<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dentuman Misterius Guncang Bandung Raya, BMKG: Bukan dari Gunung Anak Krakatau</title><description>Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan, fenomena dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya pada Jumat (5/9/2026) hingga Sabtu dini hari, tidak berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/09/05/340/3240308/dentuman-misterius-guncang-bandung-raya-bmkg-bukan-dari-gunung-anak-krakatau</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/09/05/340/3240308/dentuman-misterius-guncang-bandung-raya-bmkg-bukan-dari-gunung-anak-krakatau"/><item><title>Dentuman Misterius Guncang Bandung Raya, BMKG: Bukan dari Gunung Anak Krakatau</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/09/05/340/3240308/dentuman-misterius-guncang-bandung-raya-bmkg-bukan-dari-gunung-anak-krakatau</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/09/05/340/3240308/dentuman-misterius-guncang-bandung-raya-bmkg-bukan-dari-gunung-anak-krakatau</guid><pubDate>Sabtu 05 September 2026 15:28 WIB</pubDate><dc:creator>Tim iNews Media Group </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/09/05/340/3240308/gempa-tsYV_large.png" expression="full" type="image/jpeg">Gempa (foto: freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/09/05/340/3240308/gempa-tsYV_large.png</image><title>Gempa (foto: freepik)</title></images><description>&#13;
&#13;
BANDUNG - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan, fenomena dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya pada Jumat (5/9/2026) hingga Sabtu dini hari, tidak berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.&#13;
&#13;
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi mengatakan, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berlangsung bersamaan dengan munculnya suara dentuman di Bandung Raya tidak menunjukkan adanya hubungan dengan fenomena tersebut.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Tapi kalau di Kota Bandung, menurut saya terlalu jauh untuk mendengar aktivitas dari letusan Gunung Krakatau yang kejadiannya seperti kemarin,&amp;rdquo; kata Suaidi, Sabtu (5/9/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurut Suaidi, fenomena dentuman dapat disebabkan oleh sejumlah aktivitas geofisika. Di antaranya swarm earthquake atau rangkaian gempa kecil, gempa akibat aktivitas di kawasan karst, maupun gempa yang dipicu oleh runtuhan. Fenomena serupa, kata dia, sebelumnya juga pernah terdengar di wilayah Cianjur, termasuk saat terjadi gempa Cianjur pada 2025.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Gempa-gempa akibat runtuhan, gempa-gempa akibat swarm, dan gempa-gempa kecil itu bisa menghasilkan dentuman,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Namun, berdasarkan hasil pemantauan BMKG, tidak terdapat rekaman gempa yang terjadi di wilayah Bandung Raya ketika fenomena dentuman tersebut dilaporkan masyarakat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Tapi fenomena hari ini, kami mencatat tidak ada rekaman gempa, baik di sesar aktif, Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, maupun beberapa sesar lainnya pada saat itu di wilayah Bandung Raya,&amp;rdquo; ujar Suaidi.&#13;
&#13;
Karena itu, Suaidi menilai fenomena tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut oleh para peneliti di bidang sains kebumian, geofisika, dan meteorologi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ini memang belum terjawab, tapi ada literatur yang menjelaskan bahwa aktivitas skyquake tadi mungkin berkaitan dengan adanya aktivitas gas metana yang ada di danau purba,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
BANDUNG - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan, fenomena dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya pada Jumat (5/9/2026) hingga Sabtu dini hari, tidak berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.&#13;
&#13;
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi mengatakan, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berlangsung bersamaan dengan munculnya suara dentuman di Bandung Raya tidak menunjukkan adanya hubungan dengan fenomena tersebut.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Tapi kalau di Kota Bandung, menurut saya terlalu jauh untuk mendengar aktivitas dari letusan Gunung Krakatau yang kejadiannya seperti kemarin,&amp;rdquo; kata Suaidi, Sabtu (5/9/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurut Suaidi, fenomena dentuman dapat disebabkan oleh sejumlah aktivitas geofisika. Di antaranya swarm earthquake atau rangkaian gempa kecil, gempa akibat aktivitas di kawasan karst, maupun gempa yang dipicu oleh runtuhan. Fenomena serupa, kata dia, sebelumnya juga pernah terdengar di wilayah Cianjur, termasuk saat terjadi gempa Cianjur pada 2025.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Gempa-gempa akibat runtuhan, gempa-gempa akibat swarm, dan gempa-gempa kecil itu bisa menghasilkan dentuman,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Namun, berdasarkan hasil pemantauan BMKG, tidak terdapat rekaman gempa yang terjadi di wilayah Bandung Raya ketika fenomena dentuman tersebut dilaporkan masyarakat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Tapi fenomena hari ini, kami mencatat tidak ada rekaman gempa, baik di sesar aktif, Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, maupun beberapa sesar lainnya pada saat itu di wilayah Bandung Raya,&amp;rdquo; ujar Suaidi.&#13;
&#13;
Karena itu, Suaidi menilai fenomena tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut oleh para peneliti di bidang sains kebumian, geofisika, dan meteorologi.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ini memang belum terjawab, tapi ada literatur yang menjelaskan bahwa aktivitas skyquake tadi mungkin berkaitan dengan adanya aktivitas gas metana yang ada di danau purba,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
