<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pemprov DKI Gandeng BRIN Atasi Fenomena Hujan Mengandung Mikroplastik</title><description>Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menindaklanjuti temuan fenomena hujan mengandung mikroplastik di wilayah Ibu Kota.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/10/24/338/3178994/pemprov-dki-gandeng-brin-atasi-fenomena-hujan-mengandung-mikroplastik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/10/24/338/3178994/pemprov-dki-gandeng-brin-atasi-fenomena-hujan-mengandung-mikroplastik"/><item><title>Pemprov DKI Gandeng BRIN Atasi Fenomena Hujan Mengandung Mikroplastik</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/10/24/338/3178994/pemprov-dki-gandeng-brin-atasi-fenomena-hujan-mengandung-mikroplastik</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/10/24/338/3178994/pemprov-dki-gandeng-brin-atasi-fenomena-hujan-mengandung-mikroplastik</guid><pubDate>Jum'at 24 Oktober 2025 14:03 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Refi Sandi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/10/24/338/3178994/fenomena_hujan_mengandung_mikroplastik-9wlU_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg"> Fenomena Hujan Mengandung Mikroplastik (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/10/24/338/3178994/fenomena_hujan_mengandung_mikroplastik-9wlU_large.jpg</image><title> Fenomena Hujan Mengandung Mikroplastik (Foto: Okezone)</title></images><description>&#13;
&#13;
JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menindaklanjuti temuan fenomena hujan mengandung mikroplastik di wilayah Ibu Kota.&#13;
&#13;
Partikel mikroplastik tersebut diduga berasal dari berbagai sumber, mulai dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, hingga sisa pembakaran sampah plastik yang dilakukan secara terbuka.&#13;
&#13;
Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengapresiasi hasil riset BRIN tersebut dan menilai temuan itu menjadi peringatan penting bagi pemerintah daerah untuk mengambil langkah antisipatif.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;DLH DKI telah berkolaborasi dengan BRIN dan sejumlah pemangku kepentingan untuk memantau mikroplastik, salah satunya di perairan Teluk Jakarta dan sungai-sungai utama,&amp;rdquo; ujar Asep dalam diskusi di Balai Kota Jakarta, Jumat (24/10/2025).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Perkuat Kebijakan Pengendalian Plastik&#13;
&#13;
Asep menjelaskan, pihaknya terus memperkuat kebijakan pengendalian lingkungan, termasuk pengawasan industri, uji emisi kendaraan, kampanye pengurangan plastik sekali pakai, serta edukasi publik tentang pemilahan sampah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami juga memperkuat penerapan Pergub Nomor 142 Tahun 2019 tentang penggunaan kantong belanja ramah lingkungan,&amp;rdquo; tambahnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
DLH DKI juga akan melanjutkan riset bersama BRIN, perguruan tinggi, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk memantau kualitas air hujan dan meneliti dampak mikroplastik terhadap kesehatan masyarakat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kebijakan pengurangan plastik sekali pakai akan terus diperkuat, sejalan dengan kampanye gaya hidup minim plastik di tingkat rumah tangga dan komunitas,&amp;rdquo; jelas Asep.&#13;
&#13;
Temuan BRIN: Mikroplastik di Air Hujan Jakarta&#13;
&#13;
Profesor riset BRIN, Muhammad Reza Cordova, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menemukan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta dengan konsentrasi rata-rata 3 hingga 40 partikel per meter persegi per hari.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Air hujan yang kita anggap bersih ternyata membawa partikel plastik mikroskopis dari udara. Prosesnya sangat cepat &amp;mdash; kurang dari satu detik partikel bisa larut dalam air hujan,&amp;rdquo; kata Reza.&#13;
&#13;
Ia menjelaskan, sumber mikroplastik di udara berasal dari aktivitas manusia, seperti penggunaan pakaian berbahan sintetis (polyester dan nylon) serta pembakaran sampah terbuka yang melepaskan partikel plastik dan zat berbahaya ke atmosfer.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pembakaran sampah terbuka melepaskan mikroplastik dan zat berbahaya seperti dioksin ke udara, yang kemudian dapat terhirup manusia,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
BMKG: Mikroplastik Bisa Terbawa Angin dan Cuaca&#13;
&#13;
Sementara itu, Fungsional Madya Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG, Dwi Atmoko, menjelaskan bahwa mikroplastik termasuk kategori aerosol, yakni partikel padat atau cair yang tersuspensi di udara.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Partikel aerosol seperti mikroplastik bisa berpindah mengikuti arah angin dan pola cuaca. Ia dapat jatuh ke permukaan melalui deposisi kering maupun terbawa air hujan melalui deposisi basah,&amp;rdquo; terang Atmoko.&#13;
&#13;
Menurutnya, partikel mikroplastik di Jakarta berpotensi berasal dari wilayah lain, begitu pula sebaliknya &amp;mdash; polutan dari Jakarta dapat berpindah ke daerah lain.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Karena itu, penanganan masalah ini harus dilakukan lintas wilayah dan lintas sektor,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menindaklanjuti temuan fenomena hujan mengandung mikroplastik di wilayah Ibu Kota.&#13;
&#13;
Partikel mikroplastik tersebut diduga berasal dari berbagai sumber, mulai dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, hingga sisa pembakaran sampah plastik yang dilakukan secara terbuka.&#13;
&#13;
Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengapresiasi hasil riset BRIN tersebut dan menilai temuan itu menjadi peringatan penting bagi pemerintah daerah untuk mengambil langkah antisipatif.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;DLH DKI telah berkolaborasi dengan BRIN dan sejumlah pemangku kepentingan untuk memantau mikroplastik, salah satunya di perairan Teluk Jakarta dan sungai-sungai utama,&amp;rdquo; ujar Asep dalam diskusi di Balai Kota Jakarta, Jumat (24/10/2025).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Perkuat Kebijakan Pengendalian Plastik&#13;
&#13;
Asep menjelaskan, pihaknya terus memperkuat kebijakan pengendalian lingkungan, termasuk pengawasan industri, uji emisi kendaraan, kampanye pengurangan plastik sekali pakai, serta edukasi publik tentang pemilahan sampah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami juga memperkuat penerapan Pergub Nomor 142 Tahun 2019 tentang penggunaan kantong belanja ramah lingkungan,&amp;rdquo; tambahnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
DLH DKI juga akan melanjutkan riset bersama BRIN, perguruan tinggi, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk memantau kualitas air hujan dan meneliti dampak mikroplastik terhadap kesehatan masyarakat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kebijakan pengurangan plastik sekali pakai akan terus diperkuat, sejalan dengan kampanye gaya hidup minim plastik di tingkat rumah tangga dan komunitas,&amp;rdquo; jelas Asep.&#13;
&#13;
Temuan BRIN: Mikroplastik di Air Hujan Jakarta&#13;
&#13;
Profesor riset BRIN, Muhammad Reza Cordova, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menemukan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta dengan konsentrasi rata-rata 3 hingga 40 partikel per meter persegi per hari.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Air hujan yang kita anggap bersih ternyata membawa partikel plastik mikroskopis dari udara. Prosesnya sangat cepat &amp;mdash; kurang dari satu detik partikel bisa larut dalam air hujan,&amp;rdquo; kata Reza.&#13;
&#13;
Ia menjelaskan, sumber mikroplastik di udara berasal dari aktivitas manusia, seperti penggunaan pakaian berbahan sintetis (polyester dan nylon) serta pembakaran sampah terbuka yang melepaskan partikel plastik dan zat berbahaya ke atmosfer.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pembakaran sampah terbuka melepaskan mikroplastik dan zat berbahaya seperti dioksin ke udara, yang kemudian dapat terhirup manusia,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
BMKG: Mikroplastik Bisa Terbawa Angin dan Cuaca&#13;
&#13;
Sementara itu, Fungsional Madya Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG, Dwi Atmoko, menjelaskan bahwa mikroplastik termasuk kategori aerosol, yakni partikel padat atau cair yang tersuspensi di udara.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Partikel aerosol seperti mikroplastik bisa berpindah mengikuti arah angin dan pola cuaca. Ia dapat jatuh ke permukaan melalui deposisi kering maupun terbawa air hujan melalui deposisi basah,&amp;rdquo; terang Atmoko.&#13;
&#13;
Menurutnya, partikel mikroplastik di Jakarta berpotensi berasal dari wilayah lain, begitu pula sebaliknya &amp;mdash; polutan dari Jakarta dapat berpindah ke daerah lain.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Karena itu, penanganan masalah ini harus dilakukan lintas wilayah dan lintas sektor,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
