<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BMKG Pastikan Indonesia Tak Berpotensi Heatwave seperti Eropa Meski El Nino Menguat</title><description>Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Indonesia tidak berpotensi mengalami gelombang panas (heatwave) seperti yang melanda sejumlah negara di Eropa meski fenomena El Nino mulai berkembang di tengah tren pemanasan global.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/07/11/337/3229455/bmkg-pastikan-indonesia-tak-berpotensi-heatwave-seperti-eropa-meski-el-nino-menguat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/07/11/337/3229455/bmkg-pastikan-indonesia-tak-berpotensi-heatwave-seperti-eropa-meski-el-nino-menguat"/><item><title>BMKG Pastikan Indonesia Tak Berpotensi Heatwave seperti Eropa Meski El Nino Menguat</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/07/11/337/3229455/bmkg-pastikan-indonesia-tak-berpotensi-heatwave-seperti-eropa-meski-el-nino-menguat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/07/11/337/3229455/bmkg-pastikan-indonesia-tak-berpotensi-heatwave-seperti-eropa-meski-el-nino-menguat</guid><pubDate>Sabtu 11 Juli 2026 09:30 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/11/337/3229455/cuaca_panas-H6jV_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Cuaca Panas (foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/11/337/3229455/cuaca_panas-H6jV_large.jpg</image><title>Cuaca Panas (foto: Freepik)</title></images><description>&#13;
&#13;
JAKARTA &amp;ndash; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Indonesia tidak berpotensi mengalami gelombang panas (heatwave) seperti yang melanda sejumlah negara di Eropa meski fenomena El Nino mulai berkembang di tengah tren pemanasan global.&#13;
&#13;
Meski demikian, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai peningkatan suhu udara yang berlangsung secara bertahap karena berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama jika disertai kelembapan udara yang tinggi.&#13;
&#13;
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan kombinasi El Nino dan tren pemanasan global akan membuat hari-hari panas semakin sering terjadi. Namun, karakteristik iklim tropis Indonesia membuat peluang terjadinya heatwave seperti di kawasan subtropis relatif kecil.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sampai saat ini, kita masih melihat peluang terjadinya gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa atau Amerika relatif kecil karena karakteristik atmosfer Indonesia berbeda. Namun, bukan berarti kita tidak perlu mengantisipasi dampak panas terhadap kesehatan,&amp;quot; kata Ardhasena dalam webinar Panduan Menjaga Kesehatan Keluarga di Musim Ekstrem El Nino, dikutip Sabtu (11/7/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurut BMKG, wilayah laut yang mengelilingi Indonesia berperan sebagai penyangga alami yang membantu menjaga kestabilan suhu udara. Kondisi tersebut membuat lonjakan suhu ekstrem seperti yang terjadi di Eropa maupun Amerika relatif sulit terjadi di Indonesia.&#13;
&#13;
Berdasarkan data BMKG, suhu rata-rata Indonesia pada Mei 2026 mencapai 27,5 derajat Celsius, atau sekitar 0,5 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rata-rata klimatologi periode 1991&amp;ndash;2020. Kenaikan suhu tersebut dinilai meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ardhasena mengungkapkan tren pemanasan di Indonesia terus meningkat. Suhu rata-rata nasional tercatat naik sekitar 0,13&amp;ndash;0,14 derajat Celsius setiap dekade, sementara Juni 2026 menjadi bulan terpanas sejak periode klimatologi 1991&amp;ndash;2020.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jumlah hari panas maupun malam yang tetap hangat atau yang disebut sebagai tropical nights juga terus mengalami peningkatan, terutama di wilayah pesisir,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
BMKG juga memproyeksikan El Nino 2026 berpotensi mencapai kategori kuat sehingga meningkatkan risiko kekeringan, suhu tinggi, penurunan kualitas udara, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).&#13;
&#13;
&amp;quot;El Nino 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai intensitas kuat. Waspada peningkatan risiko kekeringan dan dampak turunannya, suhu ekstrem, heatstroke, serta potensi penurunan kualitas udara akibat kondisi kering yang dapat meningkatkan risiko karhutla dan akumulasi polutan yang berdampak pada kesehatan,&amp;quot; tegas Ardhasena.&#13;
&#13;
Ia menegaskan, ancaman utama bagi Indonesia bukanlah heatwave seperti di Eropa, melainkan paparan suhu tinggi yang berlangsung dalam waktu lama dan diperparah oleh kelembapan udara tinggi sehingga meningkatkan beban panas yang dirasakan tubuh.&#13;
&#13;
&amp;quot;Peluang terjadinya gelombang panas seperti di Eropa memang kecil. Tetapi bukan berarti kita tidak perlu mengantisipasi kondisi panas tinggi yang berlangsung secara berkelanjutan, diiringi kelembapan yang tinggi, dan bagaimana dampaknya terhadap tubuh manusia,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
JAKARTA &amp;ndash; Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Indonesia tidak berpotensi mengalami gelombang panas (heatwave) seperti yang melanda sejumlah negara di Eropa meski fenomena El Nino mulai berkembang di tengah tren pemanasan global.&#13;
&#13;
Meski demikian, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai peningkatan suhu udara yang berlangsung secara bertahap karena berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama jika disertai kelembapan udara yang tinggi.&#13;
&#13;
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan kombinasi El Nino dan tren pemanasan global akan membuat hari-hari panas semakin sering terjadi. Namun, karakteristik iklim tropis Indonesia membuat peluang terjadinya heatwave seperti di kawasan subtropis relatif kecil.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sampai saat ini, kita masih melihat peluang terjadinya gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa atau Amerika relatif kecil karena karakteristik atmosfer Indonesia berbeda. Namun, bukan berarti kita tidak perlu mengantisipasi dampak panas terhadap kesehatan,&amp;quot; kata Ardhasena dalam webinar Panduan Menjaga Kesehatan Keluarga di Musim Ekstrem El Nino, dikutip Sabtu (11/7/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurut BMKG, wilayah laut yang mengelilingi Indonesia berperan sebagai penyangga alami yang membantu menjaga kestabilan suhu udara. Kondisi tersebut membuat lonjakan suhu ekstrem seperti yang terjadi di Eropa maupun Amerika relatif sulit terjadi di Indonesia.&#13;
&#13;
Berdasarkan data BMKG, suhu rata-rata Indonesia pada Mei 2026 mencapai 27,5 derajat Celsius, atau sekitar 0,5 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rata-rata klimatologi periode 1991&amp;ndash;2020. Kenaikan suhu tersebut dinilai meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ardhasena mengungkapkan tren pemanasan di Indonesia terus meningkat. Suhu rata-rata nasional tercatat naik sekitar 0,13&amp;ndash;0,14 derajat Celsius setiap dekade, sementara Juni 2026 menjadi bulan terpanas sejak periode klimatologi 1991&amp;ndash;2020.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jumlah hari panas maupun malam yang tetap hangat atau yang disebut sebagai tropical nights juga terus mengalami peningkatan, terutama di wilayah pesisir,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
BMKG juga memproyeksikan El Nino 2026 berpotensi mencapai kategori kuat sehingga meningkatkan risiko kekeringan, suhu tinggi, penurunan kualitas udara, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).&#13;
&#13;
&amp;quot;El Nino 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai intensitas kuat. Waspada peningkatan risiko kekeringan dan dampak turunannya, suhu ekstrem, heatstroke, serta potensi penurunan kualitas udara akibat kondisi kering yang dapat meningkatkan risiko karhutla dan akumulasi polutan yang berdampak pada kesehatan,&amp;quot; tegas Ardhasena.&#13;
&#13;
Ia menegaskan, ancaman utama bagi Indonesia bukanlah heatwave seperti di Eropa, melainkan paparan suhu tinggi yang berlangsung dalam waktu lama dan diperparah oleh kelembapan udara tinggi sehingga meningkatkan beban panas yang dirasakan tubuh.&#13;
&#13;
&amp;quot;Peluang terjadinya gelombang panas seperti di Eropa memang kecil. Tetapi bukan berarti kita tidak perlu mengantisipasi kondisi panas tinggi yang berlangsung secara berkelanjutan, diiringi kelembapan yang tinggi, dan bagaimana dampaknya terhadap tubuh manusia,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
