<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BMKG: Indonesia Masih Didominasi Kemarau, Hujan Lebat di Berpotensi Turun Awal Oktober</title><description>BMKG memperingatkan cuaca kontras ekstrem ini akan berlangsung di awal Oktober. &#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/10/03/337/3245792/bmkg-indonesia-masih-didominasi-kemarau-hujan-lebat-di-berpotensi-turun-awal-oktober</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/10/03/337/3245792/bmkg-indonesia-masih-didominasi-kemarau-hujan-lebat-di-berpotensi-turun-awal-oktober"/><item><title>BMKG: Indonesia Masih Didominasi Kemarau, Hujan Lebat di Berpotensi Turun Awal Oktober</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/10/03/337/3245792/bmkg-indonesia-masih-didominasi-kemarau-hujan-lebat-di-berpotensi-turun-awal-oktober</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/10/03/337/3245792/bmkg-indonesia-masih-didominasi-kemarau-hujan-lebat-di-berpotensi-turun-awal-oktober</guid><pubDate>Sabtu 03 Oktober 2026 19:05 WIB</pubDate><dc:creator>Binti Mufarida</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/03/337/3245792/ilustrasi-UZGD_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/03/337/3245792/ilustrasi-UZGD_large.jpg</image><title>Ilustrasi.</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Memasuki pekan pertama Oktober 2026, kondisi cuaca di Indonesia masih menunjukkan kontras ekstrem. Di satu sisi, mayoritas wilayah tanah air berpotensi mengalami kondisi kering dan tanpa hujan dalam waktu panjang, tetapi hujan lebat hingga sangat lebat tetap berpeluang terjadi secara lokal hingga 8 Oktober 2026.&#13;
&#13;
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan fenomena El Ni&amp;ntilde;o dengan intensitas sangat kuat masih berlangsung di Samudra Pasifik ekuatorial. Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) positif turut berkontribusi terhadap berkurangnya suplai uap air dari Samudra Hindia menuju wilayah Indonesia bagian barat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kondisi tersebut menyebabkan atmosfer yang lebih kering masih berpotensi bertahan di sejumlah wilayah Indonesia,&amp;rdquo; tulis BMKG dikutip dari laman resminya, dilihat Sabtu (3/10/2026).&#13;
&#13;
Pada Dasarian I Oktober 2026, BMKG mencatat sekitar 79,65% wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan kategori rendah (0&amp;ndash;50 mm/dasarian), diikuti kategori menengah (50&amp;ndash;150 mm/dasarian) sekitar 19,99%, dan kategori tinggi (150&amp;ndash;300 mm/dasarian) sekitar 0,36%.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dominasi curah hujan kategori rendah menunjukkan bahwa kondisi kering masih berpotensi berlanjut, terutama di wilayah yang sebelumnya telah mengalami periode tanpa hujan berkepanjangan,&amp;rdquo; ujar BMKG.&#13;
&#13;
Meskipun demikian, BMKG mengungkapkan bahwa potensi hujan tetap terdapat di sejumlah wilayah. Gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif melintasi sebagian wilayah Sumatra, sementara Gelombang Kelvin diprediksi aktif di sebagian Sumatra bagian tengah, Kalimantan bagian utara, Sulawesi bagian utara, dan Maluku Utara.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Di sisi lain, Monsun Australia diprakirakan menguat dalam beberapa hari ke depan. Hal ini menunjukkan meningkatnya pengaruh Monsun Australia dan aliran timuran di wilayah Indonesia bagian selatan, yang cenderung membatasi suplai uap air dan menekan potensi hujan.&#13;
&#13;
Namun demikian, kata BMKG, pada wilayah yang masih dipengaruhi gelombang atmosfer, suhu muka laut yang relatif hangat, serta terbentuknya daerah konvergensi, perlambatan, dan belokan angin, pembentukan awan hujan tetap dapat meningkat. Interaksi faktor-faktor tersebut dapat memicu hujan secara lokal, meskipun secara umum penguatan Monsun Australia masih mendukung kondisi yang relatif lebih kering di Indonesia bagian selatan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dengan demikian, kondisi cuaca sepekan ke depan masih menunjukkan kontras antarwilayah. Kondisi kering dan potensi karhutla tetap perlu diwaspadai di wilayah dengan curah hujan rendah, sementara wilayah yang mendapatkan penguatan dinamika atmosfer tetap berpotensi mengalami hujan lebat, petir, dan angin kencang secara lokal,&amp;rdquo; papar BMKG.&#13;
&#13;
Berikut potensi hujan sepekan ke depan:&#13;
&#13;
Periode 3&amp;ndash;4 Oktober 2026&#13;
&#13;
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatra Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Papua Tengah, dan Papua.&#13;
&#13;
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:&#13;
&#13;
&#13;
	Siaga (hujan lebat &amp;ndash; sangat lebat): Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Papua Pegunungan.&#13;
	Angin Kencang: Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Selatan.&#13;
	&amp;nbsp;&#13;
	&#13;
&#13;
&#13;
Periode 5&amp;ndash;8 Oktober 2026&#13;
&#13;
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Papua Tengah, dan Papua.&#13;
&#13;
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:&#13;
&#13;
&#13;
	Siaga (hujan lebat &amp;ndash; sangat lebat): Papua Pegunungan.&#13;
	Angin Kencang: Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.&#13;
&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Memasuki pekan pertama Oktober 2026, kondisi cuaca di Indonesia masih menunjukkan kontras ekstrem. Di satu sisi, mayoritas wilayah tanah air berpotensi mengalami kondisi kering dan tanpa hujan dalam waktu panjang, tetapi hujan lebat hingga sangat lebat tetap berpeluang terjadi secara lokal hingga 8 Oktober 2026.&#13;
&#13;
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan fenomena El Ni&amp;ntilde;o dengan intensitas sangat kuat masih berlangsung di Samudra Pasifik ekuatorial. Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) positif turut berkontribusi terhadap berkurangnya suplai uap air dari Samudra Hindia menuju wilayah Indonesia bagian barat.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kondisi tersebut menyebabkan atmosfer yang lebih kering masih berpotensi bertahan di sejumlah wilayah Indonesia,&amp;rdquo; tulis BMKG dikutip dari laman resminya, dilihat Sabtu (3/10/2026).&#13;
&#13;
Pada Dasarian I Oktober 2026, BMKG mencatat sekitar 79,65% wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan kategori rendah (0&amp;ndash;50 mm/dasarian), diikuti kategori menengah (50&amp;ndash;150 mm/dasarian) sekitar 19,99%, dan kategori tinggi (150&amp;ndash;300 mm/dasarian) sekitar 0,36%.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dominasi curah hujan kategori rendah menunjukkan bahwa kondisi kering masih berpotensi berlanjut, terutama di wilayah yang sebelumnya telah mengalami periode tanpa hujan berkepanjangan,&amp;rdquo; ujar BMKG.&#13;
&#13;
Meskipun demikian, BMKG mengungkapkan bahwa potensi hujan tetap terdapat di sejumlah wilayah. Gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif melintasi sebagian wilayah Sumatra, sementara Gelombang Kelvin diprediksi aktif di sebagian Sumatra bagian tengah, Kalimantan bagian utara, Sulawesi bagian utara, dan Maluku Utara.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Di sisi lain, Monsun Australia diprakirakan menguat dalam beberapa hari ke depan. Hal ini menunjukkan meningkatnya pengaruh Monsun Australia dan aliran timuran di wilayah Indonesia bagian selatan, yang cenderung membatasi suplai uap air dan menekan potensi hujan.&#13;
&#13;
Namun demikian, kata BMKG, pada wilayah yang masih dipengaruhi gelombang atmosfer, suhu muka laut yang relatif hangat, serta terbentuknya daerah konvergensi, perlambatan, dan belokan angin, pembentukan awan hujan tetap dapat meningkat. Interaksi faktor-faktor tersebut dapat memicu hujan secara lokal, meskipun secara umum penguatan Monsun Australia masih mendukung kondisi yang relatif lebih kering di Indonesia bagian selatan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dengan demikian, kondisi cuaca sepekan ke depan masih menunjukkan kontras antarwilayah. Kondisi kering dan potensi karhutla tetap perlu diwaspadai di wilayah dengan curah hujan rendah, sementara wilayah yang mendapatkan penguatan dinamika atmosfer tetap berpotensi mengalami hujan lebat, petir, dan angin kencang secara lokal,&amp;rdquo; papar BMKG.&#13;
&#13;
Berikut potensi hujan sepekan ke depan:&#13;
&#13;
Periode 3&amp;ndash;4 Oktober 2026&#13;
&#13;
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatra Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Papua Tengah, dan Papua.&#13;
&#13;
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:&#13;
&#13;
&#13;
	Siaga (hujan lebat &amp;ndash; sangat lebat): Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Papua Pegunungan.&#13;
	Angin Kencang: Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Selatan.&#13;
	&amp;nbsp;&#13;
	&#13;
&#13;
&#13;
Periode 5&amp;ndash;8 Oktober 2026&#13;
&#13;
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Papua Tengah, dan Papua.&#13;
&#13;
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:&#13;
&#13;
&#13;
	Siaga (hujan lebat &amp;ndash; sangat lebat): Papua Pegunungan.&#13;
	Angin Kencang: Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.&#13;
&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
