<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Ini Penjelasannya</title><description>Kondisi ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Niña Lemah pada Februari 2026, yang kini telah bergeser ke fase Netral dan berpotensi menuju El Niño pada pertengahan tahun.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/03/05/337/3205098/bmkg-prediksi-musim-kemarau-2026-datang-lebih-awal-ini-penjelasannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/03/05/337/3205098/bmkg-prediksi-musim-kemarau-2026-datang-lebih-awal-ini-penjelasannya"/><item><title>BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Ini Penjelasannya</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/03/05/337/3205098/bmkg-prediksi-musim-kemarau-2026-datang-lebih-awal-ini-penjelasannya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/03/05/337/3205098/bmkg-prediksi-musim-kemarau-2026-datang-lebih-awal-ini-penjelasannya</guid><pubDate>Kamis 05 Maret 2026 10:24 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/03/05/337/3205098/kekeringan-52XI_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Ini Penjelasannya</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/03/05/337/3205098/kekeringan-52XI_large.jpg</image><title>BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Ini Penjelasannya</title></images><description>JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal dibandingkan rerata klimatologinya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Kondisi ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Ni&amp;ntilde;a Lemah pada Februari 2026, yang kini telah bergeser ke fase Netral dan berpotensi menuju El Ni&amp;ntilde;o pada pertengahan tahun.&#13;
&#13;
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan nilai indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 (Netral) dan diprediksi bertahan hingga Juni 2026.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun, mulai pertengahan tahun peluang munculnya El Ni&amp;ntilde;o kategori Lemah-Moderat sebesar 50-60% mulai semester kedua tahun ini perlu menjadi perhatian.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun,&amp;rdquo; kata Faisal dalam Konferensi Pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 di Gedung Multi-Hazard Early Warning System, Jakarta, dikutip Kamis (5/3/2026).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Lebih lanjut, peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia) menjadi penanda dimulainya musim kemarau. BMKG mencatat sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3% wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026, mencakup pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi.&#13;
&#13;
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merinci bahwa 184 ZOM (26,3%) menyusul masuk musim kemarau pada Mei 2026, dan 163 ZOM (23,3%) pada Juni 2026. Berdasarkan data tersebut, Ardhasena menegaskan awal kemarau di 325 ZOM (46,5%) diprediksi maju atau terjadi lebih cepat dari biasanya, sama 173 ZOM (24,7%), dan mundur 72 ZOM (10,3%).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua,&amp;rdquo; ujarnya.&amp;nbsp;&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal dibandingkan rerata klimatologinya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Kondisi ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Ni&amp;ntilde;a Lemah pada Februari 2026, yang kini telah bergeser ke fase Netral dan berpotensi menuju El Ni&amp;ntilde;o pada pertengahan tahun.&#13;
&#13;
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan nilai indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 (Netral) dan diprediksi bertahan hingga Juni 2026.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun, mulai pertengahan tahun peluang munculnya El Ni&amp;ntilde;o kategori Lemah-Moderat sebesar 50-60% mulai semester kedua tahun ini perlu menjadi perhatian.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun,&amp;rdquo; kata Faisal dalam Konferensi Pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 di Gedung Multi-Hazard Early Warning System, Jakarta, dikutip Kamis (5/3/2026).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Lebih lanjut, peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia) menjadi penanda dimulainya musim kemarau. BMKG mencatat sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3% wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026, mencakup pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi.&#13;
&#13;
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merinci bahwa 184 ZOM (26,3%) menyusul masuk musim kemarau pada Mei 2026, dan 163 ZOM (23,3%) pada Juni 2026. Berdasarkan data tersebut, Ardhasena menegaskan awal kemarau di 325 ZOM (46,5%) diprediksi maju atau terjadi lebih cepat dari biasanya, sama 173 ZOM (24,7%), dan mundur 72 ZOM (10,3%).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua,&amp;rdquo; ujarnya.&amp;nbsp;&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
