<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bung Karno Menyamar sebagai Orang Biasa di Pasar Senen hingga Menyatu dengan Rakyat Jelata</title><description>Karena itu pula, Soekarno tak jarang keluar Istana seorang diri, ada kalanya dikawal seorang ajudan berpakaian preman.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/03/30/337/3209437/bung-karno-menyamar-sebagai-orang-biasa-di-pasar-senen-hingga-menyatu-dengan-rakyat-jelata</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/03/30/337/3209437/bung-karno-menyamar-sebagai-orang-biasa-di-pasar-senen-hingga-menyatu-dengan-rakyat-jelata"/><item><title>Bung Karno Menyamar sebagai Orang Biasa di Pasar Senen hingga Menyatu dengan Rakyat Jelata</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/03/30/337/3209437/bung-karno-menyamar-sebagai-orang-biasa-di-pasar-senen-hingga-menyatu-dengan-rakyat-jelata</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/03/30/337/3209437/bung-karno-menyamar-sebagai-orang-biasa-di-pasar-senen-hingga-menyatu-dengan-rakyat-jelata</guid><pubDate>Senin 30 Maret 2026 04:08 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/03/29/337/3209437/bung_karno-2O6C_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bung Karno Menyamar sebagai Orang Biasa di Pasar Senen hingga Menyatu dengan Rakyat Jelata</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/03/29/337/3209437/bung_karno-2O6C_large.jpg</image><title>Bung Karno Menyamar sebagai Orang Biasa di Pasar Senen hingga Menyatu dengan Rakyat Jelata</title></images><description>JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto blusukan ke permukiman di bantaran rel kereta api Senen, Jakarta Pusat pada Kamis (26/3) sore. Prabowo melihat langsung kondisi di sana sekaligus mendengarkan aspirasi masyarakat.&#13;
&#13;
Saat berada di lokasi, tampak tak ada penjagaan ketat terhadap orang nomor 1 di Indonesia itu. Terlihat hanya ada Seskab Teddy, Kasespri Presiden Rizky Irmansyah, sejumlah asisten dan satu orang anggota Paspampres.&#13;
&#13;
Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno ternyata juga pernah bluskan dengan menyamar sebagai orang biasa ke kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat. Kala itu di dekat lokasi tengah melakukan pembangunan gudang stasiun.&#13;
&#13;
Roso Daras dalam buku &amp;lsquo;Total Soekarno&amp;rsquo; menceritakan bahwa Bung Karno lupa untuk tidak mengeluarkan suara. Waktu itu, spontan saja ia bertanya kepada tukang bangunan.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Dari mana diambil batu bata dan bahan konstruksi yang sudah dipancangkan ini?&amp;rdquo; ujar Bung Karno kepada tukang bangunan.&#13;
&#13;
Namun belum sempat tukang bangunan menjawab pertanyaan Bung Karno, terdengar seorang perempuan berteriak kencang sekali, &amp;ldquo;Itu suara Bapak&amp;hellip; Ya&amp;hellip; suara Bapak!!!&amp;hellip; Hee&amp;hellip; orang-orang, ini Bapak&amp;hellip;. Bapak&amp;hellip;.!!!!&amp;rdquo;&#13;
&#13;
Dalam sekejap ratusan, kemudian ribuan orang menyemut mengerubungi Bung Karno dan lokasi blusukan langsung berubah penuh sesak lautan manusia. Mereka berebut mendesak, menyalami, memegang, suasana pun menjadi gaduh.&#13;
&#13;
Ajudan segera mengamankan Bung Karno, menyibak kerubungan massa, memasukkannya ke dalam mobil, dan menghilang.&#13;
&#13;
Dalam biografinya &amp;quot;Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia &amp;quot;karya Cindy Adams, ia mengatakan, sering merasa lemas, napas seakan berhenti apabila tidak bisa keluar Istana dan bersatu dengan rakyat-jelata yang melahirkannya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Karena itu pula, Soekarno tak jarang keluar Istana seorang diri, ada kalanya dikawal seorang ajudan berpakaian preman.&#13;
&#13;
Bagaimana ia menyamar? Menurut Bung Karno, tidak terlalu sulit. Sebab, rakyat kebanyakan sangat lekat dengan penampilan Bung Karno khas dengan baju seragam dan peci hitam.&#13;
&#13;
Maka, ketika Bung Karno berganti pakaian, memakai sandal, pantalon, atau hanya berkemeja, lalu mengenakan kacamata berbingkai tanduk, rupa Bung Karno sudah beda sama sekali.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dengan cara itu, Bung Karno bisa leluasa masuk-keluar pasar tanpa dikenali orang. Ia merasa kepunyaan rakyat, karenanya menjadi lebih nyaman bila berada di tengah rakyat. Perasaan Bung Karno langsung tenteram jika mendengar percakapan riuh orang-orang.&#13;
&#13;
Bung Karno menyimak rakyat bergosip, rakyat berdebat, rakyat berkelakar, rakyat bercumbu-kasih. Pada saat itulah Bung Karno merasakan sebuah kekuatan merasuk, mengaliri seluruh pembuluh darah.&#13;
&#13;
Dari satu tempat ke tempat lain, sesekali bahkan Bung Karno berhenti di pinggir jalan, memesan sate ayam yang disajikan menggunakan pincuk dan pisang, dan memakannya sambil duduk di trotoar. Saat-saat seperti itulah Bung Karno merasakan kesenangan luar biasa.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto blusukan ke permukiman di bantaran rel kereta api Senen, Jakarta Pusat pada Kamis (26/3) sore. Prabowo melihat langsung kondisi di sana sekaligus mendengarkan aspirasi masyarakat.&#13;
&#13;
Saat berada di lokasi, tampak tak ada penjagaan ketat terhadap orang nomor 1 di Indonesia itu. Terlihat hanya ada Seskab Teddy, Kasespri Presiden Rizky Irmansyah, sejumlah asisten dan satu orang anggota Paspampres.&#13;
&#13;
Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno ternyata juga pernah bluskan dengan menyamar sebagai orang biasa ke kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat. Kala itu di dekat lokasi tengah melakukan pembangunan gudang stasiun.&#13;
&#13;
Roso Daras dalam buku &amp;lsquo;Total Soekarno&amp;rsquo; menceritakan bahwa Bung Karno lupa untuk tidak mengeluarkan suara. Waktu itu, spontan saja ia bertanya kepada tukang bangunan.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Dari mana diambil batu bata dan bahan konstruksi yang sudah dipancangkan ini?&amp;rdquo; ujar Bung Karno kepada tukang bangunan.&#13;
&#13;
Namun belum sempat tukang bangunan menjawab pertanyaan Bung Karno, terdengar seorang perempuan berteriak kencang sekali, &amp;ldquo;Itu suara Bapak&amp;hellip; Ya&amp;hellip; suara Bapak!!!&amp;hellip; Hee&amp;hellip; orang-orang, ini Bapak&amp;hellip;. Bapak&amp;hellip;.!!!!&amp;rdquo;&#13;
&#13;
Dalam sekejap ratusan, kemudian ribuan orang menyemut mengerubungi Bung Karno dan lokasi blusukan langsung berubah penuh sesak lautan manusia. Mereka berebut mendesak, menyalami, memegang, suasana pun menjadi gaduh.&#13;
&#13;
Ajudan segera mengamankan Bung Karno, menyibak kerubungan massa, memasukkannya ke dalam mobil, dan menghilang.&#13;
&#13;
Dalam biografinya &amp;quot;Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia &amp;quot;karya Cindy Adams, ia mengatakan, sering merasa lemas, napas seakan berhenti apabila tidak bisa keluar Istana dan bersatu dengan rakyat-jelata yang melahirkannya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Karena itu pula, Soekarno tak jarang keluar Istana seorang diri, ada kalanya dikawal seorang ajudan berpakaian preman.&#13;
&#13;
Bagaimana ia menyamar? Menurut Bung Karno, tidak terlalu sulit. Sebab, rakyat kebanyakan sangat lekat dengan penampilan Bung Karno khas dengan baju seragam dan peci hitam.&#13;
&#13;
Maka, ketika Bung Karno berganti pakaian, memakai sandal, pantalon, atau hanya berkemeja, lalu mengenakan kacamata berbingkai tanduk, rupa Bung Karno sudah beda sama sekali.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dengan cara itu, Bung Karno bisa leluasa masuk-keluar pasar tanpa dikenali orang. Ia merasa kepunyaan rakyat, karenanya menjadi lebih nyaman bila berada di tengah rakyat. Perasaan Bung Karno langsung tenteram jika mendengar percakapan riuh orang-orang.&#13;
&#13;
Bung Karno menyimak rakyat bergosip, rakyat berdebat, rakyat berkelakar, rakyat bercumbu-kasih. Pada saat itulah Bung Karno merasakan sebuah kekuatan merasuk, mengaliri seluruh pembuluh darah.&#13;
&#13;
Dari satu tempat ke tempat lain, sesekali bahkan Bung Karno berhenti di pinggir jalan, memesan sate ayam yang disajikan menggunakan pincuk dan pisang, dan memakannya sambil duduk di trotoar. Saat-saat seperti itulah Bung Karno merasakan kesenangan luar biasa.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
