<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sempat Terpinggirkan saat Zaman Kolonial, Pemerintah Dorong Era Baru Transformasi Pesantren</title><description>Ia mengingatkan, bahwa perjalanan panjang pesantren juga mencatat masa ketika lembaga ini terpinggirkan oleh modernisasi kolonial.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/11/27/337/3186345/sempat-terpinggirkan-saat-zaman-kolonial-pemerintah-dorong-era-baru-transformasi-pesantren</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/11/27/337/3186345/sempat-terpinggirkan-saat-zaman-kolonial-pemerintah-dorong-era-baru-transformasi-pesantren"/><item><title>Sempat Terpinggirkan saat Zaman Kolonial, Pemerintah Dorong Era Baru Transformasi Pesantren</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/11/27/337/3186345/sempat-terpinggirkan-saat-zaman-kolonial-pemerintah-dorong-era-baru-transformasi-pesantren</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/11/27/337/3186345/sempat-terpinggirkan-saat-zaman-kolonial-pemerintah-dorong-era-baru-transformasi-pesantren</guid><pubDate>Kamis 27 November 2025 19:42 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/11/27/337/3186345/pemerintah-Bio8_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sempat Terpinggirkan saat Zaman Kolonial, Pemerintah Dorong Era Baru Transformasi Pesantren</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/11/27/337/3186345/pemerintah-Bio8_large.jpg</image><title>Sempat Terpinggirkan saat Zaman Kolonial, Pemerintah Dorong Era Baru Transformasi Pesantren</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash;Pemerintah menegaskan pentingnya transformasi tata kelola pesantren sebagai agenda strategis nasional. Pasalnya, pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Nusantara.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pesantren sudah ada sejak abad ke-14, jauh sebelum Belanda datang dengan sistem sekolah modern,&amp;rdquo; ujar Direktur Pesantren, Basnang Said, dalam Halaqah Penguatan Kelembagaan Pendirian Direktorat Jenderal Pesantren, dikutip, Kamis (27/11/2025).&#13;
&#13;
Ia mengingatkan bahwa perjalanan panjang pesantren juga mencatat masa ketika lembaga ini terpinggirkan oleh modernisasi kolonial.&#13;
&#13;
Momentum kebangkitan kembali diperkuat melalui Program PBSB era Menteri Agama M. Maftuh Basyuni yang mendorong santri tampil sebagai lulusan terbaik di berbagai perguruan tinggi ternama.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Basnang menyoroti evolusi pengakuan negara terhadap pesantren, mulai dari program kesetaraan pada masa Presiden Gus Dur, penetapan Hari Santri oleh Presiden Joko Widodo, hingga lahirnya UU No. 18/2019 tentang Pesantren.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Undang-undang itu menguatkan martabat pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Dia juga menyoroti tantangan baru yang muncul, terutama hilangnya kajian kitab-kitab klasik seperti balaghah, mantik, dan arudh pada beberapa pesantren yang terintegrasi dengan pendidikan formal. Kemenag, katanya, telah menyiapkan langkah sistematis untuk mengembalikan kekuatan tradisi keilmuan pesantren.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pesantren harus tetap kokoh pada tradisi, tetapi tidak boleh berjalan mundur dari zaman. Inilah saatnya pesantren menjadi pusat lahirnya pemimpin bangsa yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing,&amp;rdquo;pungkasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Pimpinan PPTQ Halaqah Hafizhah Hamzah Harun Ar-Rasyid, menambahkan, bahwa pendidikan pesantren berakar pada pembentukan karakter yang berkesadaran spiritual.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Santri harus merasa selalu dalam pengawasan Allah. Jika itu tertanam, maka seorang santri tidak akan mungkin berkhianat, meskipun nanti ia menjadi rektor atau menteri,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Ketua Tanfidziyah PWNU Sulawesi Selatan ini menguraikan enam pilar pendidikan menurut Imam Syafi&amp;rsquo;I kecerdasan, semangat, kesungguhan, kecukupan ekonomi, kedekatan dengan guru, dan ketekunan waktu, namun menegaskan bahwa kebutuhan zaman menuntut lebih.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pesantren harus masuk ke dunia digital, memperkuat ekonomi, dan membangun jejaring global,&amp;rdquo; tandasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash;Pemerintah menegaskan pentingnya transformasi tata kelola pesantren sebagai agenda strategis nasional. Pasalnya, pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Nusantara.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pesantren sudah ada sejak abad ke-14, jauh sebelum Belanda datang dengan sistem sekolah modern,&amp;rdquo; ujar Direktur Pesantren, Basnang Said, dalam Halaqah Penguatan Kelembagaan Pendirian Direktorat Jenderal Pesantren, dikutip, Kamis (27/11/2025).&#13;
&#13;
Ia mengingatkan bahwa perjalanan panjang pesantren juga mencatat masa ketika lembaga ini terpinggirkan oleh modernisasi kolonial.&#13;
&#13;
Momentum kebangkitan kembali diperkuat melalui Program PBSB era Menteri Agama M. Maftuh Basyuni yang mendorong santri tampil sebagai lulusan terbaik di berbagai perguruan tinggi ternama.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Basnang menyoroti evolusi pengakuan negara terhadap pesantren, mulai dari program kesetaraan pada masa Presiden Gus Dur, penetapan Hari Santri oleh Presiden Joko Widodo, hingga lahirnya UU No. 18/2019 tentang Pesantren.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Undang-undang itu menguatkan martabat pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Dia juga menyoroti tantangan baru yang muncul, terutama hilangnya kajian kitab-kitab klasik seperti balaghah, mantik, dan arudh pada beberapa pesantren yang terintegrasi dengan pendidikan formal. Kemenag, katanya, telah menyiapkan langkah sistematis untuk mengembalikan kekuatan tradisi keilmuan pesantren.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pesantren harus tetap kokoh pada tradisi, tetapi tidak boleh berjalan mundur dari zaman. Inilah saatnya pesantren menjadi pusat lahirnya pemimpin bangsa yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing,&amp;rdquo;pungkasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Pimpinan PPTQ Halaqah Hafizhah Hamzah Harun Ar-Rasyid, menambahkan, bahwa pendidikan pesantren berakar pada pembentukan karakter yang berkesadaran spiritual.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Santri harus merasa selalu dalam pengawasan Allah. Jika itu tertanam, maka seorang santri tidak akan mungkin berkhianat, meskipun nanti ia menjadi rektor atau menteri,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Ketua Tanfidziyah PWNU Sulawesi Selatan ini menguraikan enam pilar pendidikan menurut Imam Syafi&amp;rsquo;I kecerdasan, semangat, kesungguhan, kecukupan ekonomi, kedekatan dengan guru, dan ketekunan waktu, namun menegaskan bahwa kebutuhan zaman menuntut lebih.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pesantren harus masuk ke dunia digital, memperkuat ekonomi, dan membangun jejaring global,&amp;rdquo; tandasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
