<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Anwar Usman ke Hakim MK: Setiap Putusan Pasti Tambah Musuh</title><description>Anwar Usman resmi mengakhiri masa tugasnya sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) setelah 15 tahun mengabdi. Dalam momen purnabakti, ia membagikan pesan kepada para hakim yang masih aktif.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/04/13/337/3212247/anwar-usman-ke-hakim-mk-setiap-putusan-pasti-tambah-musuh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/04/13/337/3212247/anwar-usman-ke-hakim-mk-setiap-putusan-pasti-tambah-musuh"/><item><title>Anwar Usman ke Hakim MK: Setiap Putusan Pasti Tambah Musuh</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/04/13/337/3212247/anwar-usman-ke-hakim-mk-setiap-putusan-pasti-tambah-musuh</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/04/13/337/3212247/anwar-usman-ke-hakim-mk-setiap-putusan-pasti-tambah-musuh</guid><pubDate>Senin 13 April 2026 23:10 WIB</pubDate><dc:creator>Riyan Rizki Roshali</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/04/13/337/3212247/anwar_usman_pensiun_di_mk-O1oS_large.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Anwar Usman pensiun di MK (foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/04/13/337/3212247/anwar_usman_pensiun_di_mk-O1oS_large.jpeg</image><title>Anwar Usman pensiun di MK (foto: Okezone)</title></images><description>&#13;
&#13;
JAKARTA &amp;ndash; Anwar Usman resmi mengakhiri masa tugasnya sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) setelah 15 tahun mengabdi. Dalam momen purnabakti, ia membagikan pesan kepada para hakim yang masih aktif.&#13;
&#13;
Ia menekankan, bahwa setiap putusan hakim tidak akan pernah mampu memuaskan semua pihak.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Seperti mohon maaf, adinda saya Prof. Saldi, pernah menelepon saya pada malam hari saat baru diangkat menjadi hakim, sambil menangis karena tidak tahan dibully,&amp;rdquo; kata Anwar Usman dalam acara wisuda purnabakti di MK, Senin (13/4/2026).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya katakan, adinda, itulah risiko menjadi hakim. Risiko untuk menegakkan kebenaran, hukum, dan keadilan. Karena sampai kapan pun tidak akan ada hakim yang mampu memberikan putusan yang memuaskan semua pihak,&amp;rdquo; sambungnya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan konsekuensi yang harus diterima setiap hakim dalam menangani perkara. Ia menyebut, setiap putusan yang dijatuhkan setidaknya akan menambah satu pihak yang tidak puas.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sesungguhnya hakim ketika menjatuhkan putusan, paling tidak menambah satu musuh. Tidak mungkin ada putusan yang memuaskan semua pihak, dari dahulu hingga sekarang,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Anwar juga menyinggung kisah ulama besar Abu Hanifah yang menolak menjadi hakim karena beratnya tanggung jawab tersebut. Hal itu, menurutnya, menunjukkan bahwa profesi hakim sejak dulu memang penuh tantangan.&#13;
&#13;
Dalam kesempatan itu, Anwar menyampaikan terima kasih sekaligus permohonan maaf kepada seluruh jajaran Mahkamah Konstitusi. Ia menegaskan komitmennya selama menjabat untuk tetap teguh dalam menegakkan hukum.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya tidak akan mundur selangkah pun dalam menegakkan kebenaran, hukum, dan keadilan karena itu adalah amanah Allah Subhanahu wa Ta&amp;rsquo;ala,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
JAKARTA &amp;ndash; Anwar Usman resmi mengakhiri masa tugasnya sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) setelah 15 tahun mengabdi. Dalam momen purnabakti, ia membagikan pesan kepada para hakim yang masih aktif.&#13;
&#13;
Ia menekankan, bahwa setiap putusan hakim tidak akan pernah mampu memuaskan semua pihak.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Seperti mohon maaf, adinda saya Prof. Saldi, pernah menelepon saya pada malam hari saat baru diangkat menjadi hakim, sambil menangis karena tidak tahan dibully,&amp;rdquo; kata Anwar Usman dalam acara wisuda purnabakti di MK, Senin (13/4/2026).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya katakan, adinda, itulah risiko menjadi hakim. Risiko untuk menegakkan kebenaran, hukum, dan keadilan. Karena sampai kapan pun tidak akan ada hakim yang mampu memberikan putusan yang memuaskan semua pihak,&amp;rdquo; sambungnya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan konsekuensi yang harus diterima setiap hakim dalam menangani perkara. Ia menyebut, setiap putusan yang dijatuhkan setidaknya akan menambah satu pihak yang tidak puas.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sesungguhnya hakim ketika menjatuhkan putusan, paling tidak menambah satu musuh. Tidak mungkin ada putusan yang memuaskan semua pihak, dari dahulu hingga sekarang,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Anwar juga menyinggung kisah ulama besar Abu Hanifah yang menolak menjadi hakim karena beratnya tanggung jawab tersebut. Hal itu, menurutnya, menunjukkan bahwa profesi hakim sejak dulu memang penuh tantangan.&#13;
&#13;
Dalam kesempatan itu, Anwar menyampaikan terima kasih sekaligus permohonan maaf kepada seluruh jajaran Mahkamah Konstitusi. Ia menegaskan komitmennya selama menjabat untuk tetap teguh dalam menegakkan hukum.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya tidak akan mundur selangkah pun dalam menegakkan kebenaran, hukum, dan keadilan karena itu adalah amanah Allah Subhanahu wa Ta&amp;rsquo;ala,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
