<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BRIN Sebut Logam Berat pada Ikan Sapu-sapu Tak Hilang Meski Diolah Jadi Siomay</title><description>Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menanggapi isu penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku siomay. Isu tersebut kian marak dibahas setelah Pemerintah Kota (Pemkot) DKI Jakarta menangkap 11 ton ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung belum lama ini.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/04/30/337/3215718/brin-sebut-logam-berat-pada-ikan-sapu-sapu-tak-hilang-meski-diolah-jadi-siomay</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/04/30/337/3215718/brin-sebut-logam-berat-pada-ikan-sapu-sapu-tak-hilang-meski-diolah-jadi-siomay"/><item><title>BRIN Sebut Logam Berat pada Ikan Sapu-sapu Tak Hilang Meski Diolah Jadi Siomay</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/04/30/337/3215718/brin-sebut-logam-berat-pada-ikan-sapu-sapu-tak-hilang-meski-diolah-jadi-siomay</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/04/30/337/3215718/brin-sebut-logam-berat-pada-ikan-sapu-sapu-tak-hilang-meski-diolah-jadi-siomay</guid><pubDate>Kamis 30 April 2026 21:05 WIB</pubDate><dc:creator>Ravie Wardani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/04/30/337/3215718/petugas_ppsu-Nfew_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Petugas PPSU saat cari ikan sapu sapu (foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/04/30/337/3215718/petugas_ppsu-Nfew_large.jpg</image><title>Petugas PPSU saat cari ikan sapu sapu (foto: Okezone)</title></images><description>&#13;
&#13;
JAKARTA &amp;ndash; Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menanggapi isu penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku siomay. Isu tersebut kian marak dibahas setelah Pemerintah Kota (Pemkot) DKI Jakarta menangkap 11 ton ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung belum lama ini.&#13;
&#13;
Menanggapi hal tersebut, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, angkat bicara mengenai risiko kesehatan yang mengintai.&#13;
&#13;
Triyanto menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu memiliki sifat bioakumulasi, yakni logam berat yang terserap dari air tercemar akan mengendap secara permanen di dalam jaringan tubuh, termasuk dagingnya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Logam berat yang terkandung di ikan sapu-sapu, jika dikonsumsi dalam jumlah melebihi batas ambang aman, itu berbahaya,&amp;quot; ujar Triyanto usai sesi diskusi di kantornya, Kamis (30/4/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ia menambahkan, meskipun proses pengolahan dilakukan, kandungan logam berat tersebut tidak akan hilang.&#13;
&#13;
&amp;quot;Logam berat ini sifatnya bioakumulasi, tidak akan berkurang,&amp;quot; tegasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Terkait konsumsi siomay yang diduga mengandung ikan sapu-sapu, Triyanto meminta masyarakat tidak terlalu panik jika hanya mengonsumsinya dalam jumlah kecil. Namun, risiko akan meningkat jika dikonsumsi secara rutin.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau kita makan setiap minggu sampai 8 kilogram secara berturut-turut setiap tahun, nah itu baru berbahaya. Tapi kalau sekali-sekali, saya kira masih bisa ditoleransi oleh tubuh kita,&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
Oleh karena itu, ia menyarankan masyarakat lebih jeli saat membeli makanan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Yang penting kita lebih peduli, kita bisa bertanya kepada penjual, mohon maaf, ini dagingnya sehat atau tidak. Nanti bisa ditelusuri lebih lanjut,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
JAKARTA &amp;ndash; Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menanggapi isu penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku siomay. Isu tersebut kian marak dibahas setelah Pemerintah Kota (Pemkot) DKI Jakarta menangkap 11 ton ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung belum lama ini.&#13;
&#13;
Menanggapi hal tersebut, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, angkat bicara mengenai risiko kesehatan yang mengintai.&#13;
&#13;
Triyanto menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu memiliki sifat bioakumulasi, yakni logam berat yang terserap dari air tercemar akan mengendap secara permanen di dalam jaringan tubuh, termasuk dagingnya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Logam berat yang terkandung di ikan sapu-sapu, jika dikonsumsi dalam jumlah melebihi batas ambang aman, itu berbahaya,&amp;quot; ujar Triyanto usai sesi diskusi di kantornya, Kamis (30/4/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ia menambahkan, meskipun proses pengolahan dilakukan, kandungan logam berat tersebut tidak akan hilang.&#13;
&#13;
&amp;quot;Logam berat ini sifatnya bioakumulasi, tidak akan berkurang,&amp;quot; tegasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Terkait konsumsi siomay yang diduga mengandung ikan sapu-sapu, Triyanto meminta masyarakat tidak terlalu panik jika hanya mengonsumsinya dalam jumlah kecil. Namun, risiko akan meningkat jika dikonsumsi secara rutin.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau kita makan setiap minggu sampai 8 kilogram secara berturut-turut setiap tahun, nah itu baru berbahaya. Tapi kalau sekali-sekali, saya kira masih bisa ditoleransi oleh tubuh kita,&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
Oleh karena itu, ia menyarankan masyarakat lebih jeli saat membeli makanan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Yang penting kita lebih peduli, kita bisa bertanya kepada penjual, mohon maaf, ini dagingnya sehat atau tidak. Nanti bisa ditelusuri lebih lanjut,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
