<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bantahan Menohok Komisi III DPR ke Jokowi soal Revisi UU KPK</title><description>Anggota Komisi III DPR RI Abdullah menilai pernyataan Presiden ke-7 Indonesia Joko Widodo (Jokowi) soal revisi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak tepat.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/02/17/337/3202008/bantahan-menohok-komisi-iii-dpr-ke-jokowi-soal-revisi-uu-kpk</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/02/17/337/3202008/bantahan-menohok-komisi-iii-dpr-ke-jokowi-soal-revisi-uu-kpk"/><item><title>Bantahan Menohok Komisi III DPR ke Jokowi soal Revisi UU KPK</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/02/17/337/3202008/bantahan-menohok-komisi-iii-dpr-ke-jokowi-soal-revisi-uu-kpk</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/02/17/337/3202008/bantahan-menohok-komisi-iii-dpr-ke-jokowi-soal-revisi-uu-kpk</guid><pubDate>Selasa 17 Februari 2026 07:26 WIB</pubDate><dc:creator>Jonathan Simanjuntak</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/02/17/337/3202008/dpr-neDf_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">DPR RI (Foto: Dok Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/02/17/337/3202008/dpr-neDf_large.jpg</image><title>DPR RI (Foto: Dok Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Anggota Komisi III DPR RI Abdullah menilai pernyataan Presiden ke-7 Indonesia Joko Widodo (Jokowi) soal revisi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak tepat. Jokowi menyebut inisiatif DPR RI seakan dirinya tidak berperan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pernyataan Presiden ke-7 Joko Widodo yang intinya merasa tidak berperan dalam pengesahan UU KPK 2019 atau UU Nomor 19 Tahun 2019 tentang KPK tidak tepat,&amp;quot; ujar Abdullah, Selasa (17/2/2026).&#13;
&#13;
Abdullah menjelaskan Jokowi turut mengirim tim mewakili pemerintah untuk membahas revisi UU KPK. Menurut dia, hal ini berarti UU KPK sama-sama dibahas baik oleh DPR maupun pemerintah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Hal ini sesuai dengan Pasal 20 Ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi, setiap rancangan undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama,&amp;quot; ujar Abdullah.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Bahkan, menurutnya tidak adanya tanda tangan Presiden terkait revisi UU KPK tak menandakan bahwa Jokowi menolak revisi tersebut. Sebab, menurutnya setiap UU akan tetap berlaku ada atau tanpa tanda tangan Presiden.&#13;
&#13;
&amp;quot;Soal tidak ditandatanganinya UU KPK terbaru oleh beliau, hal tersebut tidak berpengaruh apa-apa karena berdasarkan Pasal 20 Ayat (5) UUD 1945, UU tetap berlaku 30 hari setelah disahkan dengan atau tanpa tanda tangan Presiden,&amp;quot; jelas Abdullah.&#13;
&#13;
Sebelumnya, Jokowi menyatakan setuju jika UU KPK dikembalikan ke versi lama. Pernyataan tersebut disampaikannya saat menanggapi usulan mantan Ketua KPK, Abraham Samad, agar UU KPK direvisi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ya saya setuju, bagus,&amp;quot; kata Jokowi di Stadion Manahan Solo, Jumat 13 Februari 2026.&#13;
&#13;
Jokowi menegaskan revisi UU KPK pada 2019 merupakan inisiatif DPR, dan meminta publik tidak keliru memahami proses tersebut.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jangan keliru ya, inisiatif DPR,&amp;quot; ucapnya.&#13;
&#13;
Ia juga menyebut tidak menandatangani revisi tersebut. &amp;quot;Memang saat itu atas inisiatif DPR direvisi, tapi saya tidak tanda tangan,&amp;quot; ujarnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Anggota Komisi III DPR RI Abdullah menilai pernyataan Presiden ke-7 Indonesia Joko Widodo (Jokowi) soal revisi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak tepat. Jokowi menyebut inisiatif DPR RI seakan dirinya tidak berperan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pernyataan Presiden ke-7 Joko Widodo yang intinya merasa tidak berperan dalam pengesahan UU KPK 2019 atau UU Nomor 19 Tahun 2019 tentang KPK tidak tepat,&amp;quot; ujar Abdullah, Selasa (17/2/2026).&#13;
&#13;
Abdullah menjelaskan Jokowi turut mengirim tim mewakili pemerintah untuk membahas revisi UU KPK. Menurut dia, hal ini berarti UU KPK sama-sama dibahas baik oleh DPR maupun pemerintah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Hal ini sesuai dengan Pasal 20 Ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi, setiap rancangan undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama,&amp;quot; ujar Abdullah.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Bahkan, menurutnya tidak adanya tanda tangan Presiden terkait revisi UU KPK tak menandakan bahwa Jokowi menolak revisi tersebut. Sebab, menurutnya setiap UU akan tetap berlaku ada atau tanpa tanda tangan Presiden.&#13;
&#13;
&amp;quot;Soal tidak ditandatanganinya UU KPK terbaru oleh beliau, hal tersebut tidak berpengaruh apa-apa karena berdasarkan Pasal 20 Ayat (5) UUD 1945, UU tetap berlaku 30 hari setelah disahkan dengan atau tanpa tanda tangan Presiden,&amp;quot; jelas Abdullah.&#13;
&#13;
Sebelumnya, Jokowi menyatakan setuju jika UU KPK dikembalikan ke versi lama. Pernyataan tersebut disampaikannya saat menanggapi usulan mantan Ketua KPK, Abraham Samad, agar UU KPK direvisi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ya saya setuju, bagus,&amp;quot; kata Jokowi di Stadion Manahan Solo, Jumat 13 Februari 2026.&#13;
&#13;
Jokowi menegaskan revisi UU KPK pada 2019 merupakan inisiatif DPR, dan meminta publik tidak keliru memahami proses tersebut.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jangan keliru ya, inisiatif DPR,&amp;quot; ucapnya.&#13;
&#13;
Ia juga menyebut tidak menandatangani revisi tersebut. &amp;quot;Memang saat itu atas inisiatif DPR direvisi, tapi saya tidak tanda tangan,&amp;quot; ujarnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
