga merasa tidak mendapatkan dukungan, korban akhirnya memilih untuk melarikan diri.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Karena saya sudah muak akhirnya saya memilih melarikan diri dari unit (rusun) saya, saya berteriak-teriak, banyak yang menyaksikan,&amp;quot; ujar SR.&#13;
&#13;
SR akhirnya lebih memilih tinggal bersama lingkungan yang mendukungnya, termasuk seorang pendamping. Ia mendapatkan pemulihan psikologis hingga akhirnya resmi melakukan pelaporan pada Maret 2025 ke Polres Metro Jakarta Timur.&#13;
&#13;
Sayangnya, enam bulan setelah laporan ini dibuat, belum ada perkembangan lebih lanjut terkait perkara ini. Padahal, kata dia, pelaku EDS masih berkeliaran di kawasan Jakarta Timur.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ada beberapa saksi yang mengenal saya, ada yang mengatakan mereka (pelaku) masih berkeliaran di sekitar Jakarta Timur,&amp;quot; ujar SR.&#13;
&#13;
SR juga meminta pendampingan dari organisasi sayap Partai Perindo yaitu Puspadaya Perindo untuk memberikan bantuan hukum. Ia berharap dukungan yang datang dari Puspadaya Perindo ini bisa memberikan keadilan baginya.&#13;
&#13;
Sekretaris Jenderal Puspadaya Perindo, Amriadi Pasaribu menyampaikan perkembangan penanganan kasus ini. Amriadi bersama pimpinan Puspadaya Perindo menagih dan mempertanyakan perkembangan penanganan perkara ini pada Selasa (30/9), sayangnya menurutnya penyidik yang menangani kasus ini tengah lepas dinas.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami akan terus mendesak meminta perkembangannya lagi karena ini laporan sudah di bulan Maret 2025 dan korban menerima kekerasan seksual belasan tahun, kita akan dampingi terus sampai pengadilan,&amp;quot; jelas Amriadi.&#13;
&#13;
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Puspadaya Perindo, Sri Agustina Nadeak mengatakan selain pendampingan hukum, korban juga akan diberikan pemulihan psikologis atas tindak pidana yang diterimanya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kita akah berikan pemulihan psikologis, akan kita cek berkala klien yang kita tangani ini secara klinis baik atau tidak,&amp;quot; kata Sri Agustina Nadeak.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
