<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wabah Ebola Merebak di Kongo, 65 Orang Tewas</title><description>Wabah Ebola merebak Republik Demokratik Kongo. Menurut pejabat kesehatan Afrika, sebanyak 65 orang meninggal dunia akibat wabah tersebut.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/05/15/18/3218701/wabah-ebola-merebak-di-kongo-65-orang-tewas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/05/15/18/3218701/wabah-ebola-merebak-di-kongo-65-orang-tewas"/><item><title>Wabah Ebola Merebak di Kongo, 65 Orang Tewas</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/05/15/18/3218701/wabah-ebola-merebak-di-kongo-65-orang-tewas</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/05/15/18/3218701/wabah-ebola-merebak-di-kongo-65-orang-tewas</guid><pubDate>Jum'at 15 Mei 2026 20:59 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/05/15/18/3218701/wabah_ebola-tNQh_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wabah Ebola (Foto: AP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/05/15/18/3218701/wabah_ebola-tNQh_large.jpg</image><title>Wabah Ebola (Foto: AP)</title></images><description>KONGO - Wabah Ebola merebak Republik Demokratik Kongo. Menurut pejabat kesehatan Afrika, sebanyak 65 orang meninggal dunia akibat wabah tersebut.&#13;
&#13;
Para pejabat di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) mengatakan, mereka khawatir wabah tersebut terus menyebar. Apalagi, daerah tersebut rumah bagi kota-kota pertambangan di mana orang terus datang dan pergi, sehingga menyulitkan pengendalian penyakit menular.&#13;
&#13;
Ebola adalah penyakit parah dengan tingkat kematian tinggi yang menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh seperti darah atau muntahan orang yang terinfeksi, atau mayat, misalnya selama persiapan pemakaman.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Laboratorium penelitian nasional DRC telah mendeteksi virus Ebola dalam 13 dari 20 sampel yang diuji, kata Africa CDC pada Jumat (15/5/2026) melansir The Guardian.&#13;
&#13;
Republik Demokratik Kongo telah mengalami 16 wabah Ebola sejak virus tersebut diidentifikasi di sana pada 1976. Biasanya mereka terinfeksi strain Ebola Zaire, yang vaksinnya sudah tersedia.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun, Africa CDC mengatakan pengujian awal menunjukkan wabah saat ini adalah jenis yang berbeda, dengan hasil pengurutan genetik yang lebih lengkap akan keluar dalam 24 jam.&#13;
&#13;
Lembaga pengawas kesehatan tersebut mengatakan akan mengadakan pertemuan mendesak pada hari Jumat dengan pihak berwenang dari DRC, Uganda, dan Sudan Selatan, serta Organisasi Kesehatan Dunia dan perusahaan farmasi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Africa CDC menyatakan solidaritasnya dengan pemerintah dan rakyat Republik Demokratik Kongo dalam menanggapi wabah ini,&amp;rdquo; kata Jean Kaseya, direktur jenderal Africa CDC.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mengingat tingginya pergerakan penduduk antara daerah yang terdampak dan negara-negara tetangga, koordinasi regional yang cepat sangat penting,&amp;rdquo; imbuhnya.&#13;
&#13;
Kasus-kasus tersebut sebagian besar dilaporkan di zona kesehatan Mongwalu dan Rwampara. Michael Head, peneliti senior bidang kesehatan global di Universitas Southampton di Inggris, mengatakan, &amp;ldquo;Republik Demokratik Kongo sering mengalami kematian akibat Ebola. Kemungkinan ada serangkaian faktor yang menyebabkan wabah yang terjadi secara berkala ini. Kontak dekat manusia dengan reservoir hewan, kemungkinan besar kelelawar tetapi mungkin juga primata, adalah salah satu faktornya. Kekhawatiran lainnya termasuk pergerakan orang antara lingkungan pedesaan dan perkotaan, iklim tropis, dan tutupan hutan hujan yang tinggi,&amp;rdquo; tuturnya.&#13;
</description><content:encoded>KONGO - Wabah Ebola merebak Republik Demokratik Kongo. Menurut pejabat kesehatan Afrika, sebanyak 65 orang meninggal dunia akibat wabah tersebut.&#13;
&#13;
Para pejabat di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) mengatakan, mereka khawatir wabah tersebut terus menyebar. Apalagi, daerah tersebut rumah bagi kota-kota pertambangan di mana orang terus datang dan pergi, sehingga menyulitkan pengendalian penyakit menular.&#13;
&#13;
Ebola adalah penyakit parah dengan tingkat kematian tinggi yang menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh seperti darah atau muntahan orang yang terinfeksi, atau mayat, misalnya selama persiapan pemakaman.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Laboratorium penelitian nasional DRC telah mendeteksi virus Ebola dalam 13 dari 20 sampel yang diuji, kata Africa CDC pada Jumat (15/5/2026) melansir The Guardian.&#13;
&#13;
Republik Demokratik Kongo telah mengalami 16 wabah Ebola sejak virus tersebut diidentifikasi di sana pada 1976. Biasanya mereka terinfeksi strain Ebola Zaire, yang vaksinnya sudah tersedia.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun, Africa CDC mengatakan pengujian awal menunjukkan wabah saat ini adalah jenis yang berbeda, dengan hasil pengurutan genetik yang lebih lengkap akan keluar dalam 24 jam.&#13;
&#13;
Lembaga pengawas kesehatan tersebut mengatakan akan mengadakan pertemuan mendesak pada hari Jumat dengan pihak berwenang dari DRC, Uganda, dan Sudan Selatan, serta Organisasi Kesehatan Dunia dan perusahaan farmasi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Africa CDC menyatakan solidaritasnya dengan pemerintah dan rakyat Republik Demokratik Kongo dalam menanggapi wabah ini,&amp;rdquo; kata Jean Kaseya, direktur jenderal Africa CDC.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mengingat tingginya pergerakan penduduk antara daerah yang terdampak dan negara-negara tetangga, koordinasi regional yang cepat sangat penting,&amp;rdquo; imbuhnya.&#13;
&#13;
Kasus-kasus tersebut sebagian besar dilaporkan di zona kesehatan Mongwalu dan Rwampara. Michael Head, peneliti senior bidang kesehatan global di Universitas Southampton di Inggris, mengatakan, &amp;ldquo;Republik Demokratik Kongo sering mengalami kematian akibat Ebola. Kemungkinan ada serangkaian faktor yang menyebabkan wabah yang terjadi secara berkala ini. Kontak dekat manusia dengan reservoir hewan, kemungkinan besar kelelawar tetapi mungkin juga primata, adalah salah satu faktornya. Kekhawatiran lainnya termasuk pergerakan orang antara lingkungan pedesaan dan perkotaan, iklim tropis, dan tutupan hutan hujan yang tinggi,&amp;rdquo; tuturnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
