<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tak Kantongi SLHS, 1.528 SPPG di Seluruh Indonesia Di-Suspend</title><description>Sebanyak 1.528 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia diberhentikan operasional sementara atau di-suspend. Data ini tercatat oleh Badan Gizi Nasional (BGN) per 25 Maret 2026, mencakup akumulasi sejak Januari 2025 hingga Maret 2026.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/03/26/337/3208866/tak-kantongi-slhs-1-528-sppg-di-seluruh-indonesia-di-suspend</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/03/26/337/3208866/tak-kantongi-slhs-1-528-sppg-di-seluruh-indonesia-di-suspend"/><item><title>Tak Kantongi SLHS, 1.528 SPPG di Seluruh Indonesia Di-Suspend</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/03/26/337/3208866/tak-kantongi-slhs-1-528-sppg-di-seluruh-indonesia-di-suspend</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/03/26/337/3208866/tak-kantongi-slhs-1-528-sppg-di-seluruh-indonesia-di-suspend</guid><pubDate>Kamis 26 Maret 2026 12:25 WIB</pubDate><dc:creator>Nur Khabibi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/03/26/337/3208866/mbg-EgAr_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dapur MBG (Foto: Dok) </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/03/26/337/3208866/mbg-EgAr_large.jpg</image><title>Dapur MBG (Foto: Dok) </title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Sebanyak 1.528 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia diberhentikan operasional sementara atau di-suspend. Data ini tercatat oleh Badan Gizi Nasional (BGN) per 25 Maret 2026, mencakup akumulasi sejak Januari 2025 hingga Maret 2026.&#13;
&#13;
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang menyebut angka tersebut menurun dibanding dua minggu sebelumnya karena sebagian SPPG telah mendaftar Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi (SLHS).&#13;
&#13;
&amp;quot;Terjadi penurunan dibanding dua minggu lalu karena sudah banyak yang mendaftar SLHS,&amp;quot; ujar Nanik, Kamis (26/3/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dua minggu sebelumnya, jumlah SPPG terdampak lebih tinggi, terutama di Pulau Jawa yang mencapai lebih dari 1.500 unit. Wilayah Indonesia Timur mencatat 779 SPPG terdampak, sementara wilayah Barat 492 SPPG.&#13;
&#13;
Langkah penghentian operasional dilakukan terutama bagi SPPG yang belum mendaftar SLHS. Setelah penindakan, sebagian besar kini telah memenuhi kewajiban tersebut.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Setelah disuspend karena belum mendaftar SLHS, sekarang sudah banyak yang mendaftar,&amp;rdquo; jelas Nanik.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ia menegaskan kebijakan ini bertujuan menjaga standar layanan gizi, khususnya aspek higiene dan sanitasi.&#13;
&#13;
Diharapkan, dengan meningkatnya kepatuhan terhadap SLHS, operasional SPPG dapat kembali normal secara bertahap. Langkah ini juga bagian dari pengawasan nasional untuk memastikan kualitas pelayanan gizi aman dan sesuai standar pemerintah.&#13;
&#13;
&#13;
Adapun rincian penghentian operasional SPPG menjadi dua kategori, yakni karena kejadian menonjol (KM) dan non-kejadian menonjol.&#13;
&#13;
&#13;
1. Penutupan karena kejadian menonjol ( KM) terjadi gangguan pencernaan pada penerima manfaat:&#13;
&#13;
&#13;
Wilayah I: 17 SPPG&#13;
&#13;
Wilayah II: 27 SPPG&#13;
&#13;
Wilayah III: 28 SPPG&#13;
&#13;
Total: 72 SPPG&#13;
&#13;
&#13;
2. Penutupan karena Non-KM ( non kejadian menonjol), misalnya pembangunan dapur tidak sesui Juknis&#13;
&#13;
&#13;
Wilayah I: 198 SPPG&#13;
&#13;
Wilayah II: 464 SPPG&#13;
&#13;
Wilayah III: 30 SPPG&#13;
&#13;
Total: 692 SPPG&#13;
&#13;
&#13;
Sementara itu, jumlah SPPG yang masih dalam status penghentian operasional tercatat sebagai berikut:&#13;
&#13;
&#13;
Wilayah I: 215 SPPG&#13;
&#13;
Wilayah II: 491 SPPG&#13;
&#13;
Wilayah III: 58 SPPG&#13;
&#13;
Total: 764 SPPG&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Sebanyak 1.528 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia diberhentikan operasional sementara atau di-suspend. Data ini tercatat oleh Badan Gizi Nasional (BGN) per 25 Maret 2026, mencakup akumulasi sejak Januari 2025 hingga Maret 2026.&#13;
&#13;
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang menyebut angka tersebut menurun dibanding dua minggu sebelumnya karena sebagian SPPG telah mendaftar Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi (SLHS).&#13;
&#13;
&amp;quot;Terjadi penurunan dibanding dua minggu lalu karena sudah banyak yang mendaftar SLHS,&amp;quot; ujar Nanik, Kamis (26/3/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dua minggu sebelumnya, jumlah SPPG terdampak lebih tinggi, terutama di Pulau Jawa yang mencapai lebih dari 1.500 unit. Wilayah Indonesia Timur mencatat 779 SPPG terdampak, sementara wilayah Barat 492 SPPG.&#13;
&#13;
Langkah penghentian operasional dilakukan terutama bagi SPPG yang belum mendaftar SLHS. Setelah penindakan, sebagian besar kini telah memenuhi kewajiban tersebut.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Setelah disuspend karena belum mendaftar SLHS, sekarang sudah banyak yang mendaftar,&amp;rdquo; jelas Nanik.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ia menegaskan kebijakan ini bertujuan menjaga standar layanan gizi, khususnya aspek higiene dan sanitasi.&#13;
&#13;
Diharapkan, dengan meningkatnya kepatuhan terhadap SLHS, operasional SPPG dapat kembali normal secara bertahap. Langkah ini juga bagian dari pengawasan nasional untuk memastikan kualitas pelayanan gizi aman dan sesuai standar pemerintah.&#13;
&#13;
&#13;
Adapun rincian penghentian operasional SPPG menjadi dua kategori, yakni karena kejadian menonjol (KM) dan non-kejadian menonjol.&#13;
&#13;
&#13;
1. Penutupan karena kejadian menonjol ( KM) terjadi gangguan pencernaan pada penerima manfaat:&#13;
&#13;
&#13;
Wilayah I: 17 SPPG&#13;
&#13;
Wilayah II: 27 SPPG&#13;
&#13;
Wilayah III: 28 SPPG&#13;
&#13;
Total: 72 SPPG&#13;
&#13;
&#13;
2. Penutupan karena Non-KM ( non kejadian menonjol), misalnya pembangunan dapur tidak sesui Juknis&#13;
&#13;
&#13;
Wilayah I: 198 SPPG&#13;
&#13;
Wilayah II: 464 SPPG&#13;
&#13;
Wilayah III: 30 SPPG&#13;
&#13;
Total: 692 SPPG&#13;
&#13;
&#13;
Sementara itu, jumlah SPPG yang masih dalam status penghentian operasional tercatat sebagai berikut:&#13;
&#13;
&#13;
Wilayah I: 215 SPPG&#13;
&#13;
Wilayah II: 491 SPPG&#13;
&#13;
Wilayah III: 58 SPPG&#13;
&#13;
Total: 764 SPPG&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
