<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kasum TNI: Indonesia Bisa Bersaing di Level Dunia!</title><description>Dua dekade berlalu tanpa wakil Merah Putih di arena paling bergengsi dunia. Generasi atlet berganti, kepengurusan berubah.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/05/27/337/3221082/kasum-tni-indonesia-bisa-bersaing-di-level-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/05/27/337/3221082/kasum-tni-indonesia-bisa-bersaing-di-level-dunia"/><item><title>Kasum TNI: Indonesia Bisa Bersaing di Level Dunia!</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/05/27/337/3221082/kasum-tni-indonesia-bisa-bersaing-di-level-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/05/27/337/3221082/kasum-tni-indonesia-bisa-bersaing-di-level-dunia</guid><pubDate>Rabu 27 Mei 2026 17:15 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/05/27/337/3221082/tni-mE0s_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kasum TNI: Indonesia Bisa Bersaing di Level Dunia!</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/05/27/337/3221082/tni-mE0s_large.jpg</image><title>Kasum TNI: Indonesia Bisa Bersaing di Level Dunia!</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Kepala Staf Umum (Kasum) TNI yang juga Ketum PBTI, Letjen Richard Tampubolon berharap agar bisa membawa Indonesia ke olimpiade. Harapan itu disampaikan Richard dalam ulang tahunnya ke-57.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Indonesia pernah memiliki jejak yang menjanjikan,&amp;rdquo;ujar Letjen Richard Tampubolon, Rabu (27/5/2026).&#13;
&#13;
Saat itu, Olimpiade Barcelona 1992, taekwondo masih berstatus cabang eksibisi, Indonesia mampu membawa pulang tiga medali perak dan satu perunggu melalui Dirc Richard Talumewo, Rahmi Kurnia, Susilawati, dan Yefi Triaji.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kala itu, muncul keyakinan bahwa Indonesia bisa bersaing di level dunia. Ketika taekwondo resmi dipertandingkan pada Olimpiade Sydney 2000, Indonesia mengirim Juana Wangsa Putri,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Empat tahun kemudian di Athena 2004, Juana kembali tampil bersama Satrio Rahadani. Namun setelah itu, perjalanan Indonesia seperti terhenti.&#13;
&#13;
Jenderal Kopassus itu mengatakan, sejak Athena 2004, tidak ada lagi atlet taekwondo Indonesia yang tampil di Olimpiade.&#13;
&#13;
Dua dekade berlalu tanpa wakil Merah Putih di arena paling bergengsi dunia. Generasi atlet berganti, kepengurusan berubah, program silih berganti, tetapi mimpi kembali ke Olimpiade belum juga terwujud.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;Indonesia tidak pernah kekurangan bakat. Ribuan dojang tersebar di berbagai daerah. Kejuaraan nasional terus digelar. Atlet-atlet muda terus lahir. Namun menuju Olimpiade, bakat saja tidak cukup.&#13;
&#13;
Dibutuhkan sistem pembinaan jangka panjang, sport science, pelatih berkualitas, jam terbang internasional, hingga keberanian membangun target besar yang mungkin terasa mustahil.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Tantangan itu semakin berat karena Asia merupakan kawasan paling kompetitif dalam dunia taekwondo.&#13;
&#13;
Dalam berbagai kesempatan, Richard Tampubolon mengakui tantangan besar tersebut. Saat membuka Rakernas PBTI 2025, ia menegaskan bahwa taekwondo Indonesia masih menghadapi persoalan konsistensi prestasi internasional dan optimalisasi pelatnas.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita masih menghadapi tantangan, seperti konsistensi prestasi atlet di tingkat internasional dan optimalisasi pelatnas. Rakernas 2025 adalah momentum untuk memperkuat kolaborasi dan menyusun strategi terukur,&amp;rdquo; ujar Richard.&#13;
&#13;
Pernyataan itu sekaligus menjadi penanda dimulainya gagasan besar &amp;ldquo;Road to Olympic&amp;rdquo; menuju Los Angeles 2028.&#13;
&#13;
Sebuah misi yang bukan sekadar mengejar tiket kualifikasi, tetapi juga mengembalikan kepercayaan diri taekwondo Indonesia untuk bersaing di level tertinggi.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Kepala Staf Umum (Kasum) TNI yang juga Ketum PBTI, Letjen Richard Tampubolon berharap agar bisa membawa Indonesia ke olimpiade. Harapan itu disampaikan Richard dalam ulang tahunnya ke-57.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Indonesia pernah memiliki jejak yang menjanjikan,&amp;rdquo;ujar Letjen Richard Tampubolon, Rabu (27/5/2026).&#13;
&#13;
Saat itu, Olimpiade Barcelona 1992, taekwondo masih berstatus cabang eksibisi, Indonesia mampu membawa pulang tiga medali perak dan satu perunggu melalui Dirc Richard Talumewo, Rahmi Kurnia, Susilawati, dan Yefi Triaji.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kala itu, muncul keyakinan bahwa Indonesia bisa bersaing di level dunia. Ketika taekwondo resmi dipertandingkan pada Olimpiade Sydney 2000, Indonesia mengirim Juana Wangsa Putri,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Empat tahun kemudian di Athena 2004, Juana kembali tampil bersama Satrio Rahadani. Namun setelah itu, perjalanan Indonesia seperti terhenti.&#13;
&#13;
Jenderal Kopassus itu mengatakan, sejak Athena 2004, tidak ada lagi atlet taekwondo Indonesia yang tampil di Olimpiade.&#13;
&#13;
Dua dekade berlalu tanpa wakil Merah Putih di arena paling bergengsi dunia. Generasi atlet berganti, kepengurusan berubah, program silih berganti, tetapi mimpi kembali ke Olimpiade belum juga terwujud.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;Indonesia tidak pernah kekurangan bakat. Ribuan dojang tersebar di berbagai daerah. Kejuaraan nasional terus digelar. Atlet-atlet muda terus lahir. Namun menuju Olimpiade, bakat saja tidak cukup.&#13;
&#13;
Dibutuhkan sistem pembinaan jangka panjang, sport science, pelatih berkualitas, jam terbang internasional, hingga keberanian membangun target besar yang mungkin terasa mustahil.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Tantangan itu semakin berat karena Asia merupakan kawasan paling kompetitif dalam dunia taekwondo.&#13;
&#13;
Dalam berbagai kesempatan, Richard Tampubolon mengakui tantangan besar tersebut. Saat membuka Rakernas PBTI 2025, ia menegaskan bahwa taekwondo Indonesia masih menghadapi persoalan konsistensi prestasi internasional dan optimalisasi pelatnas.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita masih menghadapi tantangan, seperti konsistensi prestasi atlet di tingkat internasional dan optimalisasi pelatnas. Rakernas 2025 adalah momentum untuk memperkuat kolaborasi dan menyusun strategi terukur,&amp;rdquo; ujar Richard.&#13;
&#13;
Pernyataan itu sekaligus menjadi penanda dimulainya gagasan besar &amp;ldquo;Road to Olympic&amp;rdquo; menuju Los Angeles 2028.&#13;
&#13;
Sebuah misi yang bukan sekadar mengejar tiket kualifikasi, tetapi juga mengembalikan kepercayaan diri taekwondo Indonesia untuk bersaing di level tertinggi.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
