<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Lebih dari 500 Orang Dikhawatirkan Tewas Setelah 2 Kapal Tenggelam di Lepas Pantai Myanmar</title><description>Sebagian besar korban diduga merupakan pengungsi etnis minoritas Rohingya. &#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/07/17/18/3230521/lebih-dari-500-orang-dikhawatirkan-tewas-setelah-2-kapal-tenggelam-di-lepas-pantai-myanmar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/07/17/18/3230521/lebih-dari-500-orang-dikhawatirkan-tewas-setelah-2-kapal-tenggelam-di-lepas-pantai-myanmar"/><item><title>Lebih dari 500 Orang Dikhawatirkan Tewas Setelah 2 Kapal Tenggelam di Lepas Pantai Myanmar</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/07/17/18/3230521/lebih-dari-500-orang-dikhawatirkan-tewas-setelah-2-kapal-tenggelam-di-lepas-pantai-myanmar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/07/17/18/3230521/lebih-dari-500-orang-dikhawatirkan-tewas-setelah-2-kapal-tenggelam-di-lepas-pantai-myanmar</guid><pubDate>Jum'at 17 Juli 2026 00:05 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/16/18/3230521/ilustrasi-4ZQK_large.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/16/18/3230521/ilustrasi-4ZQK_large.jpeg</image><title>Ilustrasi.</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Lebih dari 500 orang dikhawatirkan tewas tenggelam setelah dua kapal yang membawa mereka dilaporkan terbalik di lepas pantai Myanmar dalam beberapa hari terakhir. Hal ini dilaporkan Badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ketika para pengungsi mencoba menyeberangi laut yang berbahaya untuk mencari keselamatan dan kondisi hidup yang lebih baik.&#13;
&#13;
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dan badan pengungsi PBB, UNHCR, dalam pernyataan bersama menyebutkan bahwa kedua kapal tersebut berangkat dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar, pada akhir Juni dan sebagian besar membawa penumpang etnis minoritas Rohingya. Kapal-kapal tersebut dilaporkan membawa beberapa penumpang dari kamp pengungsi di Bangladesh.&#13;
&#13;
Badan tersebut mengatakan bahwa lebih dari 500 orang dikhawatirkan tewas dalam insiden tersebut.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Meskipun insiden dan angka korban jiwa belum dikonfirmasi secara resmi, UNHCR dan IOM sangat prihatin dengan potensi kehilangan nyawa yang sangat besar,&amp;rdquo; kata pernyataan bersama tersebut, sebagaimana dilansir Indian Express, Kamis (16/7/2026).&#13;
&#13;
Perjalanan di Luar Musim Berlayar&#13;
&#13;
Pada tahun 2025, hampir 900 pengungsi Rohingya hilang atau meninggal di Laut Andaman dan Teluk Benggala, menjadikan jalur maritim tersebut sebagai jalur paling mematikan di dunia bagi migran dan pengungsi, kata PBB.&#13;
&#13;
Menurut badan-badan PBB, kapal pertama kehilangan kontak tak lama setelah berangkat. Kapal itu membawa sekitar 250 orang. Kapal kedua, yang membawa 280 orang, diyakini telah terbalik di lepas pantai Irrawaddy, Myanmar, pada tanggal 8 Juli.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Perjalanan ini dilakukan di luar musim berlayar reguler, ketika kondisi maritim biasanya lebih berbahaya,&amp;rdquo; kata pernyataan itu.&#13;
&#13;
UNHCR dan IOM menyatakan bahwa hampir 300 orang, termasuk pengungsi Rohingya dan warga negara Bangladesh, dilaporkan hilang di Laut Andaman dan Teluk Benggala pada tahun 2026.&#13;
&#13;
Krisis pengungsi Rohingya dimulai pada 2017 setelah militer Myanmar melancarkan serangan besar-besaran di Negara Bagian Rakhine, yang memicu eksodus massal. Hal ini menyebabkan setidaknya 730.000 orang mencari perlindungan di Bangladesh.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Lebih dari 500 orang dikhawatirkan tewas tenggelam setelah dua kapal yang membawa mereka dilaporkan terbalik di lepas pantai Myanmar dalam beberapa hari terakhir. Hal ini dilaporkan Badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ketika para pengungsi mencoba menyeberangi laut yang berbahaya untuk mencari keselamatan dan kondisi hidup yang lebih baik.&#13;
&#13;
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dan badan pengungsi PBB, UNHCR, dalam pernyataan bersama menyebutkan bahwa kedua kapal tersebut berangkat dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar, pada akhir Juni dan sebagian besar membawa penumpang etnis minoritas Rohingya. Kapal-kapal tersebut dilaporkan membawa beberapa penumpang dari kamp pengungsi di Bangladesh.&#13;
&#13;
Badan tersebut mengatakan bahwa lebih dari 500 orang dikhawatirkan tewas dalam insiden tersebut.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Meskipun insiden dan angka korban jiwa belum dikonfirmasi secara resmi, UNHCR dan IOM sangat prihatin dengan potensi kehilangan nyawa yang sangat besar,&amp;rdquo; kata pernyataan bersama tersebut, sebagaimana dilansir Indian Express, Kamis (16/7/2026).&#13;
&#13;
Perjalanan di Luar Musim Berlayar&#13;
&#13;
Pada tahun 2025, hampir 900 pengungsi Rohingya hilang atau meninggal di Laut Andaman dan Teluk Benggala, menjadikan jalur maritim tersebut sebagai jalur paling mematikan di dunia bagi migran dan pengungsi, kata PBB.&#13;
&#13;
Menurut badan-badan PBB, kapal pertama kehilangan kontak tak lama setelah berangkat. Kapal itu membawa sekitar 250 orang. Kapal kedua, yang membawa 280 orang, diyakini telah terbalik di lepas pantai Irrawaddy, Myanmar, pada tanggal 8 Juli.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Perjalanan ini dilakukan di luar musim berlayar reguler, ketika kondisi maritim biasanya lebih berbahaya,&amp;rdquo; kata pernyataan itu.&#13;
&#13;
UNHCR dan IOM menyatakan bahwa hampir 300 orang, termasuk pengungsi Rohingya dan warga negara Bangladesh, dilaporkan hilang di Laut Andaman dan Teluk Benggala pada tahun 2026.&#13;
&#13;
Krisis pengungsi Rohingya dimulai pada 2017 setelah militer Myanmar melancarkan serangan besar-besaran di Negara Bagian Rakhine, yang memicu eksodus massal. Hal ini menyebabkan setidaknya 730.000 orang mencari perlindungan di Bangladesh.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
