<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Anak Krakatau Alami 13 Kali Erupsi Strombolian Usai Erupsi Menerus 25 Jam</title><description>Gunung Anak Krakatau mengalami 13 kali erupsi Strombolian sejak berakhirnya episode erupsi menerus pada 6 September 2026. Aktivitas tersebut dinilai menjadi karakteristik erupsi Gunung Anak Krakatau setelah sebelumnya mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/09/10/337/3241217/anak-krakatau-alami-13-kali-erupsi-strombolian-usai-erupsi-menerus-25-jam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/09/10/337/3241217/anak-krakatau-alami-13-kali-erupsi-strombolian-usai-erupsi-menerus-25-jam"/><item><title>Anak Krakatau Alami 13 Kali Erupsi Strombolian Usai Erupsi Menerus 25 Jam</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/09/10/337/3241217/anak-krakatau-alami-13-kali-erupsi-strombolian-usai-erupsi-menerus-25-jam</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/09/10/337/3241217/anak-krakatau-alami-13-kali-erupsi-strombolian-usai-erupsi-menerus-25-jam</guid><pubDate>Kamis 10 September 2026 11:44 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/09/10/337/3241217/gunung_anak_krakatau-tGLp_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gunung anak krakatau (foto: PVMBG)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/09/10/337/3241217/gunung_anak_krakatau-tGLp_large.jpg</image><title>Gunung anak krakatau (foto: PVMBG)</title></images><description>&#13;
&#13;
JAKARTA - Gunung Anak Krakatau mengalami 13 kali erupsi Strombolian sejak berakhirnya episode erupsi menerus pada 6 September 2026. Aktivitas tersebut dinilai menjadi karakteristik erupsi Gunung Anak Krakatau setelah sebelumnya mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam.&#13;
&#13;
Badan Geologi mencatat satu episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau terjadi sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Setelah episode tersebut berakhir, erupsi Strombolian kembali terjadi hingga 10 September 2026 pukul 06.00 WIB.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kembalinya erupsi Strombolian sebagai karakteristik erupsi Gunungapi Anak Krakatau, untuk sementara ini diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang,&amp;quot; kata Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam laporan evaluasi perkembangan aktivitas Gunungapi Anak Krakatau, Kamis (10/9/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Badan Geologi menyebut data kegempaan vulkanik hingga 10 September 2026 menunjukkan kecenderungan penurunan aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak erupsi menerus tersebut.&#13;
&#13;
&amp;quot;Data kegempaan vulkanik hingga tanggal 10 September 2026 menunjukkan adanya kecenderungan penurunan aktivitas Gunungapi Anak Krakatau sejak erupsi menerus. Meskipun demikian, perkembangan dinamika vulkanisme Gunungapi Anak Krakatau masih terus dipantau dan dievaluasi. Probabilitas untuk terjadi letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya masih tinggi,&amp;quot; papar Lana.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Berdasarkan pengamatan selama 9-10 September 2026, Gunung Anak Krakatau terlihat jelas hingga tertutup kabut. Pengamatan visual juga memperlihatkan terjadinya erupsi, meski tinggi kolom erupsi tidak teramati.&#13;
&#13;
Secara instrumental, tercatat satu kali gempa erupsi, enam kali gempa hembusan, tiga kali gempa low frequency, lima kali gempa hybrid/fase banyak, satu kali gempa vulkanik dangkal, satu kali gempa vulkanik dalam, serta tiga kali gempa tektonik jauh.&#13;
&#13;
Energi aktivitas vulkanik yang tercermin dari nilai perataan amplitudo Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) berfluktuasi dengan energi rendah. Sementara itu, data tiltmeter Stasiun Tanjung dan Lava93 menunjukkan kecenderungan mendatar sebagai indikasi kondisi konstan, tanpa adanya peningkatan maupun penurunan.&#13;
&#13;
Meski aktivitas menunjukkan kecenderungan menurun, status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ancaman bahaya erupsi berasal dari lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Potensi ancaman bahaya lainnya berasal dari aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi,&amp;quot; ujar Lana.&#13;
&#13;
Badan Geologi mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau serta pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak memasuki atau melakukan kegiatan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.&#13;
&#13;
&amp;quot;Masyarakat yang terdampak abu vulkanik juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker selama beraktivitas untuk menghindari gangguan pernapasan,&amp;quot; imbaunya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
JAKARTA - Gunung Anak Krakatau mengalami 13 kali erupsi Strombolian sejak berakhirnya episode erupsi menerus pada 6 September 2026. Aktivitas tersebut dinilai menjadi karakteristik erupsi Gunung Anak Krakatau setelah sebelumnya mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam.&#13;
&#13;
Badan Geologi mencatat satu episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau terjadi sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Setelah episode tersebut berakhir, erupsi Strombolian kembali terjadi hingga 10 September 2026 pukul 06.00 WIB.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kembalinya erupsi Strombolian sebagai karakteristik erupsi Gunungapi Anak Krakatau, untuk sementara ini diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang,&amp;quot; kata Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam laporan evaluasi perkembangan aktivitas Gunungapi Anak Krakatau, Kamis (10/9/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Badan Geologi menyebut data kegempaan vulkanik hingga 10 September 2026 menunjukkan kecenderungan penurunan aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak erupsi menerus tersebut.&#13;
&#13;
&amp;quot;Data kegempaan vulkanik hingga tanggal 10 September 2026 menunjukkan adanya kecenderungan penurunan aktivitas Gunungapi Anak Krakatau sejak erupsi menerus. Meskipun demikian, perkembangan dinamika vulkanisme Gunungapi Anak Krakatau masih terus dipantau dan dievaluasi. Probabilitas untuk terjadi letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya masih tinggi,&amp;quot; papar Lana.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Berdasarkan pengamatan selama 9-10 September 2026, Gunung Anak Krakatau terlihat jelas hingga tertutup kabut. Pengamatan visual juga memperlihatkan terjadinya erupsi, meski tinggi kolom erupsi tidak teramati.&#13;
&#13;
Secara instrumental, tercatat satu kali gempa erupsi, enam kali gempa hembusan, tiga kali gempa low frequency, lima kali gempa hybrid/fase banyak, satu kali gempa vulkanik dangkal, satu kali gempa vulkanik dalam, serta tiga kali gempa tektonik jauh.&#13;
&#13;
Energi aktivitas vulkanik yang tercermin dari nilai perataan amplitudo Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) berfluktuasi dengan energi rendah. Sementara itu, data tiltmeter Stasiun Tanjung dan Lava93 menunjukkan kecenderungan mendatar sebagai indikasi kondisi konstan, tanpa adanya peningkatan maupun penurunan.&#13;
&#13;
Meski aktivitas menunjukkan kecenderungan menurun, status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ancaman bahaya erupsi berasal dari lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Potensi ancaman bahaya lainnya berasal dari aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi,&amp;quot; ujar Lana.&#13;
&#13;
Badan Geologi mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau serta pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak memasuki atau melakukan kegiatan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.&#13;
&#13;
&amp;quot;Masyarakat yang terdampak abu vulkanik juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker selama beraktivitas untuk menghindari gangguan pernapasan,&amp;quot; imbaunya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
