<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ahli Ungkap Dentuman di Bandung Diduga Bersumber dari Erupsi Anak Krakatau</title><description>Fenomena suara dentuman dan getaran misterius terdengar di wilayah Bandung Raya serta sejumlah daerah di Jawa Barat, Banten, dan Lampung pada Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026). Badan Geologi Kementerian ESDM menduga fenomena tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau (GAK).&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/09/05/337/3240327/ahli-ungkap-dentuman-di-bandung-diduga-bersumber-dari-erupsi-anak-krakatau</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/09/05/337/3240327/ahli-ungkap-dentuman-di-bandung-diduga-bersumber-dari-erupsi-anak-krakatau"/><item><title>Ahli Ungkap Dentuman di Bandung Diduga Bersumber dari Erupsi Anak Krakatau</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/09/05/337/3240327/ahli-ungkap-dentuman-di-bandung-diduga-bersumber-dari-erupsi-anak-krakatau</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/09/05/337/3240327/ahli-ungkap-dentuman-di-bandung-diduga-bersumber-dari-erupsi-anak-krakatau</guid><pubDate>Sabtu 05 September 2026 19:05 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/09/05/337/3240327/gunung_anak_krakatau-kZhR_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Illustrasi dentuman di Bandung (foto: IABI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/09/05/337/3240327/gunung_anak_krakatau-kZhR_large.jpg</image><title>Illustrasi dentuman di Bandung (foto: IABI)</title></images><description>&#13;
&#13;
JAKARTA - Fenomena suara dentuman dan getaran misterius terdengar di wilayah Bandung Raya serta sejumlah daerah di Jawa Barat, Banten, dan Lampung pada Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026). Badan Geologi Kementerian ESDM menduga fenomena tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau (GAK).&#13;
&#13;
Penjelasan serupa disampaikan Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono. Dia menduga dentuman yang terdengar di Bandung bersumber dari erupsi Gunung Anak Krakatau.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dentuman Bandung dapat dijelaskan bersumber dari erupsi Gunung Anak Krakatau,&amp;quot; kata Daryono dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (5/9/2026).&#13;
&#13;
Daryono menjelaskan, fenomena dentuman di Bandung terjadi akibat konversi mendadak energi termal dan mekanis dari erupsi menjadi gelombang kompresi akustik berfrekuensi sangat rendah atau infrasound. Gelombang tersebut kemudian merambat melalui troposfer dan stratosfer.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Gelombang tekanan ini terperangkap di dalam saluran gelombang atmosferik (atmospheric waveguide) akibat refraksi gradien temperatur serta geser angin (wind shear),&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
Menurut Daryono, kondisi tersebut membuat gelombang mengalami redaman atau atenuasi yang minim sehingga mampu mencapai wilayah Bandung dari jarak jauh. Gelombang itu kemudian dapat memicu resonansi mekanis pada struktur ringan, seperti kaca jendela, tanpa melibatkan propagasi gelombang seismik melalui tanah.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Penumpukan gelombang akustik spesifik di Bandung terjadi akibat kombinasi refraksi infrasound pada gradien temperatur dan wind shear stratosfer yang membiaskan energi suara, melompati daerah terdekat (acoustic shadow zone) untuk jatuh tepat pada jarak fokal Cekungan Bandung,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Dia menambahkan, bentuk topografi Cekungan Bandung turut berperan dalam memperkuat fenomena tersebut.&#13;
&#13;
&amp;quot;Di mana bentuk topografi cekungan bertindak sebagai acoustic cavity yang memantulkan kembali serta mengamplifikasi tekanan gelombang atmosferik tersebut secara lokal,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
JAKARTA - Fenomena suara dentuman dan getaran misterius terdengar di wilayah Bandung Raya serta sejumlah daerah di Jawa Barat, Banten, dan Lampung pada Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026). Badan Geologi Kementerian ESDM menduga fenomena tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau (GAK).&#13;
&#13;
Penjelasan serupa disampaikan Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono. Dia menduga dentuman yang terdengar di Bandung bersumber dari erupsi Gunung Anak Krakatau.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dentuman Bandung dapat dijelaskan bersumber dari erupsi Gunung Anak Krakatau,&amp;quot; kata Daryono dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (5/9/2026).&#13;
&#13;
Daryono menjelaskan, fenomena dentuman di Bandung terjadi akibat konversi mendadak energi termal dan mekanis dari erupsi menjadi gelombang kompresi akustik berfrekuensi sangat rendah atau infrasound. Gelombang tersebut kemudian merambat melalui troposfer dan stratosfer.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Gelombang tekanan ini terperangkap di dalam saluran gelombang atmosferik (atmospheric waveguide) akibat refraksi gradien temperatur serta geser angin (wind shear),&amp;quot; jelasnya.&#13;
&#13;
Menurut Daryono, kondisi tersebut membuat gelombang mengalami redaman atau atenuasi yang minim sehingga mampu mencapai wilayah Bandung dari jarak jauh. Gelombang itu kemudian dapat memicu resonansi mekanis pada struktur ringan, seperti kaca jendela, tanpa melibatkan propagasi gelombang seismik melalui tanah.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Penumpukan gelombang akustik spesifik di Bandung terjadi akibat kombinasi refraksi infrasound pada gradien temperatur dan wind shear stratosfer yang membiaskan energi suara, melompati daerah terdekat (acoustic shadow zone) untuk jatuh tepat pada jarak fokal Cekungan Bandung,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Dia menambahkan, bentuk topografi Cekungan Bandung turut berperan dalam memperkuat fenomena tersebut.&#13;
&#13;
&amp;quot;Di mana bentuk topografi cekungan bertindak sebagai acoustic cavity yang memantulkan kembali serta mengamplifikasi tekanan gelombang atmosferik tersebut secara lokal,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
