<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Legislator DPR Ini Soroti Jejak Kolonial dalam Demokrasi Indonesia</title><description>Sejarawan sekaligus Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana menegaskan, bahwa Indonesia memang telah merdeka dari penjajahan fisik, namun warisan kolonial dalam bentuk ?? kolonialitas” masih membelenggu kehidupan sosial, politik, dan ekonomi hingga hari ini.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/02/27/337/3204119/legislator-dpr-ini-soroti-jejak-kolonial-dalam-demokrasi-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/02/27/337/3204119/legislator-dpr-ini-soroti-jejak-kolonial-dalam-demokrasi-indonesia"/><item><title>Legislator DPR Ini Soroti Jejak Kolonial dalam Demokrasi Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/02/27/337/3204119/legislator-dpr-ini-soroti-jejak-kolonial-dalam-demokrasi-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/02/27/337/3204119/legislator-dpr-ini-soroti-jejak-kolonial-dalam-demokrasi-indonesia</guid><pubDate>Jum'at 27 Februari 2026 22:24 WIB</pubDate><dc:creator>Arie Dwi Satrio</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/02/27/337/3204119/bonnie-ad9Q_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg"> Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana (foto:  Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/02/27/337/3204119/bonnie-ad9Q_large.jpg</image><title> Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana (foto:  Okezone)</title></images><description>&#13;
&#13;
JAKARTA &amp;ndash; Sejarawan sekaligus Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana menegaskan, bahwa Indonesia memang telah merdeka dari penjajahan fisik, namun warisan kolonial dalam bentuk &amp;ldquo;kolonialitas&amp;rdquo; masih membelenggu kehidupan sosial, politik, dan ekonomi hingga hari ini.&#13;
&#13;
Hal itu disampaikannya dalam Seminar Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) bertajuk &amp;ldquo;Sejarah Sebagai Sebuah Gerakan Kebangsaan di Era Pasca-Modernisme&amp;rdquo; yang digelar di Balai Pertemuan Ilmiah (BPI) ITB, Bandung, Jumat (27/2/2026).&#13;
&#13;
Bonnie mengutip buku Erasing History karya Jason Stanley yang membagi nasionalisme ke dalam dua kategori: nasionalisme anti-kolonial dan nasionalisme supremasi.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurutnya, nasionalisme anti-kolonial lahir sebagai respons terhadap penjajahan dan memiliki solidaritas yang luas serta bersifat kosmopolitan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kelompok anti-kolonial lahir dari kesadaran atas penindasan itu sendiri. Solidaritas yang dibangun jauh lebih luas,&amp;rdquo; ujarnya di hadapan para guru besar ITB yang mengikuti seminar secara hybrid.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Namun, ia mengingatkan bahwa meski kolonialisme telah berakhir secara administratif dan fisik, struktur sosial yang dibangun pada masa itu belum sepenuhnya hilang.&#13;
&#13;
Bonnie menyoroti bahwa rasialisme dan segregasi merupakan fondasi penting dalam sistem kolonial.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Rasialisme adalah temuan penting dalam kolonialisme. Itu yang menopang struktur kolonialisme, bahkan imperialisme itu sendiri,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Ia menilai pola-pola diskriminatif tersebut masih bisa ditemukan dalam berbagai bentuk ketimpangan sosial di Indonesia saat ini.&#13;
&#13;
Mantan kurator Rijksmuseum di Amsterdam itu juga menyinggung praktik demokrasi yang masih diwarnai relasi patron-klien, mirip dengan struktur feodal masa lalu. Ia mencontohkan bagaimana kepala desa kerap menjadi pusat konsolidasi politik karena pengaruhnya terhadap massa.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita sering membahas sistem noken di Papua. Tapi sejauh-jauh itu, di dapil saya di Banten, esensinya juga serupa. Pola hubungan elit dan massa masih mencerminkan pola lama,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dalam paparannya, Bonnie mengangkat kisah Desa Badur, Lebak, Banten&amp;mdash;latar novel Max Havelaar karya Multatuli yang mengkritik praktik kolonial abad ke-19.&#13;
&#13;
Ia menceritakan dokumentasi wartawan Belanda, Arjan Onderdenwijngaard, yang merekam kehidupan anak-anak Badur pada 1987. Tiga dekade kemudian, Bonnie kembali menelusuri kehidupan mereka dan mendapati kondisi sosial yang tidak banyak berubah.&#13;
&#13;
Rata-rata lama sekolah di wilayah tersebut, kata Bonnie, masih sekitar 6,5 tahun atau setara lulusan SD.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Ia berulang dalam bentuk yang berbeda,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Bonnie kemudian merujuk pada konsep &amp;ldquo;kolonialitas&amp;rdquo; dari sosiolog Peru, An&amp;iacute;bal Quijano.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kolonialisme secara fisik sudah selesai. Tapi kolonialitas&amp;mdash;cara berpikir, struktur ekonomi, dan relasi kuasa yang dibangun sejak era kolonial&amp;mdash;masih berlangsung sampai hari ini,&amp;rdquo; paparnya.&#13;
&#13;
Menurut Bonnie, kolonialitas tercermin dalam dominasi standar pengetahuan yang berpusat pada Eropa, ketimpangan ekonomi, hingga perilaku pejabat publik yang masih menunjukkan jejak feodalisme.&#13;
&#13;
Ia bahkan menyinggung kebiasaan iring-iringan kendaraan pejabat dengan pengawalan patwal yang, menurutnya, memiliki kemiripan dengan praktik feodal yang digambarkan dalam Max Havelaar.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kebiasaan pejabat diiring-iring pakai patwal itu bisa jadi warisan budaya feodal. Dalam Max Havelaar, keluarga Bupati Cianjur ketika berkunjung diiringi kereta kuda dengan pengawal lengkap. Polanya mirip,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
JAKARTA &amp;ndash; Sejarawan sekaligus Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana menegaskan, bahwa Indonesia memang telah merdeka dari penjajahan fisik, namun warisan kolonial dalam bentuk &amp;ldquo;kolonialitas&amp;rdquo; masih membelenggu kehidupan sosial, politik, dan ekonomi hingga hari ini.&#13;
&#13;
Hal itu disampaikannya dalam Seminar Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) bertajuk &amp;ldquo;Sejarah Sebagai Sebuah Gerakan Kebangsaan di Era Pasca-Modernisme&amp;rdquo; yang digelar di Balai Pertemuan Ilmiah (BPI) ITB, Bandung, Jumat (27/2/2026).&#13;
&#13;
Bonnie mengutip buku Erasing History karya Jason Stanley yang membagi nasionalisme ke dalam dua kategori: nasionalisme anti-kolonial dan nasionalisme supremasi.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurutnya, nasionalisme anti-kolonial lahir sebagai respons terhadap penjajahan dan memiliki solidaritas yang luas serta bersifat kosmopolitan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kelompok anti-kolonial lahir dari kesadaran atas penindasan itu sendiri. Solidaritas yang dibangun jauh lebih luas,&amp;rdquo; ujarnya di hadapan para guru besar ITB yang mengikuti seminar secara hybrid.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Namun, ia mengingatkan bahwa meski kolonialisme telah berakhir secara administratif dan fisik, struktur sosial yang dibangun pada masa itu belum sepenuhnya hilang.&#13;
&#13;
Bonnie menyoroti bahwa rasialisme dan segregasi merupakan fondasi penting dalam sistem kolonial.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Rasialisme adalah temuan penting dalam kolonialisme. Itu yang menopang struktur kolonialisme, bahkan imperialisme itu sendiri,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Ia menilai pola-pola diskriminatif tersebut masih bisa ditemukan dalam berbagai bentuk ketimpangan sosial di Indonesia saat ini.&#13;
&#13;
Mantan kurator Rijksmuseum di Amsterdam itu juga menyinggung praktik demokrasi yang masih diwarnai relasi patron-klien, mirip dengan struktur feodal masa lalu. Ia mencontohkan bagaimana kepala desa kerap menjadi pusat konsolidasi politik karena pengaruhnya terhadap massa.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita sering membahas sistem noken di Papua. Tapi sejauh-jauh itu, di dapil saya di Banten, esensinya juga serupa. Pola hubungan elit dan massa masih mencerminkan pola lama,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dalam paparannya, Bonnie mengangkat kisah Desa Badur, Lebak, Banten&amp;mdash;latar novel Max Havelaar karya Multatuli yang mengkritik praktik kolonial abad ke-19.&#13;
&#13;
Ia menceritakan dokumentasi wartawan Belanda, Arjan Onderdenwijngaard, yang merekam kehidupan anak-anak Badur pada 1987. Tiga dekade kemudian, Bonnie kembali menelusuri kehidupan mereka dan mendapati kondisi sosial yang tidak banyak berubah.&#13;
&#13;
Rata-rata lama sekolah di wilayah tersebut, kata Bonnie, masih sekitar 6,5 tahun atau setara lulusan SD.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Ia berulang dalam bentuk yang berbeda,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Bonnie kemudian merujuk pada konsep &amp;ldquo;kolonialitas&amp;rdquo; dari sosiolog Peru, An&amp;iacute;bal Quijano.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kolonialisme secara fisik sudah selesai. Tapi kolonialitas&amp;mdash;cara berpikir, struktur ekonomi, dan relasi kuasa yang dibangun sejak era kolonial&amp;mdash;masih berlangsung sampai hari ini,&amp;rdquo; paparnya.&#13;
&#13;
Menurut Bonnie, kolonialitas tercermin dalam dominasi standar pengetahuan yang berpusat pada Eropa, ketimpangan ekonomi, hingga perilaku pejabat publik yang masih menunjukkan jejak feodalisme.&#13;
&#13;
Ia bahkan menyinggung kebiasaan iring-iringan kendaraan pejabat dengan pengawalan patwal yang, menurutnya, memiliki kemiripan dengan praktik feodal yang digambarkan dalam Max Havelaar.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kebiasaan pejabat diiring-iring pakai patwal itu bisa jadi warisan budaya feodal. Dalam Max Havelaar, keluarga Bupati Cianjur ketika berkunjung diiringi kereta kuda dengan pengawal lengkap. Polanya mirip,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
