<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Kartini Perjuangkan Kesetaraan Hak Perempuan hingga Harus Rela Jadi Istri ke-4 Bupati</title><description>Sejak kecil, Kartini memang terlihat lebih aktif dan lincah dibanding saudara-saudaranya. Ia juga berani dengan pemikirannya yang kritis.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/04/21/337/3213678/kisah-kartini-perjuangkan-kesetaraan-hak-perempuan-hingga-harus-rela-jadi-istri-ke-4-bupati</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/04/21/337/3213678/kisah-kartini-perjuangkan-kesetaraan-hak-perempuan-hingga-harus-rela-jadi-istri-ke-4-bupati"/><item><title>Kisah Kartini Perjuangkan Kesetaraan Hak Perempuan hingga Harus Rela Jadi Istri ke-4 Bupati</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/04/21/337/3213678/kisah-kartini-perjuangkan-kesetaraan-hak-perempuan-hingga-harus-rela-jadi-istri-ke-4-bupati</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/04/21/337/3213678/kisah-kartini-perjuangkan-kesetaraan-hak-perempuan-hingga-harus-rela-jadi-istri-ke-4-bupati</guid><pubDate>Selasa 21 April 2026 07:22 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/04/21/337/3213678/viral-1poV_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kisah Kartini Perjuangkan Kesetaraan Hak Perempuan hingga Harus Rela Jadi Istri ke-4 Bupati</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/04/21/337/3213678/viral-1poV_large.jpg</image><title>Kisah Kartini Perjuangkan Kesetaraan Hak Perempuan hingga Harus Rela Jadi Istri ke-4 Bupati</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Setiap tanggal 21 April kita memperingati Hari Kartini untuk mengingat semangat perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini. &amp;nbsp;Perempuan kelahiran Mayong, Jepara, 21 April 1879 ini dikenal sebagai pahlawan nasional yang memperjuangkan kesetaraan hak bagi perempuan.&#13;
&#13;
Kartini adalah putri Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, dan Mas Ajeng Ngasirah. Ayahnya kemudian menikah lagi dengan Raden Ajeng Moeryam dan dikaruniai 3 orang anak.&#13;
&#13;
Melansir buku Sisi Lain Kartini yang ditulis oleh Djoko Marhandono, dkk, Selasa (21/4/2026), &amp;nbsp;keputusan sang ayah untuk melakukan poligami membuat Kartini mengalami pergolakan batin.&#13;
&#13;
Apalagi, saat ayahnya diangkat menjadi bupati Jepara yang membuat istri kedua ayahnya menjadi istri utama, sebab ia berasal dari keluarga bangsawan pula. Hal tersebut menjadikan Moeryam sebagai garwa padmi dan Ngasirah berkedudukan sebagai garwa ampil.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Alhasil, Kartini dan saudara-saudara harus memanggil ibu kandung mereka dengan sebutan &amp;lsquo;Yu&amp;rsquo;. Sementara, ibu tirinya mereka panggil dengan &amp;lsquo;Ibu&amp;rsquo;. Yang lebih ironis, Ngasirah harus memanggil anak-anaknya dengan sebutan &amp;lsquo;Ndoro&amp;rsquo;.&#13;
&#13;
Sejak kecil, Kartini memang terlihat lebih aktif dan lincah dibanding saudara-saudaranya. Ia juga berani dengan pemikirannya yang kritis. Hal itu ia utarakan kepada sahabat penanya di Belanda, Estelle Zeehandelaar pada 18 Agustus 1899.&#13;
&#13;
Kartini mengaku, sering tertawa terbahak-bahak dan menunjukkan banyak giginya. Tindakan itu sebenarnya dilarang dan mencerminkan ketidaksopanan. Karena tingkahnya yang aktif, ia dipanggil Trinil atau Nil oleh ayah dan saudaranya.&#13;
&#13;
Dalam buku R.A. Kartini: Biografi Singkat 1879-1904 karya Imron Rosyadi, disebutkan bahwa kakek Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, sudah diangkat sebagai bupati di usianya yang baru menginjak 25 tahun. Dirinya juga mendidik semua anak-anaknya dengan ajaran Barat. Bahkan, mendatangkan guru khusus dari Belanda.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kartini beruntung karena mendapatkan pendidikan langsung di sekolah Belanda, yakni ELS (Europese Lagere School). &amp;nbsp;Namun, ia mendapat tindakan kurang menyenangkan dari guru-gurunya di sekolah.&#13;
&#13;
Sebab, mereka yang rata-rata berasal dari Belanda memandang sebelah mata terhadap siswa-siswi pribumi. Oleh karena itu, Kartini berusaha sekuat tenaga untuk menonjol dan menjadi anak yang cerdas.&#13;
&#13;
Kartini amat gemar membaca dan menulis. Ia rajin melakukan surat-menyurat dengan sahabat-sahabat penanya yang ada di negeri Belanda.&#13;
&#13;
Di tengah keasyikannya menjalankan pendidikan, ayahnya memaksa Kartini untuk berhenti. Menurut sang ayah, perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi. Kartini dipingit dan akan dinikahkan oleh laki-laki pilihan ayahnya. Meskipun kecewa, Kartini tetap tidak patah arang. Ia terus belajar dan lebih rutin berkirim surat.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Bersamaan dengan itu, timbul keinginan dan gagasannya untuk menyuarakan kesetaraan hak terhadap kaum perempuan. Ia juga sangat ingin memajukan perempuan pribumi yang selama ini terkesan diremehkan.&#13;
&#13;
Sementara itu, pada 12 November 1903, Kartini resmi menjadi istri Bupati Rembang, K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah memiliki 3 istri.&#13;
&#13;
Beruntung, sang suami tidak mengekang Kartini dan memberikan kebebasan baginya untuk bersuara. Ario Singgih juga mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah khusus perempuan yang berada di samping timur pintu gerbang kompleks kantor Bupati Rembang. Kartini meninggal dunia empat hari usai melahirkan anak pertamanya, Soesalit Djojoadhiningrat, pada 17 September 1904.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Setiap tanggal 21 April kita memperingati Hari Kartini untuk mengingat semangat perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini. &amp;nbsp;Perempuan kelahiran Mayong, Jepara, 21 April 1879 ini dikenal sebagai pahlawan nasional yang memperjuangkan kesetaraan hak bagi perempuan.&#13;
&#13;
Kartini adalah putri Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, dan Mas Ajeng Ngasirah. Ayahnya kemudian menikah lagi dengan Raden Ajeng Moeryam dan dikaruniai 3 orang anak.&#13;
&#13;
Melansir buku Sisi Lain Kartini yang ditulis oleh Djoko Marhandono, dkk, Selasa (21/4/2026), &amp;nbsp;keputusan sang ayah untuk melakukan poligami membuat Kartini mengalami pergolakan batin.&#13;
&#13;
Apalagi, saat ayahnya diangkat menjadi bupati Jepara yang membuat istri kedua ayahnya menjadi istri utama, sebab ia berasal dari keluarga bangsawan pula. Hal tersebut menjadikan Moeryam sebagai garwa padmi dan Ngasirah berkedudukan sebagai garwa ampil.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Alhasil, Kartini dan saudara-saudara harus memanggil ibu kandung mereka dengan sebutan &amp;lsquo;Yu&amp;rsquo;. Sementara, ibu tirinya mereka panggil dengan &amp;lsquo;Ibu&amp;rsquo;. Yang lebih ironis, Ngasirah harus memanggil anak-anaknya dengan sebutan &amp;lsquo;Ndoro&amp;rsquo;.&#13;
&#13;
Sejak kecil, Kartini memang terlihat lebih aktif dan lincah dibanding saudara-saudaranya. Ia juga berani dengan pemikirannya yang kritis. Hal itu ia utarakan kepada sahabat penanya di Belanda, Estelle Zeehandelaar pada 18 Agustus 1899.&#13;
&#13;
Kartini mengaku, sering tertawa terbahak-bahak dan menunjukkan banyak giginya. Tindakan itu sebenarnya dilarang dan mencerminkan ketidaksopanan. Karena tingkahnya yang aktif, ia dipanggil Trinil atau Nil oleh ayah dan saudaranya.&#13;
&#13;
Dalam buku R.A. Kartini: Biografi Singkat 1879-1904 karya Imron Rosyadi, disebutkan bahwa kakek Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, sudah diangkat sebagai bupati di usianya yang baru menginjak 25 tahun. Dirinya juga mendidik semua anak-anaknya dengan ajaran Barat. Bahkan, mendatangkan guru khusus dari Belanda.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kartini beruntung karena mendapatkan pendidikan langsung di sekolah Belanda, yakni ELS (Europese Lagere School). &amp;nbsp;Namun, ia mendapat tindakan kurang menyenangkan dari guru-gurunya di sekolah.&#13;
&#13;
Sebab, mereka yang rata-rata berasal dari Belanda memandang sebelah mata terhadap siswa-siswi pribumi. Oleh karena itu, Kartini berusaha sekuat tenaga untuk menonjol dan menjadi anak yang cerdas.&#13;
&#13;
Kartini amat gemar membaca dan menulis. Ia rajin melakukan surat-menyurat dengan sahabat-sahabat penanya yang ada di negeri Belanda.&#13;
&#13;
Di tengah keasyikannya menjalankan pendidikan, ayahnya memaksa Kartini untuk berhenti. Menurut sang ayah, perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi. Kartini dipingit dan akan dinikahkan oleh laki-laki pilihan ayahnya. Meskipun kecewa, Kartini tetap tidak patah arang. Ia terus belajar dan lebih rutin berkirim surat.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Bersamaan dengan itu, timbul keinginan dan gagasannya untuk menyuarakan kesetaraan hak terhadap kaum perempuan. Ia juga sangat ingin memajukan perempuan pribumi yang selama ini terkesan diremehkan.&#13;
&#13;
Sementara itu, pada 12 November 1903, Kartini resmi menjadi istri Bupati Rembang, K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah memiliki 3 istri.&#13;
&#13;
Beruntung, sang suami tidak mengekang Kartini dan memberikan kebebasan baginya untuk bersuara. Ario Singgih juga mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah khusus perempuan yang berada di samping timur pintu gerbang kompleks kantor Bupati Rembang. Kartini meninggal dunia empat hari usai melahirkan anak pertamanya, Soesalit Djojoadhiningrat, pada 17 September 1904.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
