<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dinkes Monitor Penyakit Berpotensi Jadi Wabah di Jakarta, Termasuk Covid-19 hingga ISPA</title><description>Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap berbagai penyakit yang berpotensi menjadi wabah, termasuk Covid-19 hingga Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/10/16/338/3177099/dinkes-monitor-penyakit-berpotensi-jadi-wabah-di-jakarta-termasuk-covid-19-hingga-ispa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/10/16/338/3177099/dinkes-monitor-penyakit-berpotensi-jadi-wabah-di-jakarta-termasuk-covid-19-hingga-ispa"/><item><title>Dinkes Monitor Penyakit Berpotensi Jadi Wabah di Jakarta, Termasuk Covid-19 hingga ISPA</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/10/16/338/3177099/dinkes-monitor-penyakit-berpotensi-jadi-wabah-di-jakarta-termasuk-covid-19-hingga-ispa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/10/16/338/3177099/dinkes-monitor-penyakit-berpotensi-jadi-wabah-di-jakarta-termasuk-covid-19-hingga-ispa</guid><pubDate>Kamis 16 Oktober 2025 11:37 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Refi Sandi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/10/16/338/3177099/penyakit_berpotensi_jadi_wabah_di_jakarta-FIGc_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penyakit Berpotensi Jadi Wabah di Jakarta (foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/10/16/338/3177099/penyakit_berpotensi_jadi_wabah_di_jakarta-FIGc_large.jpg</image><title>Penyakit Berpotensi Jadi Wabah di Jakarta (foto: Okezone)</title></images><description>&#13;
&#13;
JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap berbagai penyakit yang berpotensi menjadi wabah, termasuk Covid-19 hingga Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).&#13;
&#13;
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menjelaskan bahwa pihaknya memiliki Sistem Kewaspadaan dan Respons Dini (SKDR) untuk memantau potensi penyebaran penyakit di Ibu Kota.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami pada prinsipnya punya SKDR, Sistem Kewaspadaan dan Respons Dini. Melalui sistem itu, kami melakukan monev terhadap penyakit-penyakit yang berpotensi menimbulkan wabah, termasuk Covid-19, ISPA, dan penyakit lainnya,&amp;rdquo; ujar Ani kepada wartawan di RSUD Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (15/10/2025).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ani menegaskan, kasus ISPA di Jakarta masih dalam kendali dan belum menunjukkan peningkatan signifikan. Menurutnya, lonjakan kasus kecil yang terjadi masih sesuai dengan pola musiman.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sejauh ini untuk kasus ISPA masih sesuai polanya. Ketika cuaca seperti sekarang, biasanya kasus memang sedikit naik, tapi tidak signifikan,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ia menambahkan, seluruh fasilitas kesehatan (faskes) di Jakarta siap memberikan pelayanan untuk deteksi dini penyakit, termasuk 292 puskesmas pembantu (pustu) dan 44 puskesmas yang beroperasi di seluruh wilayah DKI Jakarta.&#13;
&#13;
&amp;quot;Intinya, semua faskes di DKI siap. Puskesmas kecamatan pun sudah buka 24 jam, jadi ketika warga merasakan gejala, silakan segera berobat agar bisa dilakukan deteksi dini terhadap penyakit apa pun,&amp;quot; tambahnya.&#13;
&#13;
Lebih lanjut, Ani belum dapat membeberkan data terbaru terkait sebaran kasus Covid-19 di Jakarta. Namun, ia memastikan bahwa tingkat keparahan kasus saat ini rendah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Covid-19 sekarang sudah masuk fase endemis. Kasus memang masih ada, tapi tingkat keparahannya tidak tinggi. Kebanyakan hanya dirawat jalan,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap berbagai penyakit yang berpotensi menjadi wabah, termasuk Covid-19 hingga Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).&#13;
&#13;
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menjelaskan bahwa pihaknya memiliki Sistem Kewaspadaan dan Respons Dini (SKDR) untuk memantau potensi penyebaran penyakit di Ibu Kota.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami pada prinsipnya punya SKDR, Sistem Kewaspadaan dan Respons Dini. Melalui sistem itu, kami melakukan monev terhadap penyakit-penyakit yang berpotensi menimbulkan wabah, termasuk Covid-19, ISPA, dan penyakit lainnya,&amp;rdquo; ujar Ani kepada wartawan di RSUD Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (15/10/2025).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ani menegaskan, kasus ISPA di Jakarta masih dalam kendali dan belum menunjukkan peningkatan signifikan. Menurutnya, lonjakan kasus kecil yang terjadi masih sesuai dengan pola musiman.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sejauh ini untuk kasus ISPA masih sesuai polanya. Ketika cuaca seperti sekarang, biasanya kasus memang sedikit naik, tapi tidak signifikan,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ia menambahkan, seluruh fasilitas kesehatan (faskes) di Jakarta siap memberikan pelayanan untuk deteksi dini penyakit, termasuk 292 puskesmas pembantu (pustu) dan 44 puskesmas yang beroperasi di seluruh wilayah DKI Jakarta.&#13;
&#13;
&amp;quot;Intinya, semua faskes di DKI siap. Puskesmas kecamatan pun sudah buka 24 jam, jadi ketika warga merasakan gejala, silakan segera berobat agar bisa dilakukan deteksi dini terhadap penyakit apa pun,&amp;quot; tambahnya.&#13;
&#13;
Lebih lanjut, Ani belum dapat membeberkan data terbaru terkait sebaran kasus Covid-19 di Jakarta. Namun, ia memastikan bahwa tingkat keparahan kasus saat ini rendah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Covid-19 sekarang sudah masuk fase endemis. Kasus memang masih ada, tapi tingkat keparahannya tidak tinggi. Kebanyakan hanya dirawat jalan,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
