<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Istri Relawan WNI: Tegang Saat Suami Putus Kontak dan Ditawan Israel</title><description>Iis Khalifah mengungkapkan ketegangan yang dia dan keluarga rasakan saat sang suami, Asad Aras Muhammad,hilang kontak di tengah misi ke Gaza. &#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/05/22/337/3220195/cerita-istri-relawan-wni-tegang-saat-suami-putus-kontak-dan-ditawan-israel</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/05/22/337/3220195/cerita-istri-relawan-wni-tegang-saat-suami-putus-kontak-dan-ditawan-israel"/><item><title>Cerita Istri Relawan WNI: Tegang Saat Suami Putus Kontak dan Ditawan Israel</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/05/22/337/3220195/cerita-istri-relawan-wni-tegang-saat-suami-putus-kontak-dan-ditawan-israel</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/05/22/337/3220195/cerita-istri-relawan-wni-tegang-saat-suami-putus-kontak-dan-ditawan-israel</guid><pubDate>Sabtu 23 Mei 2026 01:05 WIB</pubDate><dc:creator>Yuwantoro Winduajie</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/05/22/337/3220195/iis_khalifah-fpjm_large.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Iis Khalifah istri dari aktivis kemanusiaan Asad Aras Muhammad, mengungkapkan perasaan saat suaminya putus kontak di tengah misi ke Gaza. (Foto: Yuwantoro/IMG)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/05/22/337/3220195/iis_khalifah-fpjm_large.jpeg</image><title>Iis Khalifah istri dari aktivis kemanusiaan Asad Aras Muhammad, mengungkapkan perasaan saat suaminya putus kontak di tengah misi ke Gaza. (Foto: Yuwantoro/IMG)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Istri aktivis kemanusiaan Asad Aras Muhammad, Iis Khalifah, mengungkapkan situasi menegangkan yang dihadapi pihak keluarga saat suaminya putus kontak dan ditawan militer Israel dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0. Menurut Iis, kecemasan terbesar keluarga adalah mengenai keberhasilan misi kemanusiaan tersebut untuk menembus Gaza. Kendati pada akhirnya dihadang, ia menegaskan bahwa pelayaran tersebut sangat penting agar mata dunia internasional kembali terbuka melihat kondisi di Palestina.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pas kita dengar misi Global Flotilla tentunya ya, pasti khawatir. Kita khawatirnya itu bukan karena bagaimana kondisi suami saya ya, tapi bagaimana ini misi ini berhasil atau tidak, menembus sampai perairan Gaza atau tidak,&amp;rdquo; kata Iis di Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (22/5/2026).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalaupun tidak sampai, minimal dunia tidak lagi menutup mata bahwa adanya genosida di Palestina sampai saat ini,&amp;rdquo; lanjutnya.&#13;
&#13;
Ketegangan keluarga semakin bertambah karena selama masa penahanan, Iis sama sekali tidak bisa berkomunikasi dengan suaminya. Ia mengaku para peserta misi memiliki SOP untuk membuang telepon genggam begitu kapal mereka disergap militer Israel.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saat penahanan tidak ada (video), karena yang saya tahu HP suami itu atau HP semua peserta ketika ada intersepsi ataupun bagian dari militer yang mendekati perahu-perahu mereka atau kapal-kapal mereka, maka HP peserta itu wajib dibuang ke laut, seperti itu. Jadi tidak ada komunikasi,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Iis mengatakan komunikasi terakhir dengan suaminya terjadi pada Minggu (17/5/2026) malam sebelum penahanan.&#13;
&#13;
Saat ini, kata Iis, suaminya telah berada di Istanbul, Turki untuk menjalani visum dan pengurusan administrasi sebelum kembali ke Indonesia. Namun hingga kini keluarga masih menunggu kepastian jadwal kepulangan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Update terbaru untuk suami ya, saat ini saya tahunya masih di Turki yaitu melakukan visum, kemudian pengurusan administrasi mungkin ya, atau pengurusan bagaimana kelanjutannya untuk kembali ke tanah air. Tapi kita belum ada update terbaru lagi, seperti itu,&amp;rdquo; kata dia.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Karena itu, Iis berharap pemerintah Indonesia, khususnya Direktorat Perlindungan WNI, segera membantu pemulangan sembilan delegasi Indonesia yang sempat ditahan militer Israel. Iis juga menyampaikan rasa syukur karena suaminya telah tiba di Turki.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Alhamdulillah suami saya sudah tiba di Turki, Alhamdulillah. Tapi kami harapkan dari pemerintah terutama Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia bisa segera bekerja sama melindungi warga negaranya dan memberikan kemudahan untuk suami dan teman-temannya atau sembilan delegasi yang lainnya untuk kembali pulang ke tanah air dengan selamat dan dipermudah,&amp;rdquo; kata Iis.&#13;
&#13;
Diketahui, sebanyak sembilan WNI yang sempat ditangkap militer Israel saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 akhirnya dibebaskan dan kini tengah berada di Istanbul, Turki. Mereka masih menunggu proses pemulangan ke Tanah Air lebih lanjut.&#13;
&#13;
WNI yang ditangkap antara lain Thoudy Badai, Rahendro Herubowo, Bambang Noroyono, Andre Prasetyo Nugroho, Andi Angga, Herman Budiyanto Sudarsono, Ronggo Wirasano, Asad Aras Muhammad, dan Hendro Prasetyo.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Istri aktivis kemanusiaan Asad Aras Muhammad, Iis Khalifah, mengungkapkan situasi menegangkan yang dihadapi pihak keluarga saat suaminya putus kontak dan ditawan militer Israel dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0. Menurut Iis, kecemasan terbesar keluarga adalah mengenai keberhasilan misi kemanusiaan tersebut untuk menembus Gaza. Kendati pada akhirnya dihadang, ia menegaskan bahwa pelayaran tersebut sangat penting agar mata dunia internasional kembali terbuka melihat kondisi di Palestina.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pas kita dengar misi Global Flotilla tentunya ya, pasti khawatir. Kita khawatirnya itu bukan karena bagaimana kondisi suami saya ya, tapi bagaimana ini misi ini berhasil atau tidak, menembus sampai perairan Gaza atau tidak,&amp;rdquo; kata Iis di Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (22/5/2026).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalaupun tidak sampai, minimal dunia tidak lagi menutup mata bahwa adanya genosida di Palestina sampai saat ini,&amp;rdquo; lanjutnya.&#13;
&#13;
Ketegangan keluarga semakin bertambah karena selama masa penahanan, Iis sama sekali tidak bisa berkomunikasi dengan suaminya. Ia mengaku para peserta misi memiliki SOP untuk membuang telepon genggam begitu kapal mereka disergap militer Israel.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saat penahanan tidak ada (video), karena yang saya tahu HP suami itu atau HP semua peserta ketika ada intersepsi ataupun bagian dari militer yang mendekati perahu-perahu mereka atau kapal-kapal mereka, maka HP peserta itu wajib dibuang ke laut, seperti itu. Jadi tidak ada komunikasi,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Iis mengatakan komunikasi terakhir dengan suaminya terjadi pada Minggu (17/5/2026) malam sebelum penahanan.&#13;
&#13;
Saat ini, kata Iis, suaminya telah berada di Istanbul, Turki untuk menjalani visum dan pengurusan administrasi sebelum kembali ke Indonesia. Namun hingga kini keluarga masih menunggu kepastian jadwal kepulangan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Update terbaru untuk suami ya, saat ini saya tahunya masih di Turki yaitu melakukan visum, kemudian pengurusan administrasi mungkin ya, atau pengurusan bagaimana kelanjutannya untuk kembali ke tanah air. Tapi kita belum ada update terbaru lagi, seperti itu,&amp;rdquo; kata dia.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Karena itu, Iis berharap pemerintah Indonesia, khususnya Direktorat Perlindungan WNI, segera membantu pemulangan sembilan delegasi Indonesia yang sempat ditahan militer Israel. Iis juga menyampaikan rasa syukur karena suaminya telah tiba di Turki.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Alhamdulillah suami saya sudah tiba di Turki, Alhamdulillah. Tapi kami harapkan dari pemerintah terutama Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia bisa segera bekerja sama melindungi warga negaranya dan memberikan kemudahan untuk suami dan teman-temannya atau sembilan delegasi yang lainnya untuk kembali pulang ke tanah air dengan selamat dan dipermudah,&amp;rdquo; kata Iis.&#13;
&#13;
Diketahui, sebanyak sembilan WNI yang sempat ditangkap militer Israel saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 akhirnya dibebaskan dan kini tengah berada di Istanbul, Turki. Mereka masih menunggu proses pemulangan ke Tanah Air lebih lanjut.&#13;
&#13;
WNI yang ditangkap antara lain Thoudy Badai, Rahendro Herubowo, Bambang Noroyono, Andre Prasetyo Nugroho, Andi Angga, Herman Budiyanto Sudarsono, Ronggo Wirasano, Asad Aras Muhammad, dan Hendro Prasetyo.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
