<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gus Rozin Akan Kembalikan Marwah NU dan Perkuat hingga Pelosok</title><description>Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dijadwalkan akan berlangsung pada 27-30 Agustus 2026 di Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/08/11/337/3235534/gus-rozin-akan-kembalikan-marwah-nu-dan-perkuat-hingga-pelosok</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/08/11/337/3235534/gus-rozin-akan-kembalikan-marwah-nu-dan-perkuat-hingga-pelosok"/><item><title>Gus Rozin Akan Kembalikan Marwah NU dan Perkuat hingga Pelosok</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/08/11/337/3235534/gus-rozin-akan-kembalikan-marwah-nu-dan-perkuat-hingga-pelosok</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/08/11/337/3235534/gus-rozin-akan-kembalikan-marwah-nu-dan-perkuat-hingga-pelosok</guid><pubDate>Selasa 11 Agustus 2026 20:19 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/08/11/337/3235534/pbnu-DhCb_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gus Rozin Akan Kembalikan Marwah NU dan Perkuat hingga Pelosok</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/08/11/337/3235534/pbnu-DhCb_large.jpg</image><title>Gus Rozin Akan Kembalikan Marwah NU dan Perkuat hingga Pelosok</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dijadwalkan akan berlangsung pada 27-30 Agustus 2026 di Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Forum tertinggi organisasi tersebut akan memilih Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmat 2026-2031.&#13;
&#13;
Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) dari Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) berharap kepemimpinan PBNU mendatang mampu mengembalikan marwah jam&amp;#39;iyyah sekaligus memperkuat kehadiran organisasi hingga pelosok Indonesia.&#13;
&#13;
Harapan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan calon Ketua Umum PBNU Kiai Abdul Ghaffar Rozin alias Gus Rozin.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau Gus Rozin mendapat amanah, kami berharap PBNU memberikan perhatian nyata kepada PCNU di NTT. Jangan sampai cabang-cabang di daerah merasa jauh dari PBNU,&amp;rdquo; ujar Ketua PCNU Lembata, Mukhtar Sarabity, Selasa (11/8/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menanggapi hal tersebut, Gus Rozin mengatakan, ukuran keberhasilan organisasi bukan semata-mata seberapa kuat struktur PBNU, tetapi seberapa besar manfaat yang dirasakan jamaah dan masyarakat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;NU yang bermanfaat adalah NU yang kehadirannya dapat dirasakan oleh jamaah, dari pusat hingga pelosok negeri,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Menurutnya, NU memiliki karakter yang berbeda dengan organisasi yang membangun struktur terlebih dahulu kemudian mencari anggota. &amp;ldquo;Di NU jamaahnya dulu ada, lalu jam&amp;#39;iyyahnya terbangun,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Karena itu, menurutnya, pembangunan organisasi harus dimulai dari kekuatan jamaah. PBNU harus memastikan ranting, MWCNU, PCNU, dan PWNU memiliki kapasitas untuk menjalankan khidmah.&#13;
&#13;
Kemandirian organisasi juga harus dibangun melalui penguatan ekonomi jamaah, pengelolaan aset, kaderisasi, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.&#13;
&#13;
Dalam konteks tersebut, daerah seperti Bali dan NTT justru harus mendapatkan ruang lebih besar dalam agenda pemerataan penguatan organisasi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita ingin membangun NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat. Berdaulat berarti mampu berdiri di atas kekuatan sendiri. Bermartabat berarti menjaga marwah ulama, pesantren dan amanah organisasi. Bermanfaat berarti program NU benar-benar dirasakan jamaah dan masyarakat,&amp;rdquo; kata Gus Rozin.&#13;
&#13;
Menurut Gus Rozin, upaya mengembalikan marwah NU tidak cukup dilakukan melalui slogan. Marwah harus dibangun melalui keteladanan, integritas, keluasan ilmu, akhlak, tata kelola organisasi yang sehat, serta keberpihakan kepada jamaah.&#13;
&#13;
Dia menekankan pentingnya memastikan seluruh aset dan sumber daya organisasi dikelola secara amanah dan akuntabel.&#13;
&#13;
Dengan tata kelola yang baik, kata Gus Rozin, PBNU dapat memperkuat kapasitas PWNU dan PCNU, termasuk wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan sumber daya.&#13;
&#13;
Dengan demikian, aspirasi dari Bali dan NTT menjadi bagian dari agenda lebih besar Gus Rozin untuk membawa NU memasuki abad kedua sebagai jam&amp;#39;iyyah yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat, serta tetap menjadi rumah besar masyarakat sipil keagamaan bagi seluruh warga NU.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kepemimpinan harus menjadi jalan untuk memperkuat jam&amp;#39;iyyah, menjaga ukhuwah, dan menghadirkan manfaat bagi jamaah,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dijadwalkan akan berlangsung pada 27-30 Agustus 2026 di Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Forum tertinggi organisasi tersebut akan memilih Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmat 2026-2031.&#13;
&#13;
Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) dari Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) berharap kepemimpinan PBNU mendatang mampu mengembalikan marwah jam&amp;#39;iyyah sekaligus memperkuat kehadiran organisasi hingga pelosok Indonesia.&#13;
&#13;
Harapan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan calon Ketua Umum PBNU Kiai Abdul Ghaffar Rozin alias Gus Rozin.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kalau Gus Rozin mendapat amanah, kami berharap PBNU memberikan perhatian nyata kepada PCNU di NTT. Jangan sampai cabang-cabang di daerah merasa jauh dari PBNU,&amp;rdquo; ujar Ketua PCNU Lembata, Mukhtar Sarabity, Selasa (11/8/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menanggapi hal tersebut, Gus Rozin mengatakan, ukuran keberhasilan organisasi bukan semata-mata seberapa kuat struktur PBNU, tetapi seberapa besar manfaat yang dirasakan jamaah dan masyarakat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;NU yang bermanfaat adalah NU yang kehadirannya dapat dirasakan oleh jamaah, dari pusat hingga pelosok negeri,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Menurutnya, NU memiliki karakter yang berbeda dengan organisasi yang membangun struktur terlebih dahulu kemudian mencari anggota. &amp;ldquo;Di NU jamaahnya dulu ada, lalu jam&amp;#39;iyyahnya terbangun,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Karena itu, menurutnya, pembangunan organisasi harus dimulai dari kekuatan jamaah. PBNU harus memastikan ranting, MWCNU, PCNU, dan PWNU memiliki kapasitas untuk menjalankan khidmah.&#13;
&#13;
Kemandirian organisasi juga harus dibangun melalui penguatan ekonomi jamaah, pengelolaan aset, kaderisasi, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.&#13;
&#13;
Dalam konteks tersebut, daerah seperti Bali dan NTT justru harus mendapatkan ruang lebih besar dalam agenda pemerataan penguatan organisasi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita ingin membangun NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat. Berdaulat berarti mampu berdiri di atas kekuatan sendiri. Bermartabat berarti menjaga marwah ulama, pesantren dan amanah organisasi. Bermanfaat berarti program NU benar-benar dirasakan jamaah dan masyarakat,&amp;rdquo; kata Gus Rozin.&#13;
&#13;
Menurut Gus Rozin, upaya mengembalikan marwah NU tidak cukup dilakukan melalui slogan. Marwah harus dibangun melalui keteladanan, integritas, keluasan ilmu, akhlak, tata kelola organisasi yang sehat, serta keberpihakan kepada jamaah.&#13;
&#13;
Dia menekankan pentingnya memastikan seluruh aset dan sumber daya organisasi dikelola secara amanah dan akuntabel.&#13;
&#13;
Dengan tata kelola yang baik, kata Gus Rozin, PBNU dapat memperkuat kapasitas PWNU dan PCNU, termasuk wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan sumber daya.&#13;
&#13;
Dengan demikian, aspirasi dari Bali dan NTT menjadi bagian dari agenda lebih besar Gus Rozin untuk membawa NU memasuki abad kedua sebagai jam&amp;#39;iyyah yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat, serta tetap menjadi rumah besar masyarakat sipil keagamaan bagi seluruh warga NU.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kepemimpinan harus menjadi jalan untuk memperkuat jam&amp;#39;iyyah, menjaga ukhuwah, dan menghadirkan manfaat bagi jamaah,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
