<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Buntut Pernyataan Impor Perawan Vietnam, Gubernur di Korsel Dipecat dari Partai</title><description>Pernyataan Kim Hee-soo memicu kemarahan di kalangan publik Korea Selatan. &#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/02/11/18/3201042/buntut-pernyataan-impor-perawan-vietnam-gubernur-di-korsel-dipecat-dari-partai</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/02/11/18/3201042/buntut-pernyataan-impor-perawan-vietnam-gubernur-di-korsel-dipecat-dari-partai"/><item><title>Buntut Pernyataan Impor Perawan Vietnam, Gubernur di Korsel Dipecat dari Partai</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/02/11/18/3201042/buntut-pernyataan-impor-perawan-vietnam-gubernur-di-korsel-dipecat-dari-partai</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/02/11/18/3201042/buntut-pernyataan-impor-perawan-vietnam-gubernur-di-korsel-dipecat-dari-partai</guid><pubDate>Rabu 11 Februari 2026 17:22 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/02/11/18/3201042/ilustrasi-gokC_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/02/11/18/3201042/ilustrasi-gokC_large.jpg</image><title>Ilustrasi. </title></images><description>SEOUL &amp;ndash; Partai Demokrat (DPK) yang berkuasa di Korea Selatan telah memecat Kepala Kabupaten Jindo, Kim Hee-soo, dari jajarannya. Keputusan itu diambil setelah pejabat daerah tersebut menyerukan &amp;ldquo;impor perawan&amp;rdquo; dari luar negeri untuk mengatasi masalah demografi negara.&#13;
&#13;
Partai tersebut mengadakan pertemuan Dewan Tertinggi luar biasa pada Senin (9/2/2026) untuk membahas dampak dari pernyataan kontroversial yang dibuat oleh Kim pekan lalu. Pernyataan pejabat tersebut menyebabkan kegemparan nasional dan secara luas dianggap tidak pantas serta merendahkan perempuan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Keputusan ini dibuat sebagai tanggapan terhadap kontroversi publik yang disebabkan oleh pernyataan merendahkan baru-baru ini tentang perempuan asing,&amp;rdquo; kata juru bicara utama DPK, Park Soo-hyun, setelah pertemuan tersebut, sebagaimana dilansir RT.&#13;
&#13;
Kepala daerah kepulauan selatan itu membuat komentar kontroversial tersebut pada Rabu (4/2/2026) selama pertemuan tentang integrasi administratif antara Provinsi Jeolla Selatan dan Gwangju, kota metropolitan terbesar keenam di negara itu.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jika Gwangju dan Jeolla Selatan diintegrasikan, kita harus membuat undang-undang yang membahas kepunahan penduduk, dan jika itu tidak berhasil, mungkin kita harus mengimpor gadis-gadis perawan muda dari tempat-tempat seperti Sri Lanka atau Vietnam agar para bujangan di pedesaan dapat menikah,&amp;rdquo; kata Kim dalam pertemuan tersebut, menggunakan istilah yang berarti &amp;ldquo;perawan&amp;rdquo; dan &amp;ldquo;wanita muda yang belum menikah.&amp;rdquo;&#13;
&#13;
Pernyataan tersebut segera menjadi viral, menyebabkan reaksi keras di seluruh negeri. Pejabat itu dituduh bersikap seksis dan secara keseluruhan tidak pantas, dengan kritik terutama berfokus pada kata &amp;ldquo;impor.&amp;rdquo; Kecaman tersebut mendorong Kim untuk menyampaikan permintaan maaf yang dianggap kurang meyakinkan, karena ia tetap bersikeras bahwa pendapatnya benar meskipun bahasa yang digunakan tidak tepat.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kim bersikeras bahwa ia bermaksud berargumen bahwa &amp;ldquo;revitalisasi industri saja tidak dapat menyelesaikan kepunahan penduduk&amp;rdquo; dan ingin menarik perhatian pada &amp;ldquo;masalah struktural seperti penurunan populasi yang parah di komunitas pedesaan dan nelayan serta melemahnya fondasi untuk pernikahan dan kelahiran anak.&amp;rdquo; Menurutnya, penurunan demografis harus ditangani tidak hanya di tingkat regional tetapi juga dengan respons dari pemerintah nasional.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>SEOUL &amp;ndash; Partai Demokrat (DPK) yang berkuasa di Korea Selatan telah memecat Kepala Kabupaten Jindo, Kim Hee-soo, dari jajarannya. Keputusan itu diambil setelah pejabat daerah tersebut menyerukan &amp;ldquo;impor perawan&amp;rdquo; dari luar negeri untuk mengatasi masalah demografi negara.&#13;
&#13;
Partai tersebut mengadakan pertemuan Dewan Tertinggi luar biasa pada Senin (9/2/2026) untuk membahas dampak dari pernyataan kontroversial yang dibuat oleh Kim pekan lalu. Pernyataan pejabat tersebut menyebabkan kegemparan nasional dan secara luas dianggap tidak pantas serta merendahkan perempuan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Keputusan ini dibuat sebagai tanggapan terhadap kontroversi publik yang disebabkan oleh pernyataan merendahkan baru-baru ini tentang perempuan asing,&amp;rdquo; kata juru bicara utama DPK, Park Soo-hyun, setelah pertemuan tersebut, sebagaimana dilansir RT.&#13;
&#13;
Kepala daerah kepulauan selatan itu membuat komentar kontroversial tersebut pada Rabu (4/2/2026) selama pertemuan tentang integrasi administratif antara Provinsi Jeolla Selatan dan Gwangju, kota metropolitan terbesar keenam di negara itu.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jika Gwangju dan Jeolla Selatan diintegrasikan, kita harus membuat undang-undang yang membahas kepunahan penduduk, dan jika itu tidak berhasil, mungkin kita harus mengimpor gadis-gadis perawan muda dari tempat-tempat seperti Sri Lanka atau Vietnam agar para bujangan di pedesaan dapat menikah,&amp;rdquo; kata Kim dalam pertemuan tersebut, menggunakan istilah yang berarti &amp;ldquo;perawan&amp;rdquo; dan &amp;ldquo;wanita muda yang belum menikah.&amp;rdquo;&#13;
&#13;
Pernyataan tersebut segera menjadi viral, menyebabkan reaksi keras di seluruh negeri. Pejabat itu dituduh bersikap seksis dan secara keseluruhan tidak pantas, dengan kritik terutama berfokus pada kata &amp;ldquo;impor.&amp;rdquo; Kecaman tersebut mendorong Kim untuk menyampaikan permintaan maaf yang dianggap kurang meyakinkan, karena ia tetap bersikeras bahwa pendapatnya benar meskipun bahasa yang digunakan tidak tepat.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kim bersikeras bahwa ia bermaksud berargumen bahwa &amp;ldquo;revitalisasi industri saja tidak dapat menyelesaikan kepunahan penduduk&amp;rdquo; dan ingin menarik perhatian pada &amp;ldquo;masalah struktural seperti penurunan populasi yang parah di komunitas pedesaan dan nelayan serta melemahnya fondasi untuk pernikahan dan kelahiran anak.&amp;rdquo; Menurutnya, penurunan demografis harus ditangani tidak hanya di tingkat regional tetapi juga dengan respons dari pemerintah nasional.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
