<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>KRI Sriwijaya Perkuat Pertahanan Maritim, Begini Dahsyatnya TNI AL di Era Bung Karno hingga Ditakuti Barat</title><description>TNI AL juga memiliki KRI Irian. Kapal perang terbesar yang pernah dimiliki Indonesia dari kelas light cruiser alias penjelajah ringan yang dibeli dari Uni Soviet pada 1962.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/09/25/337/3244068/kri-sriwijaya-perkuat-pertahanan-maritim-begini-dahsyatnya-tni-al-di-era-bung-karno-hingga-ditakuti-barat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/09/25/337/3244068/kri-sriwijaya-perkuat-pertahanan-maritim-begini-dahsyatnya-tni-al-di-era-bung-karno-hingga-ditakuti-barat"/><item><title>KRI Sriwijaya Perkuat Pertahanan Maritim, Begini Dahsyatnya TNI AL di Era Bung Karno hingga Ditakuti Barat</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/09/25/337/3244068/kri-sriwijaya-perkuat-pertahanan-maritim-begini-dahsyatnya-tni-al-di-era-bung-karno-hingga-ditakuti-barat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/09/25/337/3244068/kri-sriwijaya-perkuat-pertahanan-maritim-begini-dahsyatnya-tni-al-di-era-bung-karno-hingga-ditakuti-barat</guid><pubDate>Jum'at 25 September 2026 06:00 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/09/24/337/3244068/tni-QtkF_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kapal Induk KRI Sriwijaya/IMG</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/09/24/337/3244068/tni-QtkF_large.jpg</image><title>Kapal Induk KRI Sriwijaya/IMG</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) mempunyai doktrin Jalesveva Jayamahe, yang artinya &amp;lsquo;&amp;rsquo;Justru di Lautan Kita Menang&amp;#39; atau &amp;#39;Kejayaan Kita Ada di Laut&amp;#39;. Doktrin ini termaktub dalam Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/503/V/2018 tentang Doktrin TNI Angkatan Laut Jalesveva Jayamahe. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Doktrin ini memiliki filosofi, sudah selayaknya Indonesia sebagai negara maritim memiliki Angkatan Laut yang kuat dan berjaya.&#13;
&#13;
Memiliki kekuatan Angkatan Laut yang kuat akan menjadikan kedaulatan negara Indonesia sebagai Negara Maritim terjaga. Hal ini juga merupakan salah satu tugas TNI sebagai komponen utama dalam sistem pertahanan laut.&#13;
&#13;
Kekuatan maritim Indonesia semakin diperhitungkan setelah kedatangan Kapal Induk ITS Giuseppe Garibaldi, yang telah resmi bergabung dengan TNI AL dan berganti nama menjadi KRI Sriwijaya-100.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pengalihan status kapal ditandai dengan prosesi reflagging atau pergantian bendera Italia menjadi Merah Putih di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Indonesia membutuhkan kekuatan pertahanan laut yang modern dan tangguh,&amp;rdquo; ujar Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dalam keterangnnya yang diterima Okezone.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kehadiran KRI Sriwijaya-100 diharapkan memperkuat kemampuan TNI Angkatan Laut, memperluas jangkauan operasi, serta meningkatkan kemampuan operasi gabungan TNI dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional,&amp;rdquo;tandasnya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menilik kebelakang, TNI AL di era Bung Karno merupakan salah satu yang terbesar. Indonesia memiliki banyak alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang canggih pada masanya.&#13;
&#13;
Dikutip dari buku &amp;ldquo;Kapal Selam Indonesia&amp;rdquo; yang ditulis oleh Indroyono Soesilo dan Budiman, Jumat (25/9/2026), &amp;nbsp;saat itu, TNI AL memiliki kapal selam jenis Whiskey Class buatan Uni Soviet, dua kapal induk untuk kapal selam yaitu KRI Ratulangi dan KRI Thamrin, dua kapal penangkap torpedo (KPT), dan satu kapal penyelamat.&#13;
&#13;
TNI AL juga memiliki KRI Irian. Kapal perang terbesar yang pernah dimiliki Indonesia dari kelas light cruiser alias penjelajah ringan yang dibeli dari Uni Soviet pada 1962.&#13;
&#13;
Pembeliannya tak lepas dari lobi Bung Karno yang mengalihkan perhatian Indonesia ke blok timur. Kehadiran armada perang tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki kekuatan angkatan laut terbesar di Asia Tenggara.&#13;
&#13;
Bobot kapal ini mencapai 13.600 ton dengan panjang 210 meter dan lebar 22 meter. Dilengkapi baja pelindung setebal 100 milimeter (mm) di lambung kapal, 150 mm di menara pengawas, 50 mm di dek serta 75 mm di kubah-kubah meriamnya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
KRI Irian juga dipersenjatai 12 meriam kaliber 152 mm, 12 meriam kaliber 100 mm, 32 meriam antipesawat kaliber 37 mm, serta 10 tabung torpedo 553 mm untuk menghalau kapal selam musuh.&#13;
&#13;
Belum lagi 17 radar berbagai jenis serta dua Watch Dog electronic jamming. Maka, gemparlah negara-negara Asia ketika Indonesia punya satu dari sekian kapal sangar buatan Soviet yang punya kecepatan maksimal 32,5 knot ini.&#13;
&#13;
KRI Irian sempat lebih dulu diujicobakan dengan mengikutsertakan sejumlah personel ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia, kini TNI AL) sebagai calon awak, pada 5 April 1962. Setelah dinyatakan selesai uji coba, baru kapal ini diantar dan tiba di Pangkalan ALRI Surabaya, 5 Agustus 1962.&#13;
&#13;
KRI Irian juga sempat ditugaskan untuk merebut Irian Barat (kini Papua) dalam Operasi Tri Komando Rakyat (Trikora). Bahkan kehadirannya membuat kapal induk Belanda, HNLMS Karel Doorman R81 menjadi ciut.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) mempunyai doktrin Jalesveva Jayamahe, yang artinya &amp;lsquo;&amp;rsquo;Justru di Lautan Kita Menang&amp;#39; atau &amp;#39;Kejayaan Kita Ada di Laut&amp;#39;. Doktrin ini termaktub dalam Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/503/V/2018 tentang Doktrin TNI Angkatan Laut Jalesveva Jayamahe. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Doktrin ini memiliki filosofi, sudah selayaknya Indonesia sebagai negara maritim memiliki Angkatan Laut yang kuat dan berjaya.&#13;
&#13;
Memiliki kekuatan Angkatan Laut yang kuat akan menjadikan kedaulatan negara Indonesia sebagai Negara Maritim terjaga. Hal ini juga merupakan salah satu tugas TNI sebagai komponen utama dalam sistem pertahanan laut.&#13;
&#13;
Kekuatan maritim Indonesia semakin diperhitungkan setelah kedatangan Kapal Induk ITS Giuseppe Garibaldi, yang telah resmi bergabung dengan TNI AL dan berganti nama menjadi KRI Sriwijaya-100.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pengalihan status kapal ditandai dengan prosesi reflagging atau pergantian bendera Italia menjadi Merah Putih di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026).&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Indonesia membutuhkan kekuatan pertahanan laut yang modern dan tangguh,&amp;rdquo; ujar Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dalam keterangnnya yang diterima Okezone.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kehadiran KRI Sriwijaya-100 diharapkan memperkuat kemampuan TNI Angkatan Laut, memperluas jangkauan operasi, serta meningkatkan kemampuan operasi gabungan TNI dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional,&amp;rdquo;tandasnya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menilik kebelakang, TNI AL di era Bung Karno merupakan salah satu yang terbesar. Indonesia memiliki banyak alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang canggih pada masanya.&#13;
&#13;
Dikutip dari buku &amp;ldquo;Kapal Selam Indonesia&amp;rdquo; yang ditulis oleh Indroyono Soesilo dan Budiman, Jumat (25/9/2026), &amp;nbsp;saat itu, TNI AL memiliki kapal selam jenis Whiskey Class buatan Uni Soviet, dua kapal induk untuk kapal selam yaitu KRI Ratulangi dan KRI Thamrin, dua kapal penangkap torpedo (KPT), dan satu kapal penyelamat.&#13;
&#13;
TNI AL juga memiliki KRI Irian. Kapal perang terbesar yang pernah dimiliki Indonesia dari kelas light cruiser alias penjelajah ringan yang dibeli dari Uni Soviet pada 1962.&#13;
&#13;
Pembeliannya tak lepas dari lobi Bung Karno yang mengalihkan perhatian Indonesia ke blok timur. Kehadiran armada perang tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki kekuatan angkatan laut terbesar di Asia Tenggara.&#13;
&#13;
Bobot kapal ini mencapai 13.600 ton dengan panjang 210 meter dan lebar 22 meter. Dilengkapi baja pelindung setebal 100 milimeter (mm) di lambung kapal, 150 mm di menara pengawas, 50 mm di dek serta 75 mm di kubah-kubah meriamnya.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
KRI Irian juga dipersenjatai 12 meriam kaliber 152 mm, 12 meriam kaliber 100 mm, 32 meriam antipesawat kaliber 37 mm, serta 10 tabung torpedo 553 mm untuk menghalau kapal selam musuh.&#13;
&#13;
Belum lagi 17 radar berbagai jenis serta dua Watch Dog electronic jamming. Maka, gemparlah negara-negara Asia ketika Indonesia punya satu dari sekian kapal sangar buatan Soviet yang punya kecepatan maksimal 32,5 knot ini.&#13;
&#13;
KRI Irian sempat lebih dulu diujicobakan dengan mengikutsertakan sejumlah personel ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia, kini TNI AL) sebagai calon awak, pada 5 April 1962. Setelah dinyatakan selesai uji coba, baru kapal ini diantar dan tiba di Pangkalan ALRI Surabaya, 5 Agustus 1962.&#13;
&#13;
KRI Irian juga sempat ditugaskan untuk merebut Irian Barat (kini Papua) dalam Operasi Tri Komando Rakyat (Trikora). Bahkan kehadirannya membuat kapal induk Belanda, HNLMS Karel Doorman R81 menjadi ciut.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
