<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menag Nasaruddin Dorong Kurikulum Berbasis Cinta sebagai Landasan Pendidikan Islam</title><description>Menurutnya, kurikulum pendidikan Islam ke depan harus mengarah pada lima transformasi utama.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2025/12/30/337/3192711/menag-nasaruddin-dorong-kurikulum-berbasis-cinta-sebagai-landasan-pendidikan-islam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2025/12/30/337/3192711/menag-nasaruddin-dorong-kurikulum-berbasis-cinta-sebagai-landasan-pendidikan-islam"/><item><title>Menag Nasaruddin Dorong Kurikulum Berbasis Cinta sebagai Landasan Pendidikan Islam</title><link>https://news.okezone.com/read/2025/12/30/337/3192711/menag-nasaruddin-dorong-kurikulum-berbasis-cinta-sebagai-landasan-pendidikan-islam</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2025/12/30/337/3192711/menag-nasaruddin-dorong-kurikulum-berbasis-cinta-sebagai-landasan-pendidikan-islam</guid><pubDate>Selasa 30 Desember 2025 20:49 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/12/30/337/3192711/pemerintah-9vdj_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Agama Nasaruddin Umar</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/12/30/337/3192711/pemerintah-9vdj_large.jpg</image><title>Menteri Agama Nasaruddin Umar</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Kementerian Agama mendorong penerapan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai landasan pendidikan Islam di masa depan. Pasalnya, kurikulum bukan sekadar perangkat akademik, namun instrumen strategis pembentuk peradaban.&#13;
&#13;
Demikian disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam Review and Design on Islamic Education Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Tahun 2025 di Jakarta, Selasa (30/12/2025).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Umat seperti apa yang akan lahir di masa depan sangat ditentukan oleh kurikulum yang kita rancang hari ini,&amp;rdquo; ujar Nasaruddin.&#13;
&#13;
Menurutnya, kurikulum pendidikan Islam ke depan harus mengarah pada lima transformasi utama. Pertama, pergeseran dari teologi yang bersifat maskulin dan konfrontatif menuju teologi yang nurturing, merawat, dan penuh kasih.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;lsquo;&amp;rsquo;Kedua, transformasi dari orientasi formalitas hukum menuju orientasi nilai dan substansi. Keberagamaan yang terlalu formal berisiko kehilangan dimensi cinta dan empati sosial,&amp;rsquo;&amp;rsquo;ujarnya.&#13;
&#13;
Sementara yang ketiga, perubahan paradigma dari antroposentrisme menuju ekoteologi, yakni kesadaran bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam, bukan sebagai penguasa yang eksploitatif.&#13;
&#13;
&amp;lsquo;&amp;rsquo;Keempat, transformasi pola pikir dari atomistik menuju holistik, agar pendidikan mampu melahirkan peserta didik yang melihat keterhubungan antar realitas, bukan terjebak pada fragmentasi,&amp;rsquo;&amp;rsquo;ujarnya.&#13;
&#13;
Sedangkan yang kelima, pergeseran dari religiousness menuju religious mindedness, yakni menjadikan agama sebagai kompas moral yang membebaskan dan mendorong kreativitas, bukan sebagai batasan yang mengekang.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pendidikan tanpa cinta kehilangan ruhnya. Agama seharusnya membebaskan manusia untuk berkreasi dan berkontribusi bagi peradaban,&amp;rdquo;ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Nasaruddin juga menekankan pentingnya kontribusi Kementerian Agama dalam merumuskan konsep pendidikan Pancasila yang berakar pada Ketuhanan Yang Maha Esa.&#13;
&#13;
Oleh karena itu, dia menolak dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum, seraya mencontohkan kejayaan Baitul Hikmah pada masa peradaban Islam klasik.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pendidikan umum harus memiliki fondasi nilai keagamaan, sehingga tidak melahirkan manusia sekuler, tetapi tetap profesional dan berintegritas,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Dia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja secara konseptual dan kontekstual dalam menyempurnakan kurikulum pendidikan Islam.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kurikulum cinta adalah proses berkelanjutan untuk melahirkan insan kamil yang beriman, berilmu, dan berkeadaban,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Kementerian Agama mendorong penerapan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai landasan pendidikan Islam di masa depan. Pasalnya, kurikulum bukan sekadar perangkat akademik, namun instrumen strategis pembentuk peradaban.&#13;
&#13;
Demikian disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam Review and Design on Islamic Education Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Tahun 2025 di Jakarta, Selasa (30/12/2025).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Umat seperti apa yang akan lahir di masa depan sangat ditentukan oleh kurikulum yang kita rancang hari ini,&amp;rdquo; ujar Nasaruddin.&#13;
&#13;
Menurutnya, kurikulum pendidikan Islam ke depan harus mengarah pada lima transformasi utama. Pertama, pergeseran dari teologi yang bersifat maskulin dan konfrontatif menuju teologi yang nurturing, merawat, dan penuh kasih.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;lsquo;&amp;rsquo;Kedua, transformasi dari orientasi formalitas hukum menuju orientasi nilai dan substansi. Keberagamaan yang terlalu formal berisiko kehilangan dimensi cinta dan empati sosial,&amp;rsquo;&amp;rsquo;ujarnya.&#13;
&#13;
Sementara yang ketiga, perubahan paradigma dari antroposentrisme menuju ekoteologi, yakni kesadaran bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam, bukan sebagai penguasa yang eksploitatif.&#13;
&#13;
&amp;lsquo;&amp;rsquo;Keempat, transformasi pola pikir dari atomistik menuju holistik, agar pendidikan mampu melahirkan peserta didik yang melihat keterhubungan antar realitas, bukan terjebak pada fragmentasi,&amp;rsquo;&amp;rsquo;ujarnya.&#13;
&#13;
Sedangkan yang kelima, pergeseran dari religiousness menuju religious mindedness, yakni menjadikan agama sebagai kompas moral yang membebaskan dan mendorong kreativitas, bukan sebagai batasan yang mengekang.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pendidikan tanpa cinta kehilangan ruhnya. Agama seharusnya membebaskan manusia untuk berkreasi dan berkontribusi bagi peradaban,&amp;rdquo;ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Nasaruddin juga menekankan pentingnya kontribusi Kementerian Agama dalam merumuskan konsep pendidikan Pancasila yang berakar pada Ketuhanan Yang Maha Esa.&#13;
&#13;
Oleh karena itu, dia menolak dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum, seraya mencontohkan kejayaan Baitul Hikmah pada masa peradaban Islam klasik.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pendidikan umum harus memiliki fondasi nilai keagamaan, sehingga tidak melahirkan manusia sekuler, tetapi tetap profesional dan berintegritas,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Dia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja secara konseptual dan kontekstual dalam menyempurnakan kurikulum pendidikan Islam.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kurikulum cinta adalah proses berkelanjutan untuk melahirkan insan kamil yang beriman, berilmu, dan berkeadaban,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
