<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Viral Gunung Lawu Akan Erupsi Besar, Badan Geologi: Hoaks!</title><description>Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membantah narasi yang viral di media sosial Threads, terkait klaim bahwa Gunung Lawu akan mengalami erupsi besar akibat kenaikan lava, pengisian kantong magma, hingga tekanan lempeng dari jalur Bojonegoro.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/06/17/337/3225032/viral-gunung-lawu-akan-erupsi-besar-badan-geologi-hoaks</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/06/17/337/3225032/viral-gunung-lawu-akan-erupsi-besar-badan-geologi-hoaks"/><item><title>Viral Gunung Lawu Akan Erupsi Besar, Badan Geologi: Hoaks!</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/06/17/337/3225032/viral-gunung-lawu-akan-erupsi-besar-badan-geologi-hoaks</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/06/17/337/3225032/viral-gunung-lawu-akan-erupsi-besar-badan-geologi-hoaks</guid><pubDate>Rabu 17 Juni 2026 17:52 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/06/17/337/3225032/gunung_lawu-GE2m_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gunung Lawu (foto: Wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/06/17/337/3225032/gunung_lawu-GE2m_large.jpg</image><title>Gunung Lawu (foto: Wikipedia)</title></images><description>&#13;
&#13;
JAKARTA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membantah narasi yang viral di media sosial Threads, terkait klaim bahwa Gunung Lawu akan mengalami erupsi besar akibat kenaikan lava, pengisian kantong magma, hingga tekanan lempeng dari jalur Bojonegoro.&#13;
&#13;
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria menegaskan, informasi yang beredar tersebut tidak benar dan tidak didukung data pemantauan ilmiah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Badan Geologi dengan tegas menyatakan bahwa informasi tersebut adalah tidak benar (hoaks),&amp;quot; kata Lana, Rabu (17/6/2026).&#13;
&#13;
Gunung Lawu merupakan gunung api yang berada di perbatasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dan Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Gunung dengan ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut itu termasuk gunung api tipe B, yakni gunung api yang tidak memiliki catatan erupsi magmatik setelah tahun 1600, tetapi masih menunjukkan aktivitas vulkanik seperti keluarnya gas solfatara.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Lana menjelaskan hingga saat ini tidak terdapat catatan sejarah mengenai aktivitas erupsi Gunung Lawu pada masa lalu. Aktivitas vulkanik yang terpantau saat ini hanya berupa keluarnya gas solfatara di Kawah Candradimuka.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Tidak ada catatan sejarah tentang aktivitas Gunungapi Lawu di masa lalu. Aktivitas vulkanik Gunungapi Lawu saat ini berupa aktivitas gas solfatara di Kawah Candradimuka,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ia mengungkapkan, tim Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah melakukan penyelidikan geokimia di Gunung Lawu pada 2021 dan 2023.&#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukkan gas di Kawah Candradimuka terdiri atas uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), hidrogen sulfida (H2S), sulfur dioksida (SO2), amonia (NH3), nitrogen (N2), dan hidrogen (H2). Menurut Lana, komposisi tersebut merupakan gas vulkanik yang lazim ditemukan pada gunung api aktif.&#13;
&#13;
Selain itu, hasil pengukuran suhu di Kawah Candradimuka berkisar antara 90,8 hingga 92 derajat Celsius.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Hasil pengukuran suhu di Kawah Candradimuka menunjukkan nilai 90,8&amp;ndash;92 derajat Celsius yang mengindikasikan tidak terjadi kenaikan lava ke permukaan,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Lana menambahkan analisis kimia gas dan sampel air panas di sekitar Gunung Lawu memang menunjukkan aktivitas magmatisme masih berlangsung. Namun, hasil pemantauan tidak menemukan perubahan signifikan pada komposisi kimia air maupun gas vulkanik yang dapat mengindikasikan adanya kenaikan fluida menuju permukaan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dari hasil analisis dan beberapa frekuensi pengambilan sampel menunjukkan tidak terjadi perubahan komposisi kimia air dan gas vulkanik yang signifikan yang mengindikasikan tidak adanya kenaikan fluida ke permukaan Gunungapi Lawu sebagaimana ditulis dalam narasi hoaks di media sosial,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
JAKARTA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membantah narasi yang viral di media sosial Threads, terkait klaim bahwa Gunung Lawu akan mengalami erupsi besar akibat kenaikan lava, pengisian kantong magma, hingga tekanan lempeng dari jalur Bojonegoro.&#13;
&#13;
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria menegaskan, informasi yang beredar tersebut tidak benar dan tidak didukung data pemantauan ilmiah.&#13;
&#13;
&amp;quot;Badan Geologi dengan tegas menyatakan bahwa informasi tersebut adalah tidak benar (hoaks),&amp;quot; kata Lana, Rabu (17/6/2026).&#13;
&#13;
Gunung Lawu merupakan gunung api yang berada di perbatasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dan Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Gunung dengan ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut itu termasuk gunung api tipe B, yakni gunung api yang tidak memiliki catatan erupsi magmatik setelah tahun 1600, tetapi masih menunjukkan aktivitas vulkanik seperti keluarnya gas solfatara.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Lana menjelaskan hingga saat ini tidak terdapat catatan sejarah mengenai aktivitas erupsi Gunung Lawu pada masa lalu. Aktivitas vulkanik yang terpantau saat ini hanya berupa keluarnya gas solfatara di Kawah Candradimuka.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Tidak ada catatan sejarah tentang aktivitas Gunungapi Lawu di masa lalu. Aktivitas vulkanik Gunungapi Lawu saat ini berupa aktivitas gas solfatara di Kawah Candradimuka,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ia mengungkapkan, tim Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah melakukan penyelidikan geokimia di Gunung Lawu pada 2021 dan 2023.&#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukkan gas di Kawah Candradimuka terdiri atas uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), hidrogen sulfida (H2S), sulfur dioksida (SO2), amonia (NH3), nitrogen (N2), dan hidrogen (H2). Menurut Lana, komposisi tersebut merupakan gas vulkanik yang lazim ditemukan pada gunung api aktif.&#13;
&#13;
Selain itu, hasil pengukuran suhu di Kawah Candradimuka berkisar antara 90,8 hingga 92 derajat Celsius.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Hasil pengukuran suhu di Kawah Candradimuka menunjukkan nilai 90,8&amp;ndash;92 derajat Celsius yang mengindikasikan tidak terjadi kenaikan lava ke permukaan,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Lana menambahkan analisis kimia gas dan sampel air panas di sekitar Gunung Lawu memang menunjukkan aktivitas magmatisme masih berlangsung. Namun, hasil pemantauan tidak menemukan perubahan signifikan pada komposisi kimia air maupun gas vulkanik yang dapat mengindikasikan adanya kenaikan fluida menuju permukaan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dari hasil analisis dan beberapa frekuensi pengambilan sampel menunjukkan tidak terjadi perubahan komposisi kimia air dan gas vulkanik yang signifikan yang mengindikasikan tidak adanya kenaikan fluida ke permukaan Gunungapi Lawu sebagaimana ditulis dalam narasi hoaks di media sosial,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
