<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Nepal Mulai Makamkan Korban Tewas Banjir Bandang di Kuburan Massal</title><description>Otoritas Nepal telah mengambil sampel dari para korban yang dimakamkan untuk upaya identifikasi.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/09/03/18/3239707/nepal-mulai-makamkan-korban-tewas-banjir-bandang-di-kuburan-massal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/09/03/18/3239707/nepal-mulai-makamkan-korban-tewas-banjir-bandang-di-kuburan-massal"/><item><title>Nepal Mulai Makamkan Korban Tewas Banjir Bandang di Kuburan Massal</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/09/03/18/3239707/nepal-mulai-makamkan-korban-tewas-banjir-bandang-di-kuburan-massal</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/09/03/18/3239707/nepal-mulai-makamkan-korban-tewas-banjir-bandang-di-kuburan-massal</guid><pubDate>Kamis 03 September 2026 00:10 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/09/02/18/3239707/nepal_memakamkan_korban_banjir_bandang_dalam_kuburan_massal-oUGi_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Nepal memakamkan korban banjir bandang dalam kuburan massal. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/09/02/18/3239707/nepal_memakamkan_korban_banjir_bandang_dalam_kuburan_massal-oUGi_large.jpg</image><title>Nepal memakamkan korban banjir bandang dalam kuburan massal. (Foto: Reuters)</title></images><description>KATHMANDU - Nepal telah mulai memakamkan para korban banjir dahsyat yang melanda negara pegunungan itu pekan lalu di kuburan massal. Pemakaman dilakukan setelah otoritas sebelumnya mengambil sampel DNA para korban.&#13;
&#13;
Tim darurat telah mengevakuasi lebih dari 1.100 jenazah, sementara hampir 4.000 orang masih dinyatakan hilang setelah gelombang raksasa berisi air sedingin es, bebatuan, dan puing&amp;mdash;yang dipicu oleh runtuhnya gletser di ketinggian&amp;mdash;menerjang kawasan perbatasan Tiongkok-Nepal pada 26 Agustus dan menyebabkan kerusakan parah di sepanjang jalur yang dilaluinya.&#13;
&#13;
Gelombang mematikan tersebut dipicu oleh runtuhnya gletser di ketinggian, yang kemudian menyebabkan kehancuran saat bergerak melintasi negara itu.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dilaporkan Al Jazeera, di lokasi pemakaman massal di distrik Chitwan, pelaksanaan ritual kematian Hindu&amp;mdash;termasuk kremasi, doa, dan penghormatan terakhir&amp;mdash;kewalahan menghadapi besarnya skala bencana ini. Pihak berwenang terpaksa memakamkan jenazah tak dikenal setelah pengambilan sampel DNA karena jumlahnya terlalu banyak untuk disimpan atau diidentifikasi satu per satu.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Banyak pihak merasa geram dan menyatakan penolakan setelah pemerintah mengungkapkan rencananya untuk melakukan penguburan massal yang bersifat &amp;quot;sementara&amp;quot; bagi para korban meninggal. Masyarakat Nepal, yang sebagian besar beragama Hindu, menentang langkah tersebut karena dianggap bertentangan dengan tradisi keagamaan.&#13;
&#13;
Keluarga-keluarga di Nepal menggelar upacara pemakaman simbolis untuk &amp;quot;membebaskan jiwa&amp;quot; orang-orang terkasih yang hilang sejak banjir bandang mematikan menyapu desa dan rumah mereka di wilayah Himalaya sepekan yang lalu.&#13;
&#13;
Polisi yang menggunakan pesawat nirawak (drone) untuk mencari korban selamat melaporkan pada Selasa (1/9/2026) bahwa mereka menemukan 24 jenazah di sebuah rumah di distrik Nuwakot. Setidaknya 17 jenazah juga telah ditemukan di sungai-sungai yang mengalir jauh ke hilir hingga ke wilayah India.&#13;
&#13;
Perdana Menteri Balendra Shah menyebut bencana ini sebagai peristiwa yang &amp;quot;tak terbayangkan dan memilukan&amp;quot;.&#13;
</description><content:encoded>KATHMANDU - Nepal telah mulai memakamkan para korban banjir dahsyat yang melanda negara pegunungan itu pekan lalu di kuburan massal. Pemakaman dilakukan setelah otoritas sebelumnya mengambil sampel DNA para korban.&#13;
&#13;
Tim darurat telah mengevakuasi lebih dari 1.100 jenazah, sementara hampir 4.000 orang masih dinyatakan hilang setelah gelombang raksasa berisi air sedingin es, bebatuan, dan puing&amp;mdash;yang dipicu oleh runtuhnya gletser di ketinggian&amp;mdash;menerjang kawasan perbatasan Tiongkok-Nepal pada 26 Agustus dan menyebabkan kerusakan parah di sepanjang jalur yang dilaluinya.&#13;
&#13;
Gelombang mematikan tersebut dipicu oleh runtuhnya gletser di ketinggian, yang kemudian menyebabkan kehancuran saat bergerak melintasi negara itu.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dilaporkan Al Jazeera, di lokasi pemakaman massal di distrik Chitwan, pelaksanaan ritual kematian Hindu&amp;mdash;termasuk kremasi, doa, dan penghormatan terakhir&amp;mdash;kewalahan menghadapi besarnya skala bencana ini. Pihak berwenang terpaksa memakamkan jenazah tak dikenal setelah pengambilan sampel DNA karena jumlahnya terlalu banyak untuk disimpan atau diidentifikasi satu per satu.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Banyak pihak merasa geram dan menyatakan penolakan setelah pemerintah mengungkapkan rencananya untuk melakukan penguburan massal yang bersifat &amp;quot;sementara&amp;quot; bagi para korban meninggal. Masyarakat Nepal, yang sebagian besar beragama Hindu, menentang langkah tersebut karena dianggap bertentangan dengan tradisi keagamaan.&#13;
&#13;
Keluarga-keluarga di Nepal menggelar upacara pemakaman simbolis untuk &amp;quot;membebaskan jiwa&amp;quot; orang-orang terkasih yang hilang sejak banjir bandang mematikan menyapu desa dan rumah mereka di wilayah Himalaya sepekan yang lalu.&#13;
&#13;
Polisi yang menggunakan pesawat nirawak (drone) untuk mencari korban selamat melaporkan pada Selasa (1/9/2026) bahwa mereka menemukan 24 jenazah di sebuah rumah di distrik Nuwakot. Setidaknya 17 jenazah juga telah ditemukan di sungai-sungai yang mengalir jauh ke hilir hingga ke wilayah India.&#13;
&#13;
Perdana Menteri Balendra Shah menyebut bencana ini sebagai peristiwa yang &amp;quot;tak terbayangkan dan memilukan&amp;quot;.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
