<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Korupsi Chromebook Rp2,1 Triliun Dinilai Hancurkan Moral Guru</title><description>Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) melontarkan kritik keras, terkait kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook yang tengah diusut Kejaksaan Agung Republik Indonesia.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/05/09/337/3217419/korupsi-chromebook-rp2-1-triliun-dinilai-hancurkan-moral-guru</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/05/09/337/3217419/korupsi-chromebook-rp2-1-triliun-dinilai-hancurkan-moral-guru"/><item><title>Korupsi Chromebook Rp2,1 Triliun Dinilai Hancurkan Moral Guru</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/05/09/337/3217419/korupsi-chromebook-rp2-1-triliun-dinilai-hancurkan-moral-guru</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/05/09/337/3217419/korupsi-chromebook-rp2-1-triliun-dinilai-hancurkan-moral-guru</guid><pubDate>Sabtu 09 Mei 2026 17:56 WIB</pubDate><dc:creator>Awaludin</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/05/09/337/3217419/kasus_korupsi-f7EP_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kasus Korupsi (foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/05/09/337/3217419/kasus_korupsi-f7EP_large.jpg</image><title>Kasus Korupsi (foto: Okezone)</title></images><description>&#13;
&#13;
JAKARTA - Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) melontarkan kritik keras, terkait kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook yang tengah diusut Kejaksaan Agung Republik Indonesia.&#13;
&#13;
Kepala Bidang Advokasi Guru P2G, Iman Zanatul Khairi menilai kasus tersebut bukan sekadar persoalan kerugian negara, melainkan tragedi pendidikan yang melukai para guru.&#13;
&#13;
Menurut Iman, pengadaan laptop di tengah kondisi sekolah rusak dan rendahnya kesejahteraan guru honorer menjadi ironi besar, terutama di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Beli laptop ngapain? Kita butuh gaji,&amp;rdquo; ujar Iman, Sabtu (9/5/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ia menilai digitalisasi pendidikan yang dipaksakan justru menambah beban guru. Alih-alih mengurangi administrasi, guru kini harus mengejar target penggunaan aplikasi dan indikator digital yang dinilai tidak berkaitan langsung dengan kualitas pembelajaran.&#13;
&#13;
P2G juga menyoroti fitur testimoni otomatis dalam Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang dianggap merendahkan martabat profesi guru karena mendorong guru mengunggah aktivitas ke media sosial.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Guru-guru harus begadang malam-malam hanya demi aplikasi, bukan demi murid. Ini mengkhianati profesi,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
P2G mendukung langkah Kejaksaan Agung mengusut dugaan kerugian negara hingga Rp2,1 triliun dalam kasus tersebut.&#13;
&#13;
Menurut Iman, anggaran sebesar itu seharusnya dapat digunakan untuk kebutuhan pendidikan yang lebih mendasar, seperti perbaikan sekolah dan penyediaan buku bacaan berkualitas di daerah terpencil.&#13;
&#13;
Ia juga mengingatkan kondisi literasi nasional yang dinilai masih darurat dan meminta kasus ini dibuka secara terang benderang.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jangan sampai masa depan anak bangsa kembali dikorupsi demi ambisi teknologi yang tidak menyentuh akar masalah,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
JAKARTA - Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) melontarkan kritik keras, terkait kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook yang tengah diusut Kejaksaan Agung Republik Indonesia.&#13;
&#13;
Kepala Bidang Advokasi Guru P2G, Iman Zanatul Khairi menilai kasus tersebut bukan sekadar persoalan kerugian negara, melainkan tragedi pendidikan yang melukai para guru.&#13;
&#13;
Menurut Iman, pengadaan laptop di tengah kondisi sekolah rusak dan rendahnya kesejahteraan guru honorer menjadi ironi besar, terutama di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Beli laptop ngapain? Kita butuh gaji,&amp;rdquo; ujar Iman, Sabtu (9/5/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ia menilai digitalisasi pendidikan yang dipaksakan justru menambah beban guru. Alih-alih mengurangi administrasi, guru kini harus mengejar target penggunaan aplikasi dan indikator digital yang dinilai tidak berkaitan langsung dengan kualitas pembelajaran.&#13;
&#13;
P2G juga menyoroti fitur testimoni otomatis dalam Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang dianggap merendahkan martabat profesi guru karena mendorong guru mengunggah aktivitas ke media sosial.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Guru-guru harus begadang malam-malam hanya demi aplikasi, bukan demi murid. Ini mengkhianati profesi,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
P2G mendukung langkah Kejaksaan Agung mengusut dugaan kerugian negara hingga Rp2,1 triliun dalam kasus tersebut.&#13;
&#13;
Menurut Iman, anggaran sebesar itu seharusnya dapat digunakan untuk kebutuhan pendidikan yang lebih mendasar, seperti perbaikan sekolah dan penyediaan buku bacaan berkualitas di daerah terpencil.&#13;
&#13;
Ia juga mengingatkan kondisi literasi nasional yang dinilai masih darurat dan meminta kasus ini dibuka secara terang benderang.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jangan sampai masa depan anak bangsa kembali dikorupsi demi ambisi teknologi yang tidak menyentuh akar masalah,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
