<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menag: Kajian Ontologi Pendidikan sebagai Rumusan Arah Baru Pesantren</title><description>Nasaruddin menyebut, Ditjen Pesantren sebagai ?? cek kosong” yang memerlukan pengisian matang agar tidak melahirkan kebijakan prematur.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/11/22/337/3185198/menag-kajian-ontologi-pendidikan-sebagai-rumusan-arah-baru-pesantren</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/11/22/337/3185198/menag-kajian-ontologi-pendidikan-sebagai-rumusan-arah-baru-pesantren"/><item><title>Menag: Kajian Ontologi Pendidikan sebagai Rumusan Arah Baru Pesantren</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/11/22/337/3185198/menag-kajian-ontologi-pendidikan-sebagai-rumusan-arah-baru-pesantren</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/11/22/337/3185198/menag-kajian-ontologi-pendidikan-sebagai-rumusan-arah-baru-pesantren</guid><pubDate>Sabtu 22 November 2025 17:09 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/11/22/337/3185198/pemerintah-MZBq_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menag: Kajian Ontologi Pendidikan sebagai Rumusan Arah Baru Pesantren</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/11/22/337/3185198/pemerintah-MZBq_large.jpg</image><title>Menag: Kajian Ontologi Pendidikan sebagai Rumusan Arah Baru Pesantren</title></images><description>JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan, perlunya perumusan yang komprehensif sebelum Direktorat Jenderal Pesantren resmi berjalan sebagai satuan kerja Eselon I di Kemenag. &amp;nbsp;Fondasi konseptual lembaga baru ini harus dibangun melalui kajian ontologis tiga arus besar pendidikan, yaitu sekuler, pendidikan Islam, dan pendidikan pesantren.&#13;
&#13;
Nasaruddin menyebut, Ditjen Pesantren sebagai &amp;ldquo;cek kosong&amp;rdquo; yang memerlukan pengisian matang agar tidak melahirkan kebijakan prematur.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Road map pesantren dan pendidikan Islam harus jelas. Jangan sampai jalannya sama, tetapi memakai nama berbeda,&amp;rdquo; ujar Menag Nasaruddin di Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dikutip, Sabtu (23/11/2025),&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Nasaruddin berharap, forum halaqah ini melahirkan gagasan yang solid untuk menentukan arah masa depan pesantren.&#13;
&#13;
&amp;lsquo;&amp;rsquo;Sekaligus mengintegrasikan keragaman pandangan yang saat ini berkembang dalam dunia pendidikan,&amp;rsquo;&amp;rsquo;pungkasnya.&#13;
&#13;
Sementara itu, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rosihon Anwar, menambahkan bahwa kampus terus menguatkan ekosistem pesantren melalui berbagai program, termasuk Ma&amp;rsquo;had Al-Jamiah.&#13;
&#13;
&amp;lsquo;&amp;rsquo;Halaqah menjadi ruang konsolidasi nasional untuk menenun masa depan pesantren sekaligus menjaga ketahanan tradisi keilmuan di tengah dinamika zaman,&amp;rsquo;&amp;rsquo;terangnya.&#13;
&#13;
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Arskal Salim, menambahkan bahwa halaqah ini menjadi ruang terbuka bagi para kyai, ajengan, pengelola pesantren, alumni pesantren, akademisi, dan pemerintah untuk menyampaikan pandangan dan masukan berharga.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Halaqah ini memberikan ruang bagi kita semua untuk memberikan masukan-masukan yang berharga bagi kemajuan pesantren. Sehingga menghadirkan gagasan yang lebih konkret dan inovatif tentang bagaimana membentuk arah penguatan pesantren,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Di tempat yang sama, Ketua PBNU, KH Said Aqil Siradj, menegaskan bahwa penguatan pesantren tidak boleh hanya berhenti pada aspek administratif, tetapi harus berdiri di atas bangunan epistemologi yang kokoh.&#13;
&#13;
Menurutnya, pemahaman agama perlu berlandaskan tiga pendekatan klasik yang telah menjadi tradisi besar dalam keilmuan Islam yaitu Bayan (pendekatan tekstual berbasis wahyu dan hadis); Burhan (pendekatan rasional yang menguatkan teks melalui logika dan penalaran) dan Irfan (pendekatan spiritual yang memberikan kedalaman makna melalui pengalaman batin).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Tiga epistemologi ini tidak boleh berjalan sendiri. Teks tanpa nalar tidak cukup, dan nalar tanpa kedalaman spiritual juga tidak memadai,&amp;rdquo; ujar Said Aqil.&#13;
&#13;
&amp;lsquo;&amp;rsquo;Integrasi ketiganya dipandang sangat relevan untuk membentuk santri yang kuat secara intelektual, matang secara spiritual, dan terampil membaca realitas,&amp;rsquo;&amp;rsquo;pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan, perlunya perumusan yang komprehensif sebelum Direktorat Jenderal Pesantren resmi berjalan sebagai satuan kerja Eselon I di Kemenag. &amp;nbsp;Fondasi konseptual lembaga baru ini harus dibangun melalui kajian ontologis tiga arus besar pendidikan, yaitu sekuler, pendidikan Islam, dan pendidikan pesantren.&#13;
&#13;
Nasaruddin menyebut, Ditjen Pesantren sebagai &amp;ldquo;cek kosong&amp;rdquo; yang memerlukan pengisian matang agar tidak melahirkan kebijakan prematur.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Road map pesantren dan pendidikan Islam harus jelas. Jangan sampai jalannya sama, tetapi memakai nama berbeda,&amp;rdquo; ujar Menag Nasaruddin di Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dikutip, Sabtu (23/11/2025),&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Nasaruddin berharap, forum halaqah ini melahirkan gagasan yang solid untuk menentukan arah masa depan pesantren.&#13;
&#13;
&amp;lsquo;&amp;rsquo;Sekaligus mengintegrasikan keragaman pandangan yang saat ini berkembang dalam dunia pendidikan,&amp;rsquo;&amp;rsquo;pungkasnya.&#13;
&#13;
Sementara itu, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rosihon Anwar, menambahkan bahwa kampus terus menguatkan ekosistem pesantren melalui berbagai program, termasuk Ma&amp;rsquo;had Al-Jamiah.&#13;
&#13;
&amp;lsquo;&amp;rsquo;Halaqah menjadi ruang konsolidasi nasional untuk menenun masa depan pesantren sekaligus menjaga ketahanan tradisi keilmuan di tengah dinamika zaman,&amp;rsquo;&amp;rsquo;terangnya.&#13;
&#13;
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Arskal Salim, menambahkan bahwa halaqah ini menjadi ruang terbuka bagi para kyai, ajengan, pengelola pesantren, alumni pesantren, akademisi, dan pemerintah untuk menyampaikan pandangan dan masukan berharga.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Halaqah ini memberikan ruang bagi kita semua untuk memberikan masukan-masukan yang berharga bagi kemajuan pesantren. Sehingga menghadirkan gagasan yang lebih konkret dan inovatif tentang bagaimana membentuk arah penguatan pesantren,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Di tempat yang sama, Ketua PBNU, KH Said Aqil Siradj, menegaskan bahwa penguatan pesantren tidak boleh hanya berhenti pada aspek administratif, tetapi harus berdiri di atas bangunan epistemologi yang kokoh.&#13;
&#13;
Menurutnya, pemahaman agama perlu berlandaskan tiga pendekatan klasik yang telah menjadi tradisi besar dalam keilmuan Islam yaitu Bayan (pendekatan tekstual berbasis wahyu dan hadis); Burhan (pendekatan rasional yang menguatkan teks melalui logika dan penalaran) dan Irfan (pendekatan spiritual yang memberikan kedalaman makna melalui pengalaman batin).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Tiga epistemologi ini tidak boleh berjalan sendiri. Teks tanpa nalar tidak cukup, dan nalar tanpa kedalaman spiritual juga tidak memadai,&amp;rdquo; ujar Said Aqil.&#13;
&#13;
&amp;lsquo;&amp;rsquo;Integrasi ketiganya dipandang sangat relevan untuk membentuk santri yang kuat secara intelektual, matang secara spiritual, dan terampil membaca realitas,&amp;rsquo;&amp;rsquo;pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
