<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tangis Pilu Ibu Santri Korban Pembakaran di Lombok saat Cari Keadilan ke DPR</title><description>Suasana haru menyelimuti ruang Komisi III DPR RI saat menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) terkait kasus santri yang dibakar di Pondok Pesantren Rosyidatusshaulatiyah Al-Ibrahimy NW, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/07/13/337/3229929/tangis-pilu-ibu-santri-korban-pembakaran-di-lombok-saat-cari-keadilan-ke-dpr</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/07/13/337/3229929/tangis-pilu-ibu-santri-korban-pembakaran-di-lombok-saat-cari-keadilan-ke-dpr"/><item><title>Tangis Pilu Ibu Santri Korban Pembakaran di Lombok saat Cari Keadilan ke DPR</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/07/13/337/3229929/tangis-pilu-ibu-santri-korban-pembakaran-di-lombok-saat-cari-keadilan-ke-dpr</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/07/13/337/3229929/tangis-pilu-ibu-santri-korban-pembakaran-di-lombok-saat-cari-keadilan-ke-dpr</guid><pubDate>Senin 13 Juli 2026 23:31 WIB</pubDate><dc:creator>Felldy Utama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/13/337/3229929/kekerasan-LuZR_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ibu santri korban pembakaran di Lombok cari keadilan ke DPR (Foto: Felldy Utama/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/13/337/3229929/kekerasan-LuZR_large.jpg</image><title>Ibu santri korban pembakaran di Lombok cari keadilan ke DPR (Foto: Felldy Utama/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Suasana haru menyelimuti ruang Komisi III DPR RI saat menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) terkait kasus santri yang dibakar di Pondok Pesantren Rosyidatusshaulatiyah Al-Ibrahimy NW, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).&#13;
&#13;
Ibunda dari Sahri Sobirin, salah satu santri yang menjadi korban, tak kuasa menahan tangis saat mengadukan nasib malang putranya. Sambil terisak dan mengalami tekanan psikologis yang mendalam, ibu korban didampingi oleh tim hukum Hotman 911.&#13;
&#13;
Karena keterbatasan bahasa dan kondisi emosional, penjelasan terkait kronologi pilu tersebut disampaikan perwakilan tim Hotman 911 kepada pimpinan dan anggota Komisi III.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dalam RDPU tersebut, terungkap fakta bahwa almarhum Sahri Sobirin sempat menceritakan adanya ancaman sebelum peristiwa maut itu terjadi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Almarhum anak korban, Shobirin, pernah menceritakan tiga hari sebelum pembakaran bahwa dia diancam oleh anak pimpinan Ponpes akan dibakar kalau tidak menuruti kemauan dari si pelaku,&amp;quot; kata perwakilan tim Hotman 911, Titi Tantri, Senin (13/7/2026).&#13;
&#13;
Selama ini, kata dia, korban cenderung tertutup karena berada di bawah tekanan dan rasa takut. Sang ibu sempat bertanya menggunakan bahasa daerah apakah putranya pernah dipukul atau dirundung di sekolah. Namun, korban tidak berani jujur karena ancaman yang terus membayanginya.&#13;
&#13;
Tim hukum menjelaskan aksi tersebut dilakukan di sebuah ruangan kosong. Pelaku diduga menyiramkan bensin dan menyulut api hingga membakar sekujur tubuh korban.&#13;
&#13;
&amp;quot;Baru tiga hari setelah kejadian pembakaran, si anak bisa berbicara. Dia menyampaikan bahwa dibakar di dalam ruangan kosong. Api berisi bensin menyebar hingga korban mengalami luka bakar sangat drastis, mencapai 80 persen,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Luka bakar tersebut meliputi area wajah hingga ujung kaki. Hanya bagian perut dan sedikit bagian paha yang dilaporkan tidak terkena kobaran api. Sahri Sobirin akhirnya mengembuskan napas terakhir setelah sempat berjuang melewati masa kritis.&#13;
&#13;
Merespons kesaksian tersebut, Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman, berusaha menenangkan sang ibu yang terus menangis tersedu-sedu. Ia menegaskan pihak DPR akan mengawal kasus ini hingga tuntas demi keadilan bagi almarhum.&#13;
&#13;
&amp;quot;Insya Allah kami, Komisi III, akan berupaya maksimal untuk memberikan keadilan agar korban almarhum bisa mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya,&amp;quot; ujar Habiburokhman.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Suasana haru menyelimuti ruang Komisi III DPR RI saat menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) terkait kasus santri yang dibakar di Pondok Pesantren Rosyidatusshaulatiyah Al-Ibrahimy NW, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).&#13;
&#13;
Ibunda dari Sahri Sobirin, salah satu santri yang menjadi korban, tak kuasa menahan tangis saat mengadukan nasib malang putranya. Sambil terisak dan mengalami tekanan psikologis yang mendalam, ibu korban didampingi oleh tim hukum Hotman 911.&#13;
&#13;
Karena keterbatasan bahasa dan kondisi emosional, penjelasan terkait kronologi pilu tersebut disampaikan perwakilan tim Hotman 911 kepada pimpinan dan anggota Komisi III.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dalam RDPU tersebut, terungkap fakta bahwa almarhum Sahri Sobirin sempat menceritakan adanya ancaman sebelum peristiwa maut itu terjadi.&#13;
&#13;
&amp;quot;Almarhum anak korban, Shobirin, pernah menceritakan tiga hari sebelum pembakaran bahwa dia diancam oleh anak pimpinan Ponpes akan dibakar kalau tidak menuruti kemauan dari si pelaku,&amp;quot; kata perwakilan tim Hotman 911, Titi Tantri, Senin (13/7/2026).&#13;
&#13;
Selama ini, kata dia, korban cenderung tertutup karena berada di bawah tekanan dan rasa takut. Sang ibu sempat bertanya menggunakan bahasa daerah apakah putranya pernah dipukul atau dirundung di sekolah. Namun, korban tidak berani jujur karena ancaman yang terus membayanginya.&#13;
&#13;
Tim hukum menjelaskan aksi tersebut dilakukan di sebuah ruangan kosong. Pelaku diduga menyiramkan bensin dan menyulut api hingga membakar sekujur tubuh korban.&#13;
&#13;
&amp;quot;Baru tiga hari setelah kejadian pembakaran, si anak bisa berbicara. Dia menyampaikan bahwa dibakar di dalam ruangan kosong. Api berisi bensin menyebar hingga korban mengalami luka bakar sangat drastis, mencapai 80 persen,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Luka bakar tersebut meliputi area wajah hingga ujung kaki. Hanya bagian perut dan sedikit bagian paha yang dilaporkan tidak terkena kobaran api. Sahri Sobirin akhirnya mengembuskan napas terakhir setelah sempat berjuang melewati masa kritis.&#13;
&#13;
Merespons kesaksian tersebut, Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman, berusaha menenangkan sang ibu yang terus menangis tersedu-sedu. Ia menegaskan pihak DPR akan mengawal kasus ini hingga tuntas demi keadilan bagi almarhum.&#13;
&#13;
&amp;quot;Insya Allah kami, Komisi III, akan berupaya maksimal untuk memberikan keadilan agar korban almarhum bisa mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya,&amp;quot; ujar Habiburokhman.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
