<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kemendagri Kawal Kebijakan Publik di Daerah Berbasis Bukti</title><description>Kepala BSKDN Yusharto Huntoyungo menekankan pentingnya analisis dan evaluasi terhadap kebijakan yang sudah tidak relevan dengan kondisi terkini.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/02/25/337/3203718/kemendagri-kawal-kebijakan-publik-di-daerah-berbasis-bukti</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/02/25/337/3203718/kemendagri-kawal-kebijakan-publik-di-daerah-berbasis-bukti"/><item><title>Kemendagri Kawal Kebijakan Publik di Daerah Berbasis Bukti</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/02/25/337/3203718/kemendagri-kawal-kebijakan-publik-di-daerah-berbasis-bukti</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/02/25/337/3203718/kemendagri-kawal-kebijakan-publik-di-daerah-berbasis-bukti</guid><pubDate>Rabu 25 Februari 2026 23:07 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/02/25/337/3203718/pemerintah-avSO_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kemendagri Kawal Kebijakan Publik di Daerah Berbasis Bukti</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/02/25/337/3203718/pemerintah-avSO_large.jpg</image><title>Kemendagri Kawal Kebijakan Publik di Daerah Berbasis Bukti</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah dalam hal ini Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri mengawal kebijakan publik berbasis bukti (evidence based policy) melalui penguatan peran analis kebijakan sebagai think tank daerah.&#13;
&#13;
Kepala BSKDN Yusharto Huntoyungo menekankan pentingnya analisis dan evaluasi terhadap kebijakan yang sudah tidak relevan dengan kondisi terkini.&#13;
&#13;
Selain itu, pemerintah daerah juga dituntut untuk menyusun kebijakan yang bersifat antisipatif, khususnya dalam bidang inovasi dan tata kelola pemerintahan, guna mewujudkan efisiensi, transparansi, serta akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan daerah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, BSKDN yang tadinya Litbang memiliki beberapa instrumen yang kami peroleh dari data primer hasil pengukuran berbagai indeks yang kami miliki,&amp;quot; ujar Yusharto,&amp;nbsp;Rabu (25/2/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Adapun sejumlah indeks yang dikelola BSKDN meliputi Indeks Kepemimpinan Kepala Daerah (IKKD), Indeks Tata Kelola Pemerintahan Daerah (ITKPD), Indeks Pengelolaan Keuangan Daerah (IPKD), serta Indeks Inovasi Daerah (IID). Instrumen-instrumen ini menjadi landasan objektif dalam merumuskan rekomendasi kebijakan yang terukur dan akuntabel.&#13;
&#13;
Yusharto juga menjelaskan, best practices yang telah teruji dapat menjadi bukti kuat dalam proses pengambilan kebijakan.&#13;
&#13;
Dalam konteks ini, inovasi menjadi unsur utama dalam membangun kebijakan berbasis bukti. Inovasi yang berhasil diterapkan dan berdampak nyata dapat diangkat menjadi referensi kebijakan yang lebih luas.&#13;
&#13;
Menurut Yusharto, analis kebijakan pada dasarnya berperan sebagai think tank pemerintah daerah. Mereka menjadi ujung tombak dalam menjawab pertanyaan mendasar terkait&amp;nbsp; kebijakan apa yang harus diambil berdasarkan permasalahan aktual yang dihadapi daerah.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Analis kebijakan memastikan setiap rekomendasi didukung data, analisis ilmiah, dan proyeksi dampak. Dengan demikian, kebijakan yang dihasilkan tidak bersifat sesaat, tetapi berkelanjutan dan strategis,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Mengingat, penguatan kapasitas analis kebijakan ini juga menjadi bagian dari agenda reformasi birokrasi menuju birokrasi berkelas dunia.&#13;
&#13;
Melalui peningkatan kualitas analisis kebijakan, pemerintah daerah diharapkan mampu menghasilkan kebijakan yang adaptif, progresif, dan berdampak nyata bagi peningkatan pelayanan publik serta kesejahteraan masyarakat.&#13;
&#13;
&amp;lsquo;&amp;rsquo;Dengan penguatan think tank daerah dan optimalisasi instrumen pengukuran berbasis data, Yusharto optimistis kebijakan publik di daerah akan semakin efektif, terukur, serta mampu menjawab tantangan pembangunan secara komprehensif,&amp;rsquo;&amp;rsquo;pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah dalam hal ini Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri mengawal kebijakan publik berbasis bukti (evidence based policy) melalui penguatan peran analis kebijakan sebagai think tank daerah.&#13;
&#13;
Kepala BSKDN Yusharto Huntoyungo menekankan pentingnya analisis dan evaluasi terhadap kebijakan yang sudah tidak relevan dengan kondisi terkini.&#13;
&#13;
Selain itu, pemerintah daerah juga dituntut untuk menyusun kebijakan yang bersifat antisipatif, khususnya dalam bidang inovasi dan tata kelola pemerintahan, guna mewujudkan efisiensi, transparansi, serta akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan daerah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, BSKDN yang tadinya Litbang memiliki beberapa instrumen yang kami peroleh dari data primer hasil pengukuran berbagai indeks yang kami miliki,&amp;quot; ujar Yusharto,&amp;nbsp;Rabu (25/2/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Adapun sejumlah indeks yang dikelola BSKDN meliputi Indeks Kepemimpinan Kepala Daerah (IKKD), Indeks Tata Kelola Pemerintahan Daerah (ITKPD), Indeks Pengelolaan Keuangan Daerah (IPKD), serta Indeks Inovasi Daerah (IID). Instrumen-instrumen ini menjadi landasan objektif dalam merumuskan rekomendasi kebijakan yang terukur dan akuntabel.&#13;
&#13;
Yusharto juga menjelaskan, best practices yang telah teruji dapat menjadi bukti kuat dalam proses pengambilan kebijakan.&#13;
&#13;
Dalam konteks ini, inovasi menjadi unsur utama dalam membangun kebijakan berbasis bukti. Inovasi yang berhasil diterapkan dan berdampak nyata dapat diangkat menjadi referensi kebijakan yang lebih luas.&#13;
&#13;
Menurut Yusharto, analis kebijakan pada dasarnya berperan sebagai think tank pemerintah daerah. Mereka menjadi ujung tombak dalam menjawab pertanyaan mendasar terkait&amp;nbsp; kebijakan apa yang harus diambil berdasarkan permasalahan aktual yang dihadapi daerah.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Analis kebijakan memastikan setiap rekomendasi didukung data, analisis ilmiah, dan proyeksi dampak. Dengan demikian, kebijakan yang dihasilkan tidak bersifat sesaat, tetapi berkelanjutan dan strategis,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Mengingat, penguatan kapasitas analis kebijakan ini juga menjadi bagian dari agenda reformasi birokrasi menuju birokrasi berkelas dunia.&#13;
&#13;
Melalui peningkatan kualitas analisis kebijakan, pemerintah daerah diharapkan mampu menghasilkan kebijakan yang adaptif, progresif, dan berdampak nyata bagi peningkatan pelayanan publik serta kesejahteraan masyarakat.&#13;
&#13;
&amp;lsquo;&amp;rsquo;Dengan penguatan think tank daerah dan optimalisasi instrumen pengukuran berbasis data, Yusharto optimistis kebijakan publik di daerah akan semakin efektif, terukur, serta mampu menjawab tantangan pembangunan secara komprehensif,&amp;rsquo;&amp;rsquo;pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
