<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pratikno: Pesantren Jaga Indonesia Tetap Damai dan Toleran</title><description>Dia menegaskan, dukungan negara terhadap pesantren bukan sekadar bantuan, tetapi tanggung jawab konstitusional.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/11/13/337/3183433/pratikno-pesantren-jaga-indonesia-tetap-damai-dan-toleran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/11/13/337/3183433/pratikno-pesantren-jaga-indonesia-tetap-damai-dan-toleran"/><item><title>Pratikno: Pesantren Jaga Indonesia Tetap Damai dan Toleran</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/11/13/337/3183433/pratikno-pesantren-jaga-indonesia-tetap-damai-dan-toleran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/11/13/337/3183433/pratikno-pesantren-jaga-indonesia-tetap-damai-dan-toleran</guid><pubDate>Kamis 13 November 2025 20:50 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/11/13/337/3183433/pemerintah-V5uJ_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pratikno: Pesantren Jaga Indonesia Tetap Damai dan Toleran</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/11/13/337/3183433/pemerintah-V5uJ_large.jpg</image><title>Pratikno: Pesantren Jaga Indonesia Tetap Damai dan Toleran</title></images><description>JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan bahwa pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren merupakan wujud konkret kehadiran negara dalam memperkuat lembaga yang menjadi &amp;ldquo;detak jantung bangsa&amp;rdquo; itu.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Para kiai, ibu nyai, dan jutaan santri yang memilih jalan ilmu serta pengabdian adalah energi moral bangsa ini,&amp;rdquo;ujar Pratikno dalam Halaqah Penguatan Kelembagaan Pendirian Direktorat Jenderal Pesantren yang digelar di UIN Sunan Ampel Surabaya, Kamis (13/11/2025).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dari pesantren lahir semangat hubbul wathon minal iman (cinta tanah air bagian dari iman) yang menjaga Indonesia tetap damai dan toleran,&amp;rdquo; sambungnya.&#13;
&#13;
Pratikno memaparkan data Kementerian Agama menunjukkan terdapat lebih dari 42 ribu pesantren dengan 12,5 juta santri di seluruh Indonesia.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurutnya, angka itu bukan sekadar statistik, namun potensi sosial luar biasa untuk memperkokoh persatuan nasional. Dia juga mengingatkan bahwa masih banyak pesantren berjuang dengan keterbatasan infrastruktur, sanitasi, dan gizi santri.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Tragedi ambruknya bangunan pesantren adalah alarm keras bagi kita semua. Menjaga jiwa adalah maqashid syariah yang utama,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Dalam kesempatan itu, Pratikno menyoroti pentingnya pembaruan kurikulum pesantren agar mampu menjawab tantangan zaman.&#13;
&#13;
Menurut Pratikno, santri harus dibekali kemampuan vokasional, literasi digital, dan jiwa kewirausahaan. &amp;ldquo;Santri harus punya kail, bukan hanya ikan,&amp;rdquo; tandasnya.&#13;
&#13;
Rais &amp;lsquo;Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar, menilai, dalam sejarahnya pesantren telah memainkan peran strategis menjaga keseimbangan sosial.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&amp;ldquo;Santri adalah penjaga nurani bangsa, taat kepada pemerintah selama tidak diperintahkan kepada kemaksiatan, sekaligus kritis dalam kebenaran,&amp;rdquo;pungkasnya.&#13;
&#13;
Sementara itu, Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz, mengaitkan eksistensi pesantren dengan tradisi keilmuan Islam sejak masa Rasulullah&amp;nbsp; Shallallahu Alaihi Wasallam.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Tradisi itu bertransformasi menjadi sistem pendidikan khas Nusantara yang menumbuhkan santri berilmu, beretika, dan beramal saleh,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Di tempat yang sama, Direktur Pesantren, Basnang Said, menambahkan, &amp;nbsp;kehadiran negara bagi pesantren kini semakin nyata. Ia mengumumkan rencana pembangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny dengan pendanaan dari APBN sebagai simbol kuat dukungan negara.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Insya Allah, dalam waktu dekat akan dilakukan groundbreaking Pondok Pesantren Al-Khoziny yang pendanaannya bersumber dari APBN,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Dia menegaskan, dukungan negara terhadap pesantren bukan sekadar bantuan, tetapi tanggung jawab konstitusional.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kiai dan Nyai datang bukan untuk meminta, tapi untuk mengambil haknya pesantren. Negara wajib hadir untuk itu,&amp;rdquo; tegasnya mengutip pesan KH Ma&amp;rsquo;ruf Amin.&#13;
&#13;
Diungkapkannya, fondasi pengakuan negara terhadap pesantren telah diletakkan oleh Presiden ke-4 RI KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang membuka jalan kesetaraan pendidikan melalui program Paket A, B, dan C di bawah Menteri Agama KH Tholhah Hasan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dari sana, santri memperoleh pengakuan formal yang membuka ruang pengabdian lebih luas,&amp;rdquo; tuturnya.&#13;
&#13;
Menurutnya, berbagai kebijakan seperti penetapan Hari Santri, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, hingga Peraturan Menteri Agama tentang Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) menjadi tonggak kuat pengakuan negara.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Negara tidak mengintervensi, tapi merekognisi. Segala praktik pendidikan di pesantren adalah kekayaan bangsa yang harus dijaga,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan bahwa pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren merupakan wujud konkret kehadiran negara dalam memperkuat lembaga yang menjadi &amp;ldquo;detak jantung bangsa&amp;rdquo; itu.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Para kiai, ibu nyai, dan jutaan santri yang memilih jalan ilmu serta pengabdian adalah energi moral bangsa ini,&amp;rdquo;ujar Pratikno dalam Halaqah Penguatan Kelembagaan Pendirian Direktorat Jenderal Pesantren yang digelar di UIN Sunan Ampel Surabaya, Kamis (13/11/2025).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dari pesantren lahir semangat hubbul wathon minal iman (cinta tanah air bagian dari iman) yang menjaga Indonesia tetap damai dan toleran,&amp;rdquo; sambungnya.&#13;
&#13;
Pratikno memaparkan data Kementerian Agama menunjukkan terdapat lebih dari 42 ribu pesantren dengan 12,5 juta santri di seluruh Indonesia.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurutnya, angka itu bukan sekadar statistik, namun potensi sosial luar biasa untuk memperkokoh persatuan nasional. Dia juga mengingatkan bahwa masih banyak pesantren berjuang dengan keterbatasan infrastruktur, sanitasi, dan gizi santri.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Tragedi ambruknya bangunan pesantren adalah alarm keras bagi kita semua. Menjaga jiwa adalah maqashid syariah yang utama,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Dalam kesempatan itu, Pratikno menyoroti pentingnya pembaruan kurikulum pesantren agar mampu menjawab tantangan zaman.&#13;
&#13;
Menurut Pratikno, santri harus dibekali kemampuan vokasional, literasi digital, dan jiwa kewirausahaan. &amp;ldquo;Santri harus punya kail, bukan hanya ikan,&amp;rdquo; tandasnya.&#13;
&#13;
Rais &amp;lsquo;Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar, menilai, dalam sejarahnya pesantren telah memainkan peran strategis menjaga keseimbangan sosial.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&amp;ldquo;Santri adalah penjaga nurani bangsa, taat kepada pemerintah selama tidak diperintahkan kepada kemaksiatan, sekaligus kritis dalam kebenaran,&amp;rdquo;pungkasnya.&#13;
&#13;
Sementara itu, Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz, mengaitkan eksistensi pesantren dengan tradisi keilmuan Islam sejak masa Rasulullah&amp;nbsp; Shallallahu Alaihi Wasallam.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Tradisi itu bertransformasi menjadi sistem pendidikan khas Nusantara yang menumbuhkan santri berilmu, beretika, dan beramal saleh,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Di tempat yang sama, Direktur Pesantren, Basnang Said, menambahkan, &amp;nbsp;kehadiran negara bagi pesantren kini semakin nyata. Ia mengumumkan rencana pembangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny dengan pendanaan dari APBN sebagai simbol kuat dukungan negara.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Insya Allah, dalam waktu dekat akan dilakukan groundbreaking Pondok Pesantren Al-Khoziny yang pendanaannya bersumber dari APBN,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Dia menegaskan, dukungan negara terhadap pesantren bukan sekadar bantuan, tetapi tanggung jawab konstitusional.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kiai dan Nyai datang bukan untuk meminta, tapi untuk mengambil haknya pesantren. Negara wajib hadir untuk itu,&amp;rdquo; tegasnya mengutip pesan KH Ma&amp;rsquo;ruf Amin.&#13;
&#13;
Diungkapkannya, fondasi pengakuan negara terhadap pesantren telah diletakkan oleh Presiden ke-4 RI KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang membuka jalan kesetaraan pendidikan melalui program Paket A, B, dan C di bawah Menteri Agama KH Tholhah Hasan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dari sana, santri memperoleh pengakuan formal yang membuka ruang pengabdian lebih luas,&amp;rdquo; tuturnya.&#13;
&#13;
Menurutnya, berbagai kebijakan seperti penetapan Hari Santri, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, hingga Peraturan Menteri Agama tentang Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) menjadi tonggak kuat pengakuan negara.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Negara tidak mengintervensi, tapi merekognisi. Segala praktik pendidikan di pesantren adalah kekayaan bangsa yang harus dijaga,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
