<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menkomdigi Sebut Radikalisme Mulai Menyusup di Ruang Digital</title><description>Menurut Meutya, perpaduan narasi ekstrem dan algoritma dapat menciptakan ilusi bahwa informasi yang terus muncul di layar merupakan kebenaran.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/07/31/337/3233393/menkomdigi-sebut-radikalisme-mulai-menyusup-di-ruang-digital</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/07/31/337/3233393/menkomdigi-sebut-radikalisme-mulai-menyusup-di-ruang-digital"/><item><title>Menkomdigi Sebut Radikalisme Mulai Menyusup di Ruang Digital</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/07/31/337/3233393/menkomdigi-sebut-radikalisme-mulai-menyusup-di-ruang-digital</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/07/31/337/3233393/menkomdigi-sebut-radikalisme-mulai-menyusup-di-ruang-digital</guid><pubDate>Jum'at 31 Juli 2026 14:21 WIB</pubDate><dc:creator>Tim iNews Media Group </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/07/31/337/3233393/pemerintah-0P32_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/07/31/337/3233393/pemerintah-0P32_large.jpg</image><title>Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid</title></images><description>JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, menegaskan bahwa radikalisasi di ruang digital tidak selalu dimulai dengan ajakan melakukan kekerasan. Proses tersebut dapat berawal dari interaksi sederhana, bantuan personal, percakapan dalam permainan daring, hingga rekomendasi konten yang terus berulang karena kerja algoritma.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ketika kekuatan narasi di era digital bergabung dengan kekuatan algoritma untuk sesuatu yang buruk, dampaknya akan termultiplikasi,&amp;rdquo; kata Meutya dalam sebuah diskusi dikutip, Jumat (31/7/2026).&#13;
&#13;
Menurut Meutya, perpaduan narasi ekstrem dan algoritma dapat menciptakan ilusi bahwa informasi yang terus muncul di layar merupakan kebenaran. Fakta kemudian kalah oleh emosi, keyakinan, dan paparan berulang yang membentuk situasi post-truth.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dijelaskannya, proses radikalisasi tidak terjadi secara instan. Pendekatan dapat dimulai dari uluran tangan, pemberian bantuan, pengobatan, pelunasan utang, hingga janji memperoleh pendidikan atau kehidupan yang lebih baik.&#13;
&#13;
Setelah kepercayaan korban terbentuk, jaringan mulai memasukkan narasi ideologis dan mengarahkan korban pada tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.&#13;
&#13;
Meutya juga meminta orang tua mencermati perubahan pola komunikasi anak. Dampak paparan konten berbahaya tidak selalu terlihat dalam satu atau dua hari, tetapi dapat terbentuk perlahan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Anak yang biasanya bercerita dari A sampai Z, perlahan hanya bercerita dari A sampai G. Kemudian berkurang menjadi A sampai C, sampai akhirnya tidak menceritakan apa pun kepada orang tuanya,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Perubahan tersebut, sering tidak disadari karena terjadi secara bertahap. Ketika paparan telah berlangsung cukup lama, hubungan anak dengan keluarga dapat berubah tanpa terasa,&amp;rdquo;pungkasnya.&#13;
&#13;
Sementara itu, Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Mayndra Eka Wardhana, mengatakan adanya pergeseran pola perekrutan. Anak dan remaja yang tumbuh sebagai generasi digital native menjadi kelompok rentan karena sering kali lebih memahami penggunaan platform digital dibandingkan orang tuanya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami mendeteksi bahwa memang terjadi pergeseran pola perekrutan. Berbagai platform digunakan oleh pelajar, anak-anak, dan remaja. Algoritma memiliki peran amplifikasi yang sangat besar,&amp;rdquo; kata Mayndra.&#13;
&#13;
Menurutnya, terorisme tidak dapat ditanggulangi hanya melalui penegakan hukum karena memiliki akar ideologis.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Penanganannya perlu memadukan pencegahan, edukasi, kontra-narasi, deradikalisasi, serta kerja sama lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, keluarga, sekolah, media, dan platform digital,&amp;rdquo;tandasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, menegaskan bahwa radikalisasi di ruang digital tidak selalu dimulai dengan ajakan melakukan kekerasan. Proses tersebut dapat berawal dari interaksi sederhana, bantuan personal, percakapan dalam permainan daring, hingga rekomendasi konten yang terus berulang karena kerja algoritma.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ketika kekuatan narasi di era digital bergabung dengan kekuatan algoritma untuk sesuatu yang buruk, dampaknya akan termultiplikasi,&amp;rdquo; kata Meutya dalam sebuah diskusi dikutip, Jumat (31/7/2026).&#13;
&#13;
Menurut Meutya, perpaduan narasi ekstrem dan algoritma dapat menciptakan ilusi bahwa informasi yang terus muncul di layar merupakan kebenaran. Fakta kemudian kalah oleh emosi, keyakinan, dan paparan berulang yang membentuk situasi post-truth.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dijelaskannya, proses radikalisasi tidak terjadi secara instan. Pendekatan dapat dimulai dari uluran tangan, pemberian bantuan, pengobatan, pelunasan utang, hingga janji memperoleh pendidikan atau kehidupan yang lebih baik.&#13;
&#13;
Setelah kepercayaan korban terbentuk, jaringan mulai memasukkan narasi ideologis dan mengarahkan korban pada tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.&#13;
&#13;
Meutya juga meminta orang tua mencermati perubahan pola komunikasi anak. Dampak paparan konten berbahaya tidak selalu terlihat dalam satu atau dua hari, tetapi dapat terbentuk perlahan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Anak yang biasanya bercerita dari A sampai Z, perlahan hanya bercerita dari A sampai G. Kemudian berkurang menjadi A sampai C, sampai akhirnya tidak menceritakan apa pun kepada orang tuanya,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Perubahan tersebut, sering tidak disadari karena terjadi secara bertahap. Ketika paparan telah berlangsung cukup lama, hubungan anak dengan keluarga dapat berubah tanpa terasa,&amp;rdquo;pungkasnya.&#13;
&#13;
Sementara itu, Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Mayndra Eka Wardhana, mengatakan adanya pergeseran pola perekrutan. Anak dan remaja yang tumbuh sebagai generasi digital native menjadi kelompok rentan karena sering kali lebih memahami penggunaan platform digital dibandingkan orang tuanya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami mendeteksi bahwa memang terjadi pergeseran pola perekrutan. Berbagai platform digunakan oleh pelajar, anak-anak, dan remaja. Algoritma memiliki peran amplifikasi yang sangat besar,&amp;rdquo; kata Mayndra.&#13;
&#13;
Menurutnya, terorisme tidak dapat ditanggulangi hanya melalui penegakan hukum karena memiliki akar ideologis.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Penanganannya perlu memadukan pencegahan, edukasi, kontra-narasi, deradikalisasi, serta kerja sama lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, keluarga, sekolah, media, dan platform digital,&amp;rdquo;tandasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
