<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Filipina Tuduh China Gunakan Sianida untuk Racuni Atol Laut Cina Selatan</title><description>China mengklaim sebagian besar Laut Cina Selatan, termasuk wilayah yang diklaim oleh negara-negara Asia Tenggara. &#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/04/14/18/3212409/filipina-tuduh-china-gunakan-sianida-untuk-racuni-atol-laut-cina-selatan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/04/14/18/3212409/filipina-tuduh-china-gunakan-sianida-untuk-racuni-atol-laut-cina-selatan"/><item><title>Filipina Tuduh China Gunakan Sianida untuk Racuni Atol Laut Cina Selatan</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/04/14/18/3212409/filipina-tuduh-china-gunakan-sianida-untuk-racuni-atol-laut-cina-selatan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/04/14/18/3212409/filipina-tuduh-china-gunakan-sianida-untuk-racuni-atol-laut-cina-selatan</guid><pubDate>Selasa 14 April 2026 17:03 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/04/14/18/3212409/ilustrasi-DxNb_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/04/14/18/3212409/ilustrasi-DxNb_large.jpg</image><title>Ilustrasi. </title></images><description>JAKARTA - Filipina menyatakan telah menemukan sianida di kapal-kapal China di dekat atol yang dipersengketakan di Laut Cina Selatan, dan memperingatkan bahwa zat tersebut dapat digunakan untuk &amp;quot;sabotase&amp;quot; terhadap populasi ikan setempat.&#13;
&#13;
Para pejabat keamanan Filipina mengatakan pada Senin (13/4/2026) bahwa uji laboratorium telah mengonfirmasi keberadaan zat beracun tersebut dalam botol-botol yang disita oleh angkatan laut Filipina tahun lalu di Second Thomas Shoal, sebuah terumbu karang bawah laut di Kepulauan Spratly, Laut Cina Selatan.&#13;
&#13;
Pejabat memperingatkan bahwa sianida dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi kehidupan laut dan melemahkan terumbu karang yang menopang kapal perang yang dikandaskan Manila di atol tersebut untuk memperkuat klaim maritimnya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami ingin menggarisbawahi bahwa penggunaan sianida di Ayungin Shoal adalah bentuk sabotase yang bertujuan untuk membunuh populasi ikan lokal, sehingga merampas sumber makanan vital bagi personel angkatan laut,&amp;rdquo; kata Cornelio Valencia, juru bicara Dewan Keamanan Nasional, dalam konferensi pers, sebagaimana dilansir Al Jazeera. Ayungin Shoal adalah nama yang digunakan Filipina untuk atol Second Thomas Shoal.&#13;
&#13;
Valencia menambahkan bahwa sianida dapat merusak terumbu karang dan &amp;ldquo;pada akhirnya membahayakan&amp;rdquo; stabilitas kapal perang.&#13;
&#13;
Kementerian Luar Negeri China menolak pernyataan Filipina, menyebutnya sebagai &amp;ldquo;aksi tipu daya&amp;rdquo;.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pihak Filipina secara ilegal mengganggu kapal-kapal nelayan Tiongkok yang melakukan penangkapan ikan normal, merampas persediaan hidup para nelayan, dan melakukan aksi tipu daya sianida ini. Sama sekali tidak ada kredibilitas dalam cerita mereka,&amp;rdquo; kata juru bicara Guo Jiakun.&#13;
&#13;
Filipina menuduh China mengganggu misi pasokan ulang kepada pasukan di kapal tersebut, termasuk insiden pada 17 Juni 2024 yang berubah menjadi kekerasan dan mengakibatkan seorang pelaut Filipina kehilangan satu jari.&#13;
&#13;
Pada Desember 2025, Filipina menuduh kapal penjaga pantai China menembakkan meriam air ke nelayan Filipina di dekat Sabina Shoal yang disengketakan, melukai tiga orang dan menyebabkan &amp;quot;kerusakan signifikan&amp;quot; pada dua kapal penangkap ikan.&#13;
&#13;
Beijing membantah tuduhan perilaku agresif selama pertemuan tersebut dan menuduh Filipina melanggar wilayah perairannya.&#13;
&#13;
China dan Filipina mengadakan pembicaraan tingkat tinggi bulan lalu mengenai Laut Cina Selatan, menjajaki langkah-langkah awal menuju kerja sama minyak dan gas, serta langkah membangun kepercayaan di laut, termasuk komunikasi antara penjaga pantai mereka.&#13;
&#13;
Kementerian Luar Negeri Filipina mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Senin bahwa cakupan kerja sama penjaga pantai akan terbatas, dan &amp;quot;tidak mencakup kerja sama di area operasional yang sensitif&amp;quot;, menambahkan bahwa belum ada diskusi tentang patroli bersama.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
China mengklaim hampir seluruh Laut Cina Selatan, termasuk wilayah yang diklaim oleh Brunei, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.&#13;
&#13;
Putusan tahun 2016 oleh pengadilan arbitrase internasional menyatakan bahwa klaim luas Beijing tidak memiliki dasar hukum internasional, sebuah keputusan yang ditolak oleh China.&#13;
&#13;
Lebih dari USD 3 triliun perdagangan melalui jalur laut utama ini berlangsung setiap tahunnya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Filipina menyatakan telah menemukan sianida di kapal-kapal China di dekat atol yang dipersengketakan di Laut Cina Selatan, dan memperingatkan bahwa zat tersebut dapat digunakan untuk &amp;quot;sabotase&amp;quot; terhadap populasi ikan setempat.&#13;
&#13;
Para pejabat keamanan Filipina mengatakan pada Senin (13/4/2026) bahwa uji laboratorium telah mengonfirmasi keberadaan zat beracun tersebut dalam botol-botol yang disita oleh angkatan laut Filipina tahun lalu di Second Thomas Shoal, sebuah terumbu karang bawah laut di Kepulauan Spratly, Laut Cina Selatan.&#13;
&#13;
Pejabat memperingatkan bahwa sianida dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi kehidupan laut dan melemahkan terumbu karang yang menopang kapal perang yang dikandaskan Manila di atol tersebut untuk memperkuat klaim maritimnya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami ingin menggarisbawahi bahwa penggunaan sianida di Ayungin Shoal adalah bentuk sabotase yang bertujuan untuk membunuh populasi ikan lokal, sehingga merampas sumber makanan vital bagi personel angkatan laut,&amp;rdquo; kata Cornelio Valencia, juru bicara Dewan Keamanan Nasional, dalam konferensi pers, sebagaimana dilansir Al Jazeera. Ayungin Shoal adalah nama yang digunakan Filipina untuk atol Second Thomas Shoal.&#13;
&#13;
Valencia menambahkan bahwa sianida dapat merusak terumbu karang dan &amp;ldquo;pada akhirnya membahayakan&amp;rdquo; stabilitas kapal perang.&#13;
&#13;
Kementerian Luar Negeri China menolak pernyataan Filipina, menyebutnya sebagai &amp;ldquo;aksi tipu daya&amp;rdquo;.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pihak Filipina secara ilegal mengganggu kapal-kapal nelayan Tiongkok yang melakukan penangkapan ikan normal, merampas persediaan hidup para nelayan, dan melakukan aksi tipu daya sianida ini. Sama sekali tidak ada kredibilitas dalam cerita mereka,&amp;rdquo; kata juru bicara Guo Jiakun.&#13;
&#13;
Filipina menuduh China mengganggu misi pasokan ulang kepada pasukan di kapal tersebut, termasuk insiden pada 17 Juni 2024 yang berubah menjadi kekerasan dan mengakibatkan seorang pelaut Filipina kehilangan satu jari.&#13;
&#13;
Pada Desember 2025, Filipina menuduh kapal penjaga pantai China menembakkan meriam air ke nelayan Filipina di dekat Sabina Shoal yang disengketakan, melukai tiga orang dan menyebabkan &amp;quot;kerusakan signifikan&amp;quot; pada dua kapal penangkap ikan.&#13;
&#13;
Beijing membantah tuduhan perilaku agresif selama pertemuan tersebut dan menuduh Filipina melanggar wilayah perairannya.&#13;
&#13;
China dan Filipina mengadakan pembicaraan tingkat tinggi bulan lalu mengenai Laut Cina Selatan, menjajaki langkah-langkah awal menuju kerja sama minyak dan gas, serta langkah membangun kepercayaan di laut, termasuk komunikasi antara penjaga pantai mereka.&#13;
&#13;
Kementerian Luar Negeri Filipina mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Senin bahwa cakupan kerja sama penjaga pantai akan terbatas, dan &amp;quot;tidak mencakup kerja sama di area operasional yang sensitif&amp;quot;, menambahkan bahwa belum ada diskusi tentang patroli bersama.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
China mengklaim hampir seluruh Laut Cina Selatan, termasuk wilayah yang diklaim oleh Brunei, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.&#13;
&#13;
Putusan tahun 2016 oleh pengadilan arbitrase internasional menyatakan bahwa klaim luas Beijing tidak memiliki dasar hukum internasional, sebuah keputusan yang ditolak oleh China.&#13;
&#13;
Lebih dari USD 3 triliun perdagangan melalui jalur laut utama ini berlangsung setiap tahunnya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
