<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gelar Halaqah, Forum Ulama Nahdliyin Refleksi Kepemimpinan PBNU</title><description>Sejumlah ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) menyampaikan kritik serta refleksi terhadap kondisi organisasi menjelang Muktamar ke-35 NU. Pandangan tersebut disampaikan dalam Halaqah Refleksi Kepemimpinan PBNU yang digelar Forum Ulama Nahdliyin (FUN) di Aula Universitas Darul Ulum, Jombang, Rabu (26/8/2026).&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/08/26/340/3238400/gelar-halaqah-forum-ulama-nahdliyin-refleksi-kepemimpinan-pbnu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/08/26/340/3238400/gelar-halaqah-forum-ulama-nahdliyin-refleksi-kepemimpinan-pbnu"/><item><title>Gelar Halaqah, Forum Ulama Nahdliyin Refleksi Kepemimpinan PBNU</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/08/26/340/3238400/gelar-halaqah-forum-ulama-nahdliyin-refleksi-kepemimpinan-pbnu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/08/26/340/3238400/gelar-halaqah-forum-ulama-nahdliyin-refleksi-kepemimpinan-pbnu</guid><pubDate>Rabu 26 Agustus 2026 19:20 WIB</pubDate><dc:creator>Arief Setyadi </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/08/26/340/3238400/forum_ulama_nahdliyin-HMS3_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Forum Ulama Nahdliyin (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/08/26/340/3238400/forum_ulama_nahdliyin-HMS3_large.jpg</image><title>Forum Ulama Nahdliyin (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Sejumlah ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) menyampaikan kritik serta refleksi terhadap kondisi organisasi menjelang Muktamar ke-35 NU. Pandangan tersebut disampaikan dalam Halaqah Refleksi Kepemimpinan PBNU yang digelar Forum Ulama Nahdliyin (FUN) di Aula Universitas Darul Ulum, Jombang, Rabu (26/8/2026).&#13;
&#13;
Ketua FUN KH Mujib Qulyubi menjelaskan, forum tersebut menjadi ruang untuk melakukan refleksi sekaligus menyampaikan sikap atas dinamika yang terjadi di lingkungan NU. Menurutnya, upaya tersebut merupakan bagian dari ikhtiar sebagaimana pesan Nabi SAW mengenai kewajiban mengubah kemungkaran sesuai kemampuan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Apabila melihat kemungkaran maka ubahlah dengan kekuasaan, jika tidak bisa, maka dengan lisan. Jika tidak bisa, maka selemah-lemahnya iman adalah dengan hati,&amp;quot; ujar Mujib dalam keterangannya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ia kemudian menyinggung keputusan Rois Syuriyah PWNU Provinsi Gorontalo Burhanudin Umar yang mengundurkan diri. Menurutnya, keputusan tersebut menunjukkan keprihatinan terhadap konflik yang terjadi di kalangan elite NU.&#13;
&#13;
&amp;quot;Rois Syuriyah PWNU Provinsi Gorontalo dr KH Burhanudin Umar, karena tidak kuat melihat pertengkaran elit-elit kita, maka mengundurkan diri sebagai Rois Syuriyah. Mudah-mudahan sekecil apapun ikhtiar kita, semoga upaya NU Kultural kita ini dicatat sebagai bagian dari perjuangan tersebut,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Tokoh NU Andi Najmi Fuadi mengatakan, tema yang diangkat dalam halaqah merupakan refleksi atas kepemimpinan PBNU. Kegiatan tersebut digelar sehari sebelum pembukaan Muktamar ke-35 NU sehingga hasil pembahasannya diharapkan dapat menjadi masukan bagi para muktamirin.&#13;
&#13;
Pengasuh Ponpes Wali Salatiga Anis Maftuhin turut menyampaikan kritik terhadap kepemimpinan PBNU saat ini. Ia bahkan meminta agar kepemimpinan yang ada tidak kembali dipilih.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pemimpin sekarang la qowiyyan walaa amiinan. Jangan dipilih kembali,&amp;quot; kata Anis.&#13;
&#13;
Menurut Anis, kondisi menjelang muktamar membuat banyak ulama merasa prihatin. Ia menilai terdapat sejumlah persoalan dalam proses penyelenggaraan muktamar yang perlu menjadi perhatian bersama.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pilihannya, kalau tidak berangkat muktamar, kasihan NU. Sekarang sudah ada culik-menculik, karantina peserta, dan lain-lain,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Ia menilai ada tiga L dari PBNU hari ini, yakni Luntur keulamaannya, Luntur tradisi tabayun, dan Luntur ri&amp;#39;ayatul ummah. PBNU hari ini lemah manajerialnya dan tidak membuat maslahat.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Warga nahdliyin, ibu-ibu muslimat itu tetap jalan tahlilan, istighotsah, dan kegiatan-kegiatan NU. Tapi muktamar hari ini begitu mencekam, tegang, ada pengondisian,&amp;quot; tegasnya.&#13;
&#13;
Kaderisasi di tubuh NU juga perlu dikembalikan pada tujuan awalnya. &amp;quot;Di bawah ada paradoks. Kaderisasi sekarang untuk menguatkan kekuasaan, atau jabatan di birokrasi. Karena itu tugas bersama menitipkan aspirasi kepada muktamirim untuk memberi maslahat bagi nahdliyin. Ikhtilaf itu harus menjadi rahmat dan perang gagasan,&amp;quot; imbuhnya.&#13;
&#13;
Sementara itu, Pengasuh Ponpes Algebra Bogor Khariri Makmun mengingatkan pentingnya keberanian menyampaikan kebenaran. Ia berharap NU kembali memperkuat perannya dalam menyuarakan persoalan masyarakat serta membangun komunikasi dengan pemerintah.&#13;
&#13;
&amp;quot;NU bersama masyarakat, terutama di hari-hari sulit sekarang ini. Teman-teman di bawah berharap NU fokus melihat kondisi di masyarakat, kemudian didialogkan pada pemerintah. Zaman Gus Dur, KH Hasyim Muzadi, hingga Kiai Said melakukan itu,&amp;quot; tuturnya.&#13;
&#13;
Khariri juga menyoroti sejumlah kontroversi yang menurutnya terjadi selama periode kepengurusan PBNU saat ini, termasuk persoalan di internal organisasi dan isu kolaborasi dengan pihak tertentu.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Sekarang, salah satu pimpinan PBNU, siapa saja, kebanyakan netizen nyinyir. Ada rekam jejaknya. Keprihatinan masyarakat terhadap PBNU sejak pertama dilantik sampai akhir periode, banyak kontroversi yang kita saksikan. Empat bulan setelah dilantik, ada korupsi Bendum PBNU Mardani Maming. Ini tidak pernah terjadi. Dulu sebelum dilantik jadi pengurus PBNU, dilihat rekam jejaknya. Ini tidak,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Menurut Khariri, sejumlah persoalan lain juga muncul selama periode tersebut. Bahkan, dua bulan menjelang muktamar, ratusan SK masih belum jelas.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Ada rumor bahwa SK juga ditransaksikan. Ada agenda besar merusak NU, yaitu kolaborasi dengan zionis. Holland Taylor itu diyakini intelijen. Selalu menggunakan narasi temannya Gus Dur. Bahkan bertemu Netanyahu. Yang tidak dipahami, dulu Gus Dur ketemu Yitzhak Rabin yang masih moderat dan memungkinkan adanya optimisme dari Gus Dur. Sementara Netanyahu adalah garis keras yang tidak mungkin dilobi,&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
Pengasuh Ponpes Madrasatul Quran Mustain Syafi&amp;#39;i kemudian menyampaikan pandangannya mengenai keberlangsungan amaliyah NU. Ia menilai kegiatan ke-NU-an akan tetap berjalan meski organisasi menghadapi persoalan kepemimpinan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau nahi &amp;#39;anil mungkar, itu mungkarnya belum ada. Jadi sekarang dalilnya yang pas taghyir &amp;#39;anil mungkar. Persoalannya, jika tikus-tikus menguasai lumbung, ayo beli racun yang paling efektif. Manfaatkan istighotsah, wa ahlikil kafarota. Kita juga buat sholawat asyghil, ternyata yang dzolim pengurus NU sendiri,&amp;quot; tutur Mustain.&#13;
&#13;
Ia juga mengkritik sikap elite organisasi terkait berbagai persoalan kebangsaan. &amp;quot;Ketika NU dan Muhammadiyah dikasih tambang, akhirnya pimpinannya diam semua. Apa kurang rusak darurat korupsi di negeri kita? Daripada mengolok-olok, mari kita istighfar: Ya Allah, apa dosa orang NU sehingga punya pimpinan seperti sekarang. Kita perlu istighfar massal. Dulu, kaum nahdliyin yang paling dipikirkan adalah kesejahteraan umat Islam. Sampai hadratus syaikh mewakafkan tanah untuk dijadikan pasar,&amp;quot; tambahnya.&#13;
&#13;
Sekadar informasi, halaqah tersebut diikuti ratusan kiai pengasuh pondok pesantren, tokoh NU, pengurus badan otonom (banom) NU, serta warga Nahdliyin yang berada di Jombang untuk menyambut pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Sejumlah ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) menyampaikan kritik serta refleksi terhadap kondisi organisasi menjelang Muktamar ke-35 NU. Pandangan tersebut disampaikan dalam Halaqah Refleksi Kepemimpinan PBNU yang digelar Forum Ulama Nahdliyin (FUN) di Aula Universitas Darul Ulum, Jombang, Rabu (26/8/2026).&#13;
&#13;
Ketua FUN KH Mujib Qulyubi menjelaskan, forum tersebut menjadi ruang untuk melakukan refleksi sekaligus menyampaikan sikap atas dinamika yang terjadi di lingkungan NU. Menurutnya, upaya tersebut merupakan bagian dari ikhtiar sebagaimana pesan Nabi SAW mengenai kewajiban mengubah kemungkaran sesuai kemampuan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Apabila melihat kemungkaran maka ubahlah dengan kekuasaan, jika tidak bisa, maka dengan lisan. Jika tidak bisa, maka selemah-lemahnya iman adalah dengan hati,&amp;quot; ujar Mujib dalam keterangannya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Ia kemudian menyinggung keputusan Rois Syuriyah PWNU Provinsi Gorontalo Burhanudin Umar yang mengundurkan diri. Menurutnya, keputusan tersebut menunjukkan keprihatinan terhadap konflik yang terjadi di kalangan elite NU.&#13;
&#13;
&amp;quot;Rois Syuriyah PWNU Provinsi Gorontalo dr KH Burhanudin Umar, karena tidak kuat melihat pertengkaran elit-elit kita, maka mengundurkan diri sebagai Rois Syuriyah. Mudah-mudahan sekecil apapun ikhtiar kita, semoga upaya NU Kultural kita ini dicatat sebagai bagian dari perjuangan tersebut,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Tokoh NU Andi Najmi Fuadi mengatakan, tema yang diangkat dalam halaqah merupakan refleksi atas kepemimpinan PBNU. Kegiatan tersebut digelar sehari sebelum pembukaan Muktamar ke-35 NU sehingga hasil pembahasannya diharapkan dapat menjadi masukan bagi para muktamirin.&#13;
&#13;
Pengasuh Ponpes Wali Salatiga Anis Maftuhin turut menyampaikan kritik terhadap kepemimpinan PBNU saat ini. Ia bahkan meminta agar kepemimpinan yang ada tidak kembali dipilih.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pemimpin sekarang la qowiyyan walaa amiinan. Jangan dipilih kembali,&amp;quot; kata Anis.&#13;
&#13;
Menurut Anis, kondisi menjelang muktamar membuat banyak ulama merasa prihatin. Ia menilai terdapat sejumlah persoalan dalam proses penyelenggaraan muktamar yang perlu menjadi perhatian bersama.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pilihannya, kalau tidak berangkat muktamar, kasihan NU. Sekarang sudah ada culik-menculik, karantina peserta, dan lain-lain,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Ia menilai ada tiga L dari PBNU hari ini, yakni Luntur keulamaannya, Luntur tradisi tabayun, dan Luntur ri&amp;#39;ayatul ummah. PBNU hari ini lemah manajerialnya dan tidak membuat maslahat.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Warga nahdliyin, ibu-ibu muslimat itu tetap jalan tahlilan, istighotsah, dan kegiatan-kegiatan NU. Tapi muktamar hari ini begitu mencekam, tegang, ada pengondisian,&amp;quot; tegasnya.&#13;
&#13;
Kaderisasi di tubuh NU juga perlu dikembalikan pada tujuan awalnya. &amp;quot;Di bawah ada paradoks. Kaderisasi sekarang untuk menguatkan kekuasaan, atau jabatan di birokrasi. Karena itu tugas bersama menitipkan aspirasi kepada muktamirim untuk memberi maslahat bagi nahdliyin. Ikhtilaf itu harus menjadi rahmat dan perang gagasan,&amp;quot; imbuhnya.&#13;
&#13;
Sementara itu, Pengasuh Ponpes Algebra Bogor Khariri Makmun mengingatkan pentingnya keberanian menyampaikan kebenaran. Ia berharap NU kembali memperkuat perannya dalam menyuarakan persoalan masyarakat serta membangun komunikasi dengan pemerintah.&#13;
&#13;
&amp;quot;NU bersama masyarakat, terutama di hari-hari sulit sekarang ini. Teman-teman di bawah berharap NU fokus melihat kondisi di masyarakat, kemudian didialogkan pada pemerintah. Zaman Gus Dur, KH Hasyim Muzadi, hingga Kiai Said melakukan itu,&amp;quot; tuturnya.&#13;
&#13;
Khariri juga menyoroti sejumlah kontroversi yang menurutnya terjadi selama periode kepengurusan PBNU saat ini, termasuk persoalan di internal organisasi dan isu kolaborasi dengan pihak tertentu.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Sekarang, salah satu pimpinan PBNU, siapa saja, kebanyakan netizen nyinyir. Ada rekam jejaknya. Keprihatinan masyarakat terhadap PBNU sejak pertama dilantik sampai akhir periode, banyak kontroversi yang kita saksikan. Empat bulan setelah dilantik, ada korupsi Bendum PBNU Mardani Maming. Ini tidak pernah terjadi. Dulu sebelum dilantik jadi pengurus PBNU, dilihat rekam jejaknya. Ini tidak,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Menurut Khariri, sejumlah persoalan lain juga muncul selama periode tersebut. Bahkan, dua bulan menjelang muktamar, ratusan SK masih belum jelas.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Ada rumor bahwa SK juga ditransaksikan. Ada agenda besar merusak NU, yaitu kolaborasi dengan zionis. Holland Taylor itu diyakini intelijen. Selalu menggunakan narasi temannya Gus Dur. Bahkan bertemu Netanyahu. Yang tidak dipahami, dulu Gus Dur ketemu Yitzhak Rabin yang masih moderat dan memungkinkan adanya optimisme dari Gus Dur. Sementara Netanyahu adalah garis keras yang tidak mungkin dilobi,&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
Pengasuh Ponpes Madrasatul Quran Mustain Syafi&amp;#39;i kemudian menyampaikan pandangannya mengenai keberlangsungan amaliyah NU. Ia menilai kegiatan ke-NU-an akan tetap berjalan meski organisasi menghadapi persoalan kepemimpinan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau nahi &amp;#39;anil mungkar, itu mungkarnya belum ada. Jadi sekarang dalilnya yang pas taghyir &amp;#39;anil mungkar. Persoalannya, jika tikus-tikus menguasai lumbung, ayo beli racun yang paling efektif. Manfaatkan istighotsah, wa ahlikil kafarota. Kita juga buat sholawat asyghil, ternyata yang dzolim pengurus NU sendiri,&amp;quot; tutur Mustain.&#13;
&#13;
Ia juga mengkritik sikap elite organisasi terkait berbagai persoalan kebangsaan. &amp;quot;Ketika NU dan Muhammadiyah dikasih tambang, akhirnya pimpinannya diam semua. Apa kurang rusak darurat korupsi di negeri kita? Daripada mengolok-olok, mari kita istighfar: Ya Allah, apa dosa orang NU sehingga punya pimpinan seperti sekarang. Kita perlu istighfar massal. Dulu, kaum nahdliyin yang paling dipikirkan adalah kesejahteraan umat Islam. Sampai hadratus syaikh mewakafkan tanah untuk dijadikan pasar,&amp;quot; tambahnya.&#13;
&#13;
Sekadar informasi, halaqah tersebut diikuti ratusan kiai pengasuh pondok pesantren, tokoh NU, pengurus badan otonom (banom) NU, serta warga Nahdliyin yang berada di Jombang untuk menyambut pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
