<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Farhat Abbas Nilai Isu Ijazah Jokowi Bermuatan Politik dan Motif Ekonomi</title><description>Praktisi hukum, Farhat Abbas menilai, isu dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) sarat muatan politis dan digulirkan karena adanya motif ekonomi.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/01/30/337/3198417/farhat-abbas-nilai-isu-ijazah-jokowi-bermuatan-politik-dan-motif-ekonomi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/01/30/337/3198417/farhat-abbas-nilai-isu-ijazah-jokowi-bermuatan-politik-dan-motif-ekonomi"/><item><title>Farhat Abbas Nilai Isu Ijazah Jokowi Bermuatan Politik dan Motif Ekonomi</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/01/30/337/3198417/farhat-abbas-nilai-isu-ijazah-jokowi-bermuatan-politik-dan-motif-ekonomi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/01/30/337/3198417/farhat-abbas-nilai-isu-ijazah-jokowi-bermuatan-politik-dan-motif-ekonomi</guid><pubDate>Jum'at 30 Januari 2026 02:10 WIB</pubDate><dc:creator>Achmad Al Fiqri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/01/30/337/3198417/farhat_abbas-Gr1l_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Farhat Abbas (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/01/30/337/3198417/farhat_abbas-Gr1l_large.jpg</image><title>Farhat Abbas (Foto: Okezone)</title></images><description>&#13;
&#13;
JAKARTA &amp;ndash; Praktisi hukum, Farhat Abbas menilai, isu dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) sarat muatan politis dan digulirkan karena adanya motif ekonomi.&#13;
&#13;
Hal tersebut disampaikan Farhat dalam program Interupsi bertajuk &amp;ldquo;Pecah Kongsi, Eggi&amp;ndash;Damai Lapor Polisi&amp;rdquo; yang disiarkan iNews TV, Kamis (29/1/2026).&#13;
&#13;
Farhat mencontohkan penyelesaian secara restorative justice, dalam gugatan perdata terkait ijazah Jokowi yang diajukan eks Wakil Menteri Desa, Paiman Raharjo, terhadap Bambang Suryadi Bitor dan Hermanto.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pada perkara gugatan perdata Profesor Paiman, itu kita sudah damai. Bahkan mereka meminta maaf dan menyatakan bahwa tuduhan ijazah dicetak di Pasar Pramuka itu tidak benar,&amp;quot; ujar Farhat.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ia menambahkan, Roy Suryo sempat tidak hadir dalam forum mediasi gugatan tersebut. Padahal, menurut Farhat, forum itu seharusnya menjadi kesempatan untuk melihat langsung ijazah Jokowi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau waktu itu mereka hadir di sidang, tamat permainan ini. Ini kan menyangkut politik. Ada agenda politik di sini,&amp;rdquo; ucapnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Farhat pun meyakini bahwa isu ijazah Jokowi bukan murni persoalan hukum, melainkan bagian dari skenario politis yang dimainkan pihak tertentu.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mereka ini menurut saya hanya boneka-boneka, topeng-topeng yang seolah-olah idealis membela rakyat. Padahal rakyat yang mana yang dibela?&amp;rdquo; tambah Farhat.&#13;
&#13;
Lebih lanjut, Farhat menilai isu tersebut juga kuat bermuatan motif ekonomi. Ia menyoroti tindakan sejumlah pihak yang dinilainya sudah melampaui batas, bahkan menyeret keluarga Presiden Jokowi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Makanya saya menilai ini terjadi karena motif ekonomi. Kenapa mereka berani menyerang sampai ke anak Pak Jokowi, bahkan sampai ke makam ibunya. Mereka pura-pura nyekar, tapi sebenarnya mengejek,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Farhat pun mempertanyakan etika dan tanggung jawab profesi sebagai praktisi hukum atas tindakan tersebut.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sebagai lawyer, kok bisa seperti ini? Jangan-jangan mereka ini dibayar lebih mahal lagi,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
JAKARTA &amp;ndash; Praktisi hukum, Farhat Abbas menilai, isu dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) sarat muatan politis dan digulirkan karena adanya motif ekonomi.&#13;
&#13;
Hal tersebut disampaikan Farhat dalam program Interupsi bertajuk &amp;ldquo;Pecah Kongsi, Eggi&amp;ndash;Damai Lapor Polisi&amp;rdquo; yang disiarkan iNews TV, Kamis (29/1/2026).&#13;
&#13;
Farhat mencontohkan penyelesaian secara restorative justice, dalam gugatan perdata terkait ijazah Jokowi yang diajukan eks Wakil Menteri Desa, Paiman Raharjo, terhadap Bambang Suryadi Bitor dan Hermanto.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pada perkara gugatan perdata Profesor Paiman, itu kita sudah damai. Bahkan mereka meminta maaf dan menyatakan bahwa tuduhan ijazah dicetak di Pasar Pramuka itu tidak benar,&amp;quot; ujar Farhat.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ia menambahkan, Roy Suryo sempat tidak hadir dalam forum mediasi gugatan tersebut. Padahal, menurut Farhat, forum itu seharusnya menjadi kesempatan untuk melihat langsung ijazah Jokowi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau waktu itu mereka hadir di sidang, tamat permainan ini. Ini kan menyangkut politik. Ada agenda politik di sini,&amp;rdquo; ucapnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Farhat pun meyakini bahwa isu ijazah Jokowi bukan murni persoalan hukum, melainkan bagian dari skenario politis yang dimainkan pihak tertentu.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mereka ini menurut saya hanya boneka-boneka, topeng-topeng yang seolah-olah idealis membela rakyat. Padahal rakyat yang mana yang dibela?&amp;rdquo; tambah Farhat.&#13;
&#13;
Lebih lanjut, Farhat menilai isu tersebut juga kuat bermuatan motif ekonomi. Ia menyoroti tindakan sejumlah pihak yang dinilainya sudah melampaui batas, bahkan menyeret keluarga Presiden Jokowi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Makanya saya menilai ini terjadi karena motif ekonomi. Kenapa mereka berani menyerang sampai ke anak Pak Jokowi, bahkan sampai ke makam ibunya. Mereka pura-pura nyekar, tapi sebenarnya mengejek,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Farhat pun mempertanyakan etika dan tanggung jawab profesi sebagai praktisi hukum atas tindakan tersebut.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sebagai lawyer, kok bisa seperti ini? Jangan-jangan mereka ini dibayar lebih mahal lagi,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
