<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Legislator DKI Pantau Operasi Modifikasi Cuaca di Jakarta, 1 Ton NaCl Disemai</title><description>Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth mengawal langsung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Pangkalan Udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jumat (25/9/2026).&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/09/26/338/3244415/legislator-dki-pantau-operasi-modifikasi-cuaca-di-jakarta-1-ton-nacl-disemai</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/09/26/338/3244415/legislator-dki-pantau-operasi-modifikasi-cuaca-di-jakarta-1-ton-nacl-disemai"/><item><title>Legislator DKI Pantau Operasi Modifikasi Cuaca di Jakarta, 1 Ton NaCl Disemai</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/09/26/338/3244415/legislator-dki-pantau-operasi-modifikasi-cuaca-di-jakarta-1-ton-nacl-disemai</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/09/26/338/3244415/legislator-dki-pantau-operasi-modifikasi-cuaca-di-jakarta-1-ton-nacl-disemai</guid><pubDate>Sabtu 26 September 2026 21:30 WIB</pubDate><dc:creator>Riyan Rizki Roshali</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/09/26/338/3244415/anggota_dprd_dki_jakarta_hardiyanto_kenneth-xBGs_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth (Foto: dok ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/09/26/338/3244415/anggota_dprd_dki_jakarta_hardiyanto_kenneth-xBGs_large.jpg</image><title>Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth (Foto: dok ist)</title></images><description>&#13;
&#13;
JAKARTA - Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth mengawal langsung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Pangkalan Udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jumat (25/9/2026).&#13;
&#13;
Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan kekeringan di wilayah Jabodetabek melalui operasi modifikasi cuaca berjalan optimal.&#13;
&#13;
Kenneth mengatakan, operasi yang digelar bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tersebut menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Karena itu, menurutnya, pengawasan terhadap pelaksanaan OMC perlu dilakukan secara ketat.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sebagai Anggota Dewan, tentunya saya wajib mengawal kegiatan ini karena OMC (Operasi Modifikasi Cuaca) ini menggunakan dana APBD DKI Jakarta yang dihimpun dari skema uang rakyat. Kita harus kawal dan pastikan pelaksanaannya berjalan sebaik-baiknya,&amp;quot; kata Kenneth dalam keterangannya, Sabtu (26/9/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dalam peninjauan teknis di lapangan, Kenneth turut mengecek persiapan bahan semai yang digunakan untuk penyemaian awan. Pada operasi tersebut, petugas menyemai sebanyak 1 ton NaCl dalam bentuk bubuk (powder).&#13;
&#13;
&amp;quot;Jika sebelumnya menggunakan NaCl liquid, hari ini yang dibawa adalah NaCl powder sebanyak 1.000 kilogram atau 1 ton. Harapan kami hasilnya bisa maksimal sehingga curah hujan yang turun cukup banyak untuk menekan kekeringan sekaligus polusi udara di DKI Jakarta,&amp;quot; ungkapnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Lebih lanjut, Kenneth menuturkan OMC di langit Jabodetabek telah dilakukan sejak 18 September 2026. Penyemaian awan pada 25 September 2026 menjadi hari terakhir pelaksanaan modifikasi cuaca karena pertumbuhan awan diprediksi menipis pada akhir pekan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Seperti yang disampaikan oleh pihak BMKG, mulai 26 September potensi pertumbuhan awan cukup rendah. Jadi harapannya garam NaCl yang ditabur selama sepekan terakhir bisa memicu awan hujan dalam waktu dekat,&amp;quot; imbuhnya.&#13;
&#13;
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta Marulitua Sijabat mengatakan OMC yang dilakukan pada 18-25 September 2026 memiliki tiga tujuan.&#13;
&#13;
Pertama, OMC dilakukan untuk membantu menurunkan polusi udara. Kedua, untuk mengupayakan turunnya hujan di wilayah DKI Jakarta. Ketiga, meningkatkan ketersediaan air baku untuk PAM Jaya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jadi operasi modifikasi cuaca ini tujuannya adalah untuk menurunkan polusi, mengupayakan turunnya hujan dan meningkatkan kebutuhan air baku PAM Jaya,&amp;quot; ucap Maruli.&#13;
&#13;
Atas pelaksanaan OMC tersebut, Maruli memprediksi hujan bakal turun dalam beberapa hari ke depan. Namun, curah hujan kemungkinan tidak turun secara merata di seluruh wilayah Jakarta.&#13;
&#13;
Hujan diprediksi lebih banyak turun di wilayah perbatasan Jakarta, seperti Bogor dan Depok.&#13;
&#13;
&amp;quot;Hasil modifikasi cuaca kemungkinan bisa terlihat dalam waktu dekat, tapi hujan akan turun lebih banyak di perbatasan. Kalau di wilayah Jakarta mungkin di daerah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur,&amp;quot; tutup Maruli.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
JAKARTA - Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth mengawal langsung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Pangkalan Udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jumat (25/9/2026).&#13;
&#13;
Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan kekeringan di wilayah Jabodetabek melalui operasi modifikasi cuaca berjalan optimal.&#13;
&#13;
Kenneth mengatakan, operasi yang digelar bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tersebut menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Karena itu, menurutnya, pengawasan terhadap pelaksanaan OMC perlu dilakukan secara ketat.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sebagai Anggota Dewan, tentunya saya wajib mengawal kegiatan ini karena OMC (Operasi Modifikasi Cuaca) ini menggunakan dana APBD DKI Jakarta yang dihimpun dari skema uang rakyat. Kita harus kawal dan pastikan pelaksanaannya berjalan sebaik-baiknya,&amp;quot; kata Kenneth dalam keterangannya, Sabtu (26/9/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Dalam peninjauan teknis di lapangan, Kenneth turut mengecek persiapan bahan semai yang digunakan untuk penyemaian awan. Pada operasi tersebut, petugas menyemai sebanyak 1 ton NaCl dalam bentuk bubuk (powder).&#13;
&#13;
&amp;quot;Jika sebelumnya menggunakan NaCl liquid, hari ini yang dibawa adalah NaCl powder sebanyak 1.000 kilogram atau 1 ton. Harapan kami hasilnya bisa maksimal sehingga curah hujan yang turun cukup banyak untuk menekan kekeringan sekaligus polusi udara di DKI Jakarta,&amp;quot; ungkapnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Lebih lanjut, Kenneth menuturkan OMC di langit Jabodetabek telah dilakukan sejak 18 September 2026. Penyemaian awan pada 25 September 2026 menjadi hari terakhir pelaksanaan modifikasi cuaca karena pertumbuhan awan diprediksi menipis pada akhir pekan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Seperti yang disampaikan oleh pihak BMKG, mulai 26 September potensi pertumbuhan awan cukup rendah. Jadi harapannya garam NaCl yang ditabur selama sepekan terakhir bisa memicu awan hujan dalam waktu dekat,&amp;quot; imbuhnya.&#13;
&#13;
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta Marulitua Sijabat mengatakan OMC yang dilakukan pada 18-25 September 2026 memiliki tiga tujuan.&#13;
&#13;
Pertama, OMC dilakukan untuk membantu menurunkan polusi udara. Kedua, untuk mengupayakan turunnya hujan di wilayah DKI Jakarta. Ketiga, meningkatkan ketersediaan air baku untuk PAM Jaya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Jadi operasi modifikasi cuaca ini tujuannya adalah untuk menurunkan polusi, mengupayakan turunnya hujan dan meningkatkan kebutuhan air baku PAM Jaya,&amp;quot; ucap Maruli.&#13;
&#13;
Atas pelaksanaan OMC tersebut, Maruli memprediksi hujan bakal turun dalam beberapa hari ke depan. Namun, curah hujan kemungkinan tidak turun secara merata di seluruh wilayah Jakarta.&#13;
&#13;
Hujan diprediksi lebih banyak turun di wilayah perbatasan Jakarta, seperti Bogor dan Depok.&#13;
&#13;
&amp;quot;Hasil modifikasi cuaca kemungkinan bisa terlihat dalam waktu dekat, tapi hujan akan turun lebih banyak di perbatasan. Kalau di wilayah Jakarta mungkin di daerah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur,&amp;quot; tutup Maruli.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
