<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sulit Menang Perang, Jenderal Senior AS Minta Pemerintah Trump Cari Jalan Damai Lawan Iran</title><description>Jenderal Dan Caine meyakini bahwa serangan udara AS tidak akan dapat memaksa Teheran menerima tuntutan Washington. &#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/08/09/18/3234990/sulit-menang-perang-jenderal-senior-as-minta-pemerintah-trump-cari-jalan-damai-lawan-iran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/08/09/18/3234990/sulit-menang-perang-jenderal-senior-as-minta-pemerintah-trump-cari-jalan-damai-lawan-iran"/><item><title>Sulit Menang Perang, Jenderal Senior AS Minta Pemerintah Trump Cari Jalan Damai Lawan Iran</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/08/09/18/3234990/sulit-menang-perang-jenderal-senior-as-minta-pemerintah-trump-cari-jalan-damai-lawan-iran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/08/09/18/3234990/sulit-menang-perang-jenderal-senior-as-minta-pemerintah-trump-cari-jalan-damai-lawan-iran</guid><pubDate>Minggu 09 Agustus 2026 01:05 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/08/08/18/3234990/ketua_kepala_staf_gabungan_amerika_serikat_jenderal_dan_caine-NmQn_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Jenderal Dan Caine. (Foto: AFP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/08/08/18/3234990/ketua_kepala_staf_gabungan_amerika_serikat_jenderal_dan_caine-NmQn_large.jpg</image><title>Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Jenderal Dan Caine. (Foto: AFP)</title></images><description>WASHINGTON - Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat (AS), Jenderal Dan Caine, dilaporkan secara pribadi telah mendesak para pejabat senior pemerintahan Trump untuk mencari cara guna meredakan eskalasi perang AS melawan Iran. Laporan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa opsi militer yang tersedia mungkin hanya memberikan hasil terbatas dan memicu pembalasan yang lebih luas.&#13;
&#13;
Mengutip tiga sumber yang mengetahui diskusi tersebut, CNN melaporkan bahwa Caine menyampaikan kekhawatirannya kepada para pejabat senior, termasuk Direktur CIA John Ratcliffe, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Wakil Presiden JD Vance.&#13;
&#13;
Laporan tersebut menyebutkan bahwa Caine dan pejabat lainnya meyakini kekuatan udara saja kemungkinan besar tidak akan mampu memaksa Teheran untuk menerima tuntutan AS, meskipun Presiden Donald Trump tetap lebih memilih untuk menghindari invasi darat.&#13;
&#13;
Caine dan pejabat senior lainnya dilaporkan skeptis terhadap usulan eskalasi pada akhir Juli, sebagian karena kekhawatiran akan pembalasan Iran terhadap sekutu AS dan infrastruktur energi regional. Trump akhirnya menunda operasi tersebut setelah mitra-mitra di kawasan Teluk memperingatkan kemungkinan adanya serangan, demikian menurut laporan itu, sebagaimana dilansir TRT.&#13;
&#13;
Laporan tersebut juga menyoroti kekhawatiran yang kian meningkat mengenai menipisnya stok persenjataan AS&amp;mdash;termasuk rudal pencegat pertahanan udara dan amunisi presisi lainnya&amp;mdash;yang dapat membatasi kemampuan Washington untuk mempertahankan konflik berkepanjangan.&#13;
&#13;
CNN mencatat bahwa Caine telah memperingatkan Trump mengenai risiko militer, tetapi menyebutkan bahwa sang jenderal juga menegaskan pasukan AS mampu menimbulkan kerusakan parah pada Iran jika diperintahkan untuk melakukan eskalasi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Laporan itu menyebutkan bahwa para pejabat pemerintah kini tengah mencari hasil yang dapat digambarkan Trump sebagai kemenangan politik, sembari tetap membuka peluang bagi diplomasi, termasuk kemungkinan adanya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.&#13;
&#13;
Perang AS melawan Iran&#13;
&#13;
Ketegangan regional meningkat pada 28 Februari ketika Israel dan AS melancarkan perang terkoordinasi terhadap Iran yang menyasar infrastruktur militer, nuklir, energi, dan sipil; serangan tersebut dengan cepat menewaskan Pemimpin Tertinggi yang telah lama menjabat, Ali Khamenei, serta sebagian besar petinggi lainnya dan ratusan warga sipil.&#13;
&#13;
Namun, Iran segera membalas dengan mengambil kendali atas Selat Hormuz&amp;mdash;jalur sempit yang sebelumnya menjadi lintasan bagi seperlima pasokan minyak dunia&amp;mdash;serta menghujani negara-negara Teluk dengan rudal dan pesawat nirawak (drone).&#13;
&#13;
Pada 18 Juni, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman melalui mediasi Pakistan dan Qatar, yang mengakhiri permusuhan aktif dan memulai negosiasi menuju kesepakatan akhir.&#13;
&#13;
Pembicaraan tersebut kemudian menemui jalan buntu akibat perselisihan terkait keamanan maritim dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, sebuah jalur ekspor vital bagi minyak dan gas dari kawasan Teluk.&#13;
&#13;
Seorang pejabat AS pada Jumat, (7/8/2026) melaporkan adanya kemajuan dalam hubungan antara Iran dan Oman yang dapat segera membuka kembali Selat Hormuz, sehingga berpotensi memulihkan ekspor minyak yang sempat terganggu akibat perang AS melawan Iran yang telah berlangsung selama lima bulan.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Pejabat AS tersebut, yang meminta namanya tidak disebutkan, mengatakan bahwa Washington memperkirakan akan segera tercapai kesepakatan antara kedua negara yang terletak di kedua sisi selat itu, agar lalu lintas minyak dapat kembali normal.&#13;
&#13;
Kesepakatan antara Iran dan Oman mengenai kendali atas jalur perairan strategis tersebut dipandang krusial bagi tercapainya perjanjian damai yang lebih luas.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ada kemajuan antara Oman dan Iran terkait selat tersebut, dan kami memperkirakan kesepakatan akan segera tercapai,&amp;quot; ujar seorang pejabat AS kepada kantor berita Reuters pada Jumat.&#13;
</description><content:encoded>WASHINGTON - Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat (AS), Jenderal Dan Caine, dilaporkan secara pribadi telah mendesak para pejabat senior pemerintahan Trump untuk mencari cara guna meredakan eskalasi perang AS melawan Iran. Laporan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa opsi militer yang tersedia mungkin hanya memberikan hasil terbatas dan memicu pembalasan yang lebih luas.&#13;
&#13;
Mengutip tiga sumber yang mengetahui diskusi tersebut, CNN melaporkan bahwa Caine menyampaikan kekhawatirannya kepada para pejabat senior, termasuk Direktur CIA John Ratcliffe, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Wakil Presiden JD Vance.&#13;
&#13;
Laporan tersebut menyebutkan bahwa Caine dan pejabat lainnya meyakini kekuatan udara saja kemungkinan besar tidak akan mampu memaksa Teheran untuk menerima tuntutan AS, meskipun Presiden Donald Trump tetap lebih memilih untuk menghindari invasi darat.&#13;
&#13;
Caine dan pejabat senior lainnya dilaporkan skeptis terhadap usulan eskalasi pada akhir Juli, sebagian karena kekhawatiran akan pembalasan Iran terhadap sekutu AS dan infrastruktur energi regional. Trump akhirnya menunda operasi tersebut setelah mitra-mitra di kawasan Teluk memperingatkan kemungkinan adanya serangan, demikian menurut laporan itu, sebagaimana dilansir TRT.&#13;
&#13;
Laporan tersebut juga menyoroti kekhawatiran yang kian meningkat mengenai menipisnya stok persenjataan AS&amp;mdash;termasuk rudal pencegat pertahanan udara dan amunisi presisi lainnya&amp;mdash;yang dapat membatasi kemampuan Washington untuk mempertahankan konflik berkepanjangan.&#13;
&#13;
CNN mencatat bahwa Caine telah memperingatkan Trump mengenai risiko militer, tetapi menyebutkan bahwa sang jenderal juga menegaskan pasukan AS mampu menimbulkan kerusakan parah pada Iran jika diperintahkan untuk melakukan eskalasi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Laporan itu menyebutkan bahwa para pejabat pemerintah kini tengah mencari hasil yang dapat digambarkan Trump sebagai kemenangan politik, sembari tetap membuka peluang bagi diplomasi, termasuk kemungkinan adanya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.&#13;
&#13;
Perang AS melawan Iran&#13;
&#13;
Ketegangan regional meningkat pada 28 Februari ketika Israel dan AS melancarkan perang terkoordinasi terhadap Iran yang menyasar infrastruktur militer, nuklir, energi, dan sipil; serangan tersebut dengan cepat menewaskan Pemimpin Tertinggi yang telah lama menjabat, Ali Khamenei, serta sebagian besar petinggi lainnya dan ratusan warga sipil.&#13;
&#13;
Namun, Iran segera membalas dengan mengambil kendali atas Selat Hormuz&amp;mdash;jalur sempit yang sebelumnya menjadi lintasan bagi seperlima pasokan minyak dunia&amp;mdash;serta menghujani negara-negara Teluk dengan rudal dan pesawat nirawak (drone).&#13;
&#13;
Pada 18 Juni, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman melalui mediasi Pakistan dan Qatar, yang mengakhiri permusuhan aktif dan memulai negosiasi menuju kesepakatan akhir.&#13;
&#13;
Pembicaraan tersebut kemudian menemui jalan buntu akibat perselisihan terkait keamanan maritim dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, sebuah jalur ekspor vital bagi minyak dan gas dari kawasan Teluk.&#13;
&#13;
Seorang pejabat AS pada Jumat, (7/8/2026) melaporkan adanya kemajuan dalam hubungan antara Iran dan Oman yang dapat segera membuka kembali Selat Hormuz, sehingga berpotensi memulihkan ekspor minyak yang sempat terganggu akibat perang AS melawan Iran yang telah berlangsung selama lima bulan.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Pejabat AS tersebut, yang meminta namanya tidak disebutkan, mengatakan bahwa Washington memperkirakan akan segera tercapai kesepakatan antara kedua negara yang terletak di kedua sisi selat itu, agar lalu lintas minyak dapat kembali normal.&#13;
&#13;
Kesepakatan antara Iran dan Oman mengenai kendali atas jalur perairan strategis tersebut dipandang krusial bagi tercapainya perjanjian damai yang lebih luas.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ada kemajuan antara Oman dan Iran terkait selat tersebut, dan kami memperkirakan kesepakatan akan segera tercapai,&amp;quot; ujar seorang pejabat AS kepada kantor berita Reuters pada Jumat.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
