<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Status Siaga, Gunung Merapi Meletus Luncurkan Awan Panas Guguran</title><description>Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah dilaporkan meluncurkan awan panas guguran (APG) pada Rabu (1/7/2026) siang.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/07/01/337/3227597/status-siaga-gunung-merapi-meletus-luncurkan-awan-panas-guguran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/07/01/337/3227597/status-siaga-gunung-merapi-meletus-luncurkan-awan-panas-guguran"/><item><title>Status Siaga, Gunung Merapi Meletus Luncurkan Awan Panas Guguran</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/07/01/337/3227597/status-siaga-gunung-merapi-meletus-luncurkan-awan-panas-guguran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/07/01/337/3227597/status-siaga-gunung-merapi-meletus-luncurkan-awan-panas-guguran</guid><pubDate>Rabu 01 Juli 2026 14:31 WIB</pubDate><dc:creator>Yuwantoro Winduajie</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/01/337/3227597/gunung_merapi-SfmK_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gunung Merapi meletus (Foto: PVMBG/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/01/337/3227597/gunung_merapi-SfmK_large.jpg</image><title>Gunung Merapi meletus (Foto: PVMBG/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah dilaporkan meluncurkan awan panas guguran (APG) pada Rabu (1/7/2026) siang.&#13;
&#13;
Berdasarkan informasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), awan panas guguran terjadi pada pukul 13.05 WIB dengan jarak luncur sekitar 2.000 meter ke arah barat atau hulu Kali Sat/Putih.&#13;
&#13;
&amp;quot;Peristiwa tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 52,12 mm dan durasi 171,16 detik,&amp;quot; tulis BPPTKG.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk menjauhi kawasan bahaya serta alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi dan tetap mematuhi rekomendasi resmi dari otoritas kebencanaan. Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.&#13;
&#13;
Sebelumnya, dalam laporan aktivitas periode pengamatan pukul 06.00-12.00 WIB, BPPTKG mencatat sebanyak 37 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-56 mm dan durasi 39,44-160,62 detik.&#13;
&#13;
Selain itu, tercatat 11 kali gempa hybrid atau multifase serta satu kali gempa vulkanik dangkal. Dari pengamatan visual, gunung tampak jelas hingga tertutup kabut level 0-III, sementara asap kawah tidak teramati.&#13;
&#13;
BPPTKG juga melaporkan guguran lava teramati sebanyak tujuh kali ke arah barat daya melalui Kali Sat/Putih dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.&#13;
&#13;
Dalam rekomendasinya, BPPTKG menyebut potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan hingga barat daya yang meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sementara pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh maksimal 5 kilometer,&amp;quot; tulis BPPTKG.&#13;
&#13;
BPPTKG menyatakan, data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung sehingga dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam wilayah potensi bahaya.&#13;
&#13;
Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya serta mewaspadai ancaman lahar, awan panas guguran, dan abu vulkanik, terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah dilaporkan meluncurkan awan panas guguran (APG) pada Rabu (1/7/2026) siang.&#13;
&#13;
Berdasarkan informasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), awan panas guguran terjadi pada pukul 13.05 WIB dengan jarak luncur sekitar 2.000 meter ke arah barat atau hulu Kali Sat/Putih.&#13;
&#13;
&amp;quot;Peristiwa tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 52,12 mm dan durasi 171,16 detik,&amp;quot; tulis BPPTKG.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk menjauhi kawasan bahaya serta alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi dan tetap mematuhi rekomendasi resmi dari otoritas kebencanaan. Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.&#13;
&#13;
Sebelumnya, dalam laporan aktivitas periode pengamatan pukul 06.00-12.00 WIB, BPPTKG mencatat sebanyak 37 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-56 mm dan durasi 39,44-160,62 detik.&#13;
&#13;
Selain itu, tercatat 11 kali gempa hybrid atau multifase serta satu kali gempa vulkanik dangkal. Dari pengamatan visual, gunung tampak jelas hingga tertutup kabut level 0-III, sementara asap kawah tidak teramati.&#13;
&#13;
BPPTKG juga melaporkan guguran lava teramati sebanyak tujuh kali ke arah barat daya melalui Kali Sat/Putih dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.&#13;
&#13;
Dalam rekomendasinya, BPPTKG menyebut potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan hingga barat daya yang meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sementara pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh maksimal 5 kilometer,&amp;quot; tulis BPPTKG.&#13;
&#13;
BPPTKG menyatakan, data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung sehingga dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam wilayah potensi bahaya.&#13;
&#13;
Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya serta mewaspadai ancaman lahar, awan panas guguran, dan abu vulkanik, terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
