<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BMKG: Curah Hujan Wilayah Indonesia Diprediksi Tetap Rendah pada Pertengahan Juli 2026</title><description>Sejumlah wilayah Indonesia berpeluang lebih kecil untuk mengalami pembentukan awan hujan. &#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/07/12/337/3229539/bmkg-curah-hujan-wilayah-indonesia-diprediksi-tetap-rendah-pada-pertengahan-juli-2026</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/07/12/337/3229539/bmkg-curah-hujan-wilayah-indonesia-diprediksi-tetap-rendah-pada-pertengahan-juli-2026"/><item><title>BMKG: Curah Hujan Wilayah Indonesia Diprediksi Tetap Rendah pada Pertengahan Juli 2026</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/07/12/337/3229539/bmkg-curah-hujan-wilayah-indonesia-diprediksi-tetap-rendah-pada-pertengahan-juli-2026</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/07/12/337/3229539/bmkg-curah-hujan-wilayah-indonesia-diprediksi-tetap-rendah-pada-pertengahan-juli-2026</guid><pubDate>Minggu 12 Juli 2026 01:05 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/11/337/3229539/ilustrasi-dReP_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/11/337/3229539/ilustrasi-dReP_large.jpg</image><title>Ilustrasi. </title></images><description>JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia masih akan mengalami curah hujan rendah memasuki pertengahan Juli 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh meluasnya musim kemarau yang diperkuat oleh fenomena El Ni&amp;ntilde;o di Samudra Pasifik.&#13;
&#13;
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, sebanyak 342 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,9% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada awal Juli 2026. Jumlah tersebut meningkat 11,3% dibandingkan dasarian sebelumnya. Pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) juga menunjukkan peningkatan wilayah yang mengalami kondisi kering, dengan 329 titik pengamatan tercatat mengalami HTH kategori sangat panjang atau berlangsung selama 31&amp;ndash;60 hari.&#13;
&#13;
Selain itu, analisis citra satelit menunjukkan keberadaan massa udara kering dari selatan Indonesia, terutama di Samudra Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara, yang mengurangi peluang terbentuknya awan hujan di wilayah selatan Indonesia seperti Jawa, Bali, NTB, dan NTT.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Memasuki bulan Juli 2026, wilayah di Indonesia yang telah memasuki musim kemarau terpantau semakin meluas, dengan sebagian wilayah mulai berada pada puncak musim kemarau,&amp;rdquo; tulis BMKG lewat laman resminya, Sabtu (11/7/2026).&#13;
&#13;
BMKG menjelaskan, kondisi tersebut didukung oleh masih bertahannya fenomena El Ni&amp;ntilde;o dengan indeks Ni&amp;ntilde;o 3.4 sebesar +1,25 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -24,7 sehingga potensi penurunan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia masih cukup tinggi.&#13;
&#13;
Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa hujan masih berpotensi terjadi akibat dinamika atmosfer regional. Salah satunya dipengaruhi oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, serta dampak tidak langsung Siklon Tropis Bavi yang saat ini berada di Laut Filipina.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Pada Dasarian II Juli 2026, sekitar 92,64% wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan kategori rendah atau kurang dari 50 milimeter per dasarian. Kondisi tersebut diperkirakan mencakup sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga sebagian Papua.&#13;
&#13;
Sementara itu, pada periode 10&amp;ndash;13 Juli 2026, hujan dengan intensitas sedang diprakirakan terjadi di Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua. BMKG juga menetapkan status Siaga untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Papua Selatan serta mengeluarkan peringatan dini angin kencang di sejumlah wilayah, antara lain Aceh, Banten, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Maluku, Maluku Utara, NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Papua Barat Daya.&#13;
&#13;
Untuk periode 14&amp;ndash;16 Juli 2026, cuaca secara umum diprakirakan didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Peningkatan hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua, sedangkan potensi angin kencang diprakirakan terjadi di Maluku.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem meskipun musim kemarau terus meluas. &amp;ldquo;Perlu dipahami bahwa musim kemarau dan periode peralihan bukan berarti tidak ada hujan. Hujan masih berpotensi terjadi, khususnya saat kondisi atmosfer masih cukup lembap,&amp;rdquo; imbaunya.&#13;
&#13;
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, serta rutin memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG agar dapat mengantisipasi dampak cuaca terhadap aktivitas sehari-hari.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia masih akan mengalami curah hujan rendah memasuki pertengahan Juli 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh meluasnya musim kemarau yang diperkuat oleh fenomena El Ni&amp;ntilde;o di Samudra Pasifik.&#13;
&#13;
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, sebanyak 342 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,9% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada awal Juli 2026. Jumlah tersebut meningkat 11,3% dibandingkan dasarian sebelumnya. Pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) juga menunjukkan peningkatan wilayah yang mengalami kondisi kering, dengan 329 titik pengamatan tercatat mengalami HTH kategori sangat panjang atau berlangsung selama 31&amp;ndash;60 hari.&#13;
&#13;
Selain itu, analisis citra satelit menunjukkan keberadaan massa udara kering dari selatan Indonesia, terutama di Samudra Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara, yang mengurangi peluang terbentuknya awan hujan di wilayah selatan Indonesia seperti Jawa, Bali, NTB, dan NTT.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Memasuki bulan Juli 2026, wilayah di Indonesia yang telah memasuki musim kemarau terpantau semakin meluas, dengan sebagian wilayah mulai berada pada puncak musim kemarau,&amp;rdquo; tulis BMKG lewat laman resminya, Sabtu (11/7/2026).&#13;
&#13;
BMKG menjelaskan, kondisi tersebut didukung oleh masih bertahannya fenomena El Ni&amp;ntilde;o dengan indeks Ni&amp;ntilde;o 3.4 sebesar +1,25 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -24,7 sehingga potensi penurunan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia masih cukup tinggi.&#13;
&#13;
Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa hujan masih berpotensi terjadi akibat dinamika atmosfer regional. Salah satunya dipengaruhi oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, serta dampak tidak langsung Siklon Tropis Bavi yang saat ini berada di Laut Filipina.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Pada Dasarian II Juli 2026, sekitar 92,64% wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan kategori rendah atau kurang dari 50 milimeter per dasarian. Kondisi tersebut diperkirakan mencakup sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga sebagian Papua.&#13;
&#13;
Sementara itu, pada periode 10&amp;ndash;13 Juli 2026, hujan dengan intensitas sedang diprakirakan terjadi di Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua. BMKG juga menetapkan status Siaga untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Papua Selatan serta mengeluarkan peringatan dini angin kencang di sejumlah wilayah, antara lain Aceh, Banten, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Maluku, Maluku Utara, NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Papua Barat Daya.&#13;
&#13;
Untuk periode 14&amp;ndash;16 Juli 2026, cuaca secara umum diprakirakan didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Peningkatan hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua, sedangkan potensi angin kencang diprakirakan terjadi di Maluku.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem meskipun musim kemarau terus meluas. &amp;ldquo;Perlu dipahami bahwa musim kemarau dan periode peralihan bukan berarti tidak ada hujan. Hujan masih berpotensi terjadi, khususnya saat kondisi atmosfer masih cukup lembap,&amp;rdquo; imbaunya.&#13;
&#13;
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, serta rutin memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG agar dapat mengantisipasi dampak cuaca terhadap aktivitas sehari-hari.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
