<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>KKP Ungkap Populasi Ikan Sapu-Sapu Begitu Dahsyat, tapi Pemanfaatannya Masih Terbatas</title><description>Hingga saat ini belum ada metode biologis yang efektif untuk mengendalikan ikan sapu-sapu.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/04/17/337/3213012/kkp-ungkap-populasi-ikan-sapu-sapu-begitu-dahsyat-tapi-pemanfaatannya-masih-terbatas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/04/17/337/3213012/kkp-ungkap-populasi-ikan-sapu-sapu-begitu-dahsyat-tapi-pemanfaatannya-masih-terbatas"/><item><title>KKP Ungkap Populasi Ikan Sapu-Sapu Begitu Dahsyat, tapi Pemanfaatannya Masih Terbatas</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/04/17/337/3213012/kkp-ungkap-populasi-ikan-sapu-sapu-begitu-dahsyat-tapi-pemanfaatannya-masih-terbatas</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/04/17/337/3213012/kkp-ungkap-populasi-ikan-sapu-sapu-begitu-dahsyat-tapi-pemanfaatannya-masih-terbatas</guid><pubDate>Jum'at 17 April 2026 13:32 WIB</pubDate><dc:creator>Jonathan Simanjuntak</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/04/17/337/3213012/ikan_sapu_sapu-tQdR_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">KKP Ungkap Populasi Ikan Sapu-Sapu Begitu Dahsyat, tapi Pemanfaatannya Masih Terbatas (Ilustrasi/Okezone/Jonathan Simanjuntak)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/04/17/337/3213012/ikan_sapu_sapu-tQdR_large.jpg</image><title>KKP Ungkap Populasi Ikan Sapu-Sapu Begitu Dahsyat, tapi Pemanfaatannya Masih Terbatas (Ilustrasi/Okezone/Jonathan Simanjuntak)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta telah mencapai tingkat mengkhawatirkan. Namun, hingga kini pemanfaatan ikan tersebut masih terbatas.&#13;
&#13;
1. Populasi Ikan Sapu-Sapu&#13;
&#13;
Direktur Jenderal Perikananan Budidaya KKP, Haeru Rahayu mengatakan, pengendalian dengan cara konvensional seperti penangkapan dan pemusnahan masih menjadi metode paling efektif hingga saat ini.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kenapa ikan sapu-sapu ini wajib kita kendalikan? Karena populasinya sudah begitu dahsyat,&amp;quot; ucap Haeru kepada wartawan di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026).&#13;
&#13;
Menurutnya, hingga saat ini belum ada metode biologis yang efektif untuk mengendalikan ikan sapu-sapu. Upaya menghadirkan predator alami justru dikhawatirkan memunculkan persoalan baru dalam keseimbangan ekosistem.&#13;
&#13;
&amp;quot;Banyak cara sebetulnya, secara biologis kita belum ada predator yang langsung memakan. Kalaupun ada nanti akan menjadi persoalan selanjutnya,&amp;quot; ucap Haeru.&#13;
&#13;
Selain itu, pendekatan kimia juga dinilai berisiko terhadap lingkungan sehingga belum menjadi pilihan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Secara kimia, ini juga akan punya persoalan dengan lingkungan, maka yang paling efektif hingga detik ini adalah dengan metode konvensional seperti ini,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
2. Pemanfaatan Masih Terbatas&#13;
&#13;
Di sisi lain, Haeru tak menampik ikan sapu-sapu memiliki potensi untuk dimanfaatkan, seperti dijadikan pupuk organik maupun bahan baku tepung ikan. Namun, pemanfaatan tersebut belum dapat dilakukan secara luas.&#13;
&#13;
Ia menjelaskan, terdapat kekhawatiran terkait kandungan residu pada ikan sapu-sapu, terutama yang hidup di perairan tercemar seperti saluran dan kanal di perkotaan. Kondisi ini dinilai berpotensi membahayakan jika masuk ke rantai makanan manusia.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau jadikan tepung ikan kemudian dimakan oleh ikan, ikannya dimakan oleh manusia, maka punya potensi untuk masuk ke manusia,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Haeru juga mencontohkan kasus serupa di Danau Toba, Sumatera Utara, dengan kemunculan ikan invasif jenis red devil yang kini mendominasi hasil tangkapan nelayan.&#13;
&#13;
Ia menyebut, meski memiliki kemiripan dengan ikan sapu-sapu, kondisi ikan red devil relatif lebih baik karena hidup di perairan dengan kualitas air yang lebih bersih. Namun, ikan tersebut tetap tidak diminati untuk dikonsumsi.&#13;
&#13;
Oleh karena itu, KKP akan bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengoptimalkan pemanfaatan ikan sapu-sapu.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ini tidak enak dikonsumsi begitu sehingga saat ini kami bekerja sama dengan BRIN untuk bisa memanfaatkan agar bisa lebih utilize begitu,&amp;quot; ucapnya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta telah mencapai tingkat mengkhawatirkan. Namun, hingga kini pemanfaatan ikan tersebut masih terbatas.&#13;
&#13;
1. Populasi Ikan Sapu-Sapu&#13;
&#13;
Direktur Jenderal Perikananan Budidaya KKP, Haeru Rahayu mengatakan, pengendalian dengan cara konvensional seperti penangkapan dan pemusnahan masih menjadi metode paling efektif hingga saat ini.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kenapa ikan sapu-sapu ini wajib kita kendalikan? Karena populasinya sudah begitu dahsyat,&amp;quot; ucap Haeru kepada wartawan di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026).&#13;
&#13;
Menurutnya, hingga saat ini belum ada metode biologis yang efektif untuk mengendalikan ikan sapu-sapu. Upaya menghadirkan predator alami justru dikhawatirkan memunculkan persoalan baru dalam keseimbangan ekosistem.&#13;
&#13;
&amp;quot;Banyak cara sebetulnya, secara biologis kita belum ada predator yang langsung memakan. Kalaupun ada nanti akan menjadi persoalan selanjutnya,&amp;quot; ucap Haeru.&#13;
&#13;
Selain itu, pendekatan kimia juga dinilai berisiko terhadap lingkungan sehingga belum menjadi pilihan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Secara kimia, ini juga akan punya persoalan dengan lingkungan, maka yang paling efektif hingga detik ini adalah dengan metode konvensional seperti ini,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
2. Pemanfaatan Masih Terbatas&#13;
&#13;
Di sisi lain, Haeru tak menampik ikan sapu-sapu memiliki potensi untuk dimanfaatkan, seperti dijadikan pupuk organik maupun bahan baku tepung ikan. Namun, pemanfaatan tersebut belum dapat dilakukan secara luas.&#13;
&#13;
Ia menjelaskan, terdapat kekhawatiran terkait kandungan residu pada ikan sapu-sapu, terutama yang hidup di perairan tercemar seperti saluran dan kanal di perkotaan. Kondisi ini dinilai berpotensi membahayakan jika masuk ke rantai makanan manusia.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau jadikan tepung ikan kemudian dimakan oleh ikan, ikannya dimakan oleh manusia, maka punya potensi untuk masuk ke manusia,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Haeru juga mencontohkan kasus serupa di Danau Toba, Sumatera Utara, dengan kemunculan ikan invasif jenis red devil yang kini mendominasi hasil tangkapan nelayan.&#13;
&#13;
Ia menyebut, meski memiliki kemiripan dengan ikan sapu-sapu, kondisi ikan red devil relatif lebih baik karena hidup di perairan dengan kualitas air yang lebih bersih. Namun, ikan tersebut tetap tidak diminati untuk dikonsumsi.&#13;
&#13;
Oleh karena itu, KKP akan bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengoptimalkan pemanfaatan ikan sapu-sapu.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ini tidak enak dikonsumsi begitu sehingga saat ini kami bekerja sama dengan BRIN untuk bisa memanfaatkan agar bisa lebih utilize begitu,&amp;quot; ucapnya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
