<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Muktamar NU ke-35, Gus Rosikh: Saatnya Kembalikan PBNU ke Pondok Pesantren!</title><description>Dia juga berharap proses kepemimpinan di PBNU ke depan benar-benar mencerminkan integritas, kapasitas keilmuan, serta komitmen terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/04/28/338/3215219/muktamar-nu-ke-35-gus-rosikh-saatnya-kembalikan-pbnu-ke-pondok-pesantren</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/04/28/338/3215219/muktamar-nu-ke-35-gus-rosikh-saatnya-kembalikan-pbnu-ke-pondok-pesantren"/><item><title>Muktamar NU ke-35, Gus Rosikh: Saatnya Kembalikan PBNU ke Pondok Pesantren!</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/04/28/338/3215219/muktamar-nu-ke-35-gus-rosikh-saatnya-kembalikan-pbnu-ke-pondok-pesantren</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/04/28/338/3215219/muktamar-nu-ke-35-gus-rosikh-saatnya-kembalikan-pbnu-ke-pondok-pesantren</guid><pubDate>Selasa 28 April 2026 16:24 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/04/28/338/3215219/pbnu-lA8C_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi/Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/04/28/338/3215219/pbnu-lA8C_large.jpg</image><title>Ilustrasi/Foto: Okezone</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Pengasuh Pondok Pesantren Ma&amp;rsquo;hadul Ilmi As-Syar&amp;rsquo;iyati (MIS) Sarang, Kiai Achmad Rosikh Roghibi (Gus Rosikh), menegaskan, pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) harus dijaga dari berbagai kepentingan politik praktis maupun orientasi ekonomi yang berpotensi mencederai nilai-nilai luhur organisasi.&#13;
&#13;
Gus Rosikh menjelaskan, bahwa Muktamar sebagai forum permusyawaratan tertinggi NU semestinya menjadi ruang yang sakral, diisi oleh semangat keikhlasan dan tanggung jawab keumatan, bukan arena perebutan kekuasaan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;NU ini berdiri di atas fondasi perjuangan para ulama. Kalau Muktamar sudah disusupi kepentingan politik dan kepentingan materi, maka arah perjuangan NU akan menyimpang dari khittahnya,&amp;rdquo; ujarnya, Selasa (28/4/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dia juga menekankan pentingnya mengembalikan marwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai representasi dari dunia pesantren. PBNU, lanjutnya, harus kembali berpijak pada nilai-nilai kepesantrenan yang menjunjung tinggi akhlak, keilmuan, serta kemandirian ulama.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;PBNU harus kembali ke pesantren, kembali ke ulama yang benar-benar hidup dalam tradisi keilmuan dan pengabdian. Jangan sampai NU hanya menjadi alat kepentingan kekuasaan,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Dia juga berharap, kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali kepada dzuriyah muasis, yakni keturunan para pendiri NU, yang dinilai memiliki kedekatan historis, kultural, dan spiritual dengan nilai-nilai dasar organisasi.&#13;
&#13;
Menurutnya, dzuriyah muassis tidak hanya membawa legitimasi genealogis, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga warisan perjuangan para ulama pendiri NU agar tetap berada di jalur yang benar.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sudah saatnya PBNU kembali dipimpin oleh dzuriyah muassis yang memahami betul ruh perjuangan NU. Ini bukan soal eksklusivitas, tapi soal menjaga kesinambungan nilai dan amanah para pendiri,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Gus Rosikh &amp;nbsp;juga mengingatkan bahwa dominasi kepentingan politik dalam tubuh NU berisiko menimbulkan polarisasi di kalangan warga nahdliyin serta mengikis kepercayaan publik terhadap independensi organisasi.&#13;
&#13;
Oleh karena itu, dia juga mengajak seluruh elemen NU untuk bersama-sama menjaga marwah Muktamar agar tetap bersih, jujur, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.&#13;
&#13;
Dia juga berharap proses kepemimpinan di PBNU ke depan benar-benar mencerminkan integritas, kapasitas keilmuan, serta komitmen terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dengan demikian, NU diharapkan tetap menjadi kekuatan moral dan sosial yang mampu menjaga persatuan bangsa serta menghadirkan Islam yang rahmatan lil alamin di tengah dinamika zaman,&amp;rdquo;pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Pengasuh Pondok Pesantren Ma&amp;rsquo;hadul Ilmi As-Syar&amp;rsquo;iyati (MIS) Sarang, Kiai Achmad Rosikh Roghibi (Gus Rosikh), menegaskan, pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) harus dijaga dari berbagai kepentingan politik praktis maupun orientasi ekonomi yang berpotensi mencederai nilai-nilai luhur organisasi.&#13;
&#13;
Gus Rosikh menjelaskan, bahwa Muktamar sebagai forum permusyawaratan tertinggi NU semestinya menjadi ruang yang sakral, diisi oleh semangat keikhlasan dan tanggung jawab keumatan, bukan arena perebutan kekuasaan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;NU ini berdiri di atas fondasi perjuangan para ulama. Kalau Muktamar sudah disusupi kepentingan politik dan kepentingan materi, maka arah perjuangan NU akan menyimpang dari khittahnya,&amp;rdquo; ujarnya, Selasa (28/4/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dia juga menekankan pentingnya mengembalikan marwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai representasi dari dunia pesantren. PBNU, lanjutnya, harus kembali berpijak pada nilai-nilai kepesantrenan yang menjunjung tinggi akhlak, keilmuan, serta kemandirian ulama.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;PBNU harus kembali ke pesantren, kembali ke ulama yang benar-benar hidup dalam tradisi keilmuan dan pengabdian. Jangan sampai NU hanya menjadi alat kepentingan kekuasaan,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Dia juga berharap, kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali kepada dzuriyah muasis, yakni keturunan para pendiri NU, yang dinilai memiliki kedekatan historis, kultural, dan spiritual dengan nilai-nilai dasar organisasi.&#13;
&#13;
Menurutnya, dzuriyah muassis tidak hanya membawa legitimasi genealogis, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga warisan perjuangan para ulama pendiri NU agar tetap berada di jalur yang benar.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sudah saatnya PBNU kembali dipimpin oleh dzuriyah muassis yang memahami betul ruh perjuangan NU. Ini bukan soal eksklusivitas, tapi soal menjaga kesinambungan nilai dan amanah para pendiri,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Gus Rosikh &amp;nbsp;juga mengingatkan bahwa dominasi kepentingan politik dalam tubuh NU berisiko menimbulkan polarisasi di kalangan warga nahdliyin serta mengikis kepercayaan publik terhadap independensi organisasi.&#13;
&#13;
Oleh karena itu, dia juga mengajak seluruh elemen NU untuk bersama-sama menjaga marwah Muktamar agar tetap bersih, jujur, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.&#13;
&#13;
Dia juga berharap proses kepemimpinan di PBNU ke depan benar-benar mencerminkan integritas, kapasitas keilmuan, serta komitmen terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dengan demikian, NU diharapkan tetap menjadi kekuatan moral dan sosial yang mampu menjaga persatuan bangsa serta menghadirkan Islam yang rahmatan lil alamin di tengah dinamika zaman,&amp;rdquo;pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
