<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Studi ITB Ungkap Polusi Jakarta Hampir 7 Kali Lipat dari Batas Aman WHO</title><description>Dia menjelaskan, tiga kontributor utama penyumbang PM2.5 terbesar secara berurutan adalah kendaraan diesel sebesar 33,1 persen, kendaraan bensin 26,2 persen dan polutan jenis secondary sulfate sebesar 20,4 persen.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/10/09/338/3246873/studi-itb-ungkap-polusi-jakarta-hampir-7-kali-lipat-dari-batas-aman-who</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/10/09/338/3246873/studi-itb-ungkap-polusi-jakarta-hampir-7-kali-lipat-dari-batas-aman-who"/><item><title>Studi ITB Ungkap Polusi Jakarta Hampir 7 Kali Lipat dari Batas Aman WHO</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/10/09/338/3246873/studi-itb-ungkap-polusi-jakarta-hampir-7-kali-lipat-dari-batas-aman-who</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/10/09/338/3246873/studi-itb-ungkap-polusi-jakarta-hampir-7-kali-lipat-dari-batas-aman-who</guid><pubDate>Jum'at 09 Oktober 2026 11:42 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/09/338/3246873/viral-2SPa_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Studi ITB Ungkap Polusi Jakarta Hampir 7 Kali Lipat dari Batas Aman WHO/Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/09/338/3246873/viral-2SPa_large.jpg</image><title>Studi ITB Ungkap Polusi Jakarta Hampir 7 Kali Lipat dari Batas Aman WHO/Okezone</title></images><description>JAKARTA- Studi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan, polusi PM2.5 di Jakarta menembus 34 mikrogram. Angka ini dinilai 6,8 kali lipat dari pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).&#13;
&#13;
ITB mengungkap dua studi yang bertajuk &amp;quot;Source Apportionment PM2.5 di Jakarta&amp;quot; dan &amp;quot;Inventarisasi Emisi Wilayah Jabodetabek&amp;quot; yang merupakan hasil pengamatan tim peneliti Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (KK PUL-FTSL) ITB.&#13;
&#13;
Guru Besar ITB Puji Lestari, mengatakan, kualitas udara di Jakarta kini berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan dengan rata-rata konsentrasi tahunan di Jakarta adalah 34&amp;mu;g/m&amp;sup3;. Angka ini melampaui sekitar 6,8 kali lipat dari pedoman WHO, yakni 5 &amp;mu;g/m&amp;sup3;.&#13;
&#13;
&amp;quot;Berdasarkan pengukuran kami di Jakarta, rata-rata konsentrasi tahunan di Jakarta adalah 34 &amp;mu;g/m&amp;sup3;. Angka ini melampaui seluruh regulasi yang ada, karena pedoman dari WHO adalah 5&amp;mu;g/m&amp;sup3;,&amp;quot; ujar Puji dalam diskusi bertajuk &amp;lsquo;Clean Air for Greater Jakarta: From Evidence to Investment and Action di Indonesia International Sustainability Forum 2026,&amp;rsquo; Jakarta, dikutip Jumat &amp;nbsp;(9/10/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Penelitian ini juga mengungkap tingginya paparan polusi PM2.5 yang menyelimuti Jakarta sangat dipengaruhi oleh emisi dari berbagai kegiatan manusia. Transportasi menjadi sektor penyumbang polusi udara tertinggi di Jakarta dengan porsi kontribusi mencapai 59 persen.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami melihat antara inventarisasi emisi dan alokasi sumber menunjukkan kecocokan yang baik untuk PM2.5 di Jakarta, yaitu sekitar 60 persen dari inventarisasi emisi dan sekitar 59 persen dari alokasi sumber,&amp;quot; ujar Puji.&#13;
&#13;
Dia menjelaskan, tiga kontributor utama penyumbang PM2.5 terbesar secara berurutan adalah kendaraan diesel sebesar 33,1 persen, kendaraan bensin 26,2 persen dan polutan jenis secondary sulfate sebesar 20,4 persen.&#13;
&#13;
Sementara, tiga kontributor utama penyumbang PM2.5 terbesar secara berurutan adalah kendaraan diesel sebesar 33,1 persen, kendaraan bensin 26,2 persen dan polutan jenis secondary sulfate sebesar 20,4 persen.&#13;
&#13;
Penelitian turut menemukan pembakaran batubara menyumbang sekitar 5,5 persen dan pembakaran sampah sebesar 5 persen terhadap polusi PM2,5 di Jakarta.&#13;
&#13;
Studi turut mengungkap sumber polusi udara di Jakarta merupakan sumbangan dari aktivitas kota-kota penyangga di sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi yang berkontribusi sebesar 38,51 persen.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Puji merekomendasikan sejumlah solusi kepada pemerintah seperti menerapkan standar bahan bakar bersih Euro 4 secara menyeluruh, memperluas elektrifikasi dan mewajibkan penggunaan Diesel Particulate Filter (DPF) pada armada kendaraan seperti truk dan bus.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Seluruh upaya ini membutuhkan komitmen manajemen kualitas udara yang terintegrasi, di mana Jakarta dan wilayah penyangganya harus berkolaborasi erat dalam satu rencana aksi bersama demi mewujudkan kembali langit bersih di kawasan tersebut,&amp;quot;pungkasnya.&#13;
&#13;
Executive Director ViriniyaENB, Suzanty Sitorus menambahkan, perlu adanya mekanisme komunikasi dan koordinasi lintas wilayah dan sektor. Pasalnya, polusi udara tidak hanya berasal dari wilayah Jakarta, namun juga kota-kota sekitarnya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sekarang perlu mekanisme komunikasi karena enggak bisa hanya di Jakarta karena (polusi udara) berasal dari (kota-kota) sebelahnya. Diperlukan koordinasi lintas sektor dari sumber transportasi, industri, pembakaran sampah, tidak bisa hanya satu sektor,&amp;rdquo;pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA- Studi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan, polusi PM2.5 di Jakarta menembus 34 mikrogram. Angka ini dinilai 6,8 kali lipat dari pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).&#13;
&#13;
ITB mengungkap dua studi yang bertajuk &amp;quot;Source Apportionment PM2.5 di Jakarta&amp;quot; dan &amp;quot;Inventarisasi Emisi Wilayah Jabodetabek&amp;quot; yang merupakan hasil pengamatan tim peneliti Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (KK PUL-FTSL) ITB.&#13;
&#13;
Guru Besar ITB Puji Lestari, mengatakan, kualitas udara di Jakarta kini berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan dengan rata-rata konsentrasi tahunan di Jakarta adalah 34&amp;mu;g/m&amp;sup3;. Angka ini melampaui sekitar 6,8 kali lipat dari pedoman WHO, yakni 5 &amp;mu;g/m&amp;sup3;.&#13;
&#13;
&amp;quot;Berdasarkan pengukuran kami di Jakarta, rata-rata konsentrasi tahunan di Jakarta adalah 34 &amp;mu;g/m&amp;sup3;. Angka ini melampaui seluruh regulasi yang ada, karena pedoman dari WHO adalah 5&amp;mu;g/m&amp;sup3;,&amp;quot; ujar Puji dalam diskusi bertajuk &amp;lsquo;Clean Air for Greater Jakarta: From Evidence to Investment and Action di Indonesia International Sustainability Forum 2026,&amp;rsquo; Jakarta, dikutip Jumat &amp;nbsp;(9/10/2026).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Penelitian ini juga mengungkap tingginya paparan polusi PM2.5 yang menyelimuti Jakarta sangat dipengaruhi oleh emisi dari berbagai kegiatan manusia. Transportasi menjadi sektor penyumbang polusi udara tertinggi di Jakarta dengan porsi kontribusi mencapai 59 persen.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kami melihat antara inventarisasi emisi dan alokasi sumber menunjukkan kecocokan yang baik untuk PM2.5 di Jakarta, yaitu sekitar 60 persen dari inventarisasi emisi dan sekitar 59 persen dari alokasi sumber,&amp;quot; ujar Puji.&#13;
&#13;
Dia menjelaskan, tiga kontributor utama penyumbang PM2.5 terbesar secara berurutan adalah kendaraan diesel sebesar 33,1 persen, kendaraan bensin 26,2 persen dan polutan jenis secondary sulfate sebesar 20,4 persen.&#13;
&#13;
Sementara, tiga kontributor utama penyumbang PM2.5 terbesar secara berurutan adalah kendaraan diesel sebesar 33,1 persen, kendaraan bensin 26,2 persen dan polutan jenis secondary sulfate sebesar 20,4 persen.&#13;
&#13;
Penelitian turut menemukan pembakaran batubara menyumbang sekitar 5,5 persen dan pembakaran sampah sebesar 5 persen terhadap polusi PM2,5 di Jakarta.&#13;
&#13;
Studi turut mengungkap sumber polusi udara di Jakarta merupakan sumbangan dari aktivitas kota-kota penyangga di sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi yang berkontribusi sebesar 38,51 persen.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Puji merekomendasikan sejumlah solusi kepada pemerintah seperti menerapkan standar bahan bakar bersih Euro 4 secara menyeluruh, memperluas elektrifikasi dan mewajibkan penggunaan Diesel Particulate Filter (DPF) pada armada kendaraan seperti truk dan bus.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Seluruh upaya ini membutuhkan komitmen manajemen kualitas udara yang terintegrasi, di mana Jakarta dan wilayah penyangganya harus berkolaborasi erat dalam satu rencana aksi bersama demi mewujudkan kembali langit bersih di kawasan tersebut,&amp;quot;pungkasnya.&#13;
&#13;
Executive Director ViriniyaENB, Suzanty Sitorus menambahkan, perlu adanya mekanisme komunikasi dan koordinasi lintas wilayah dan sektor. Pasalnya, polusi udara tidak hanya berasal dari wilayah Jakarta, namun juga kota-kota sekitarnya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sekarang perlu mekanisme komunikasi karena enggak bisa hanya di Jakarta karena (polusi udara) berasal dari (kota-kota) sebelahnya. Diperlukan koordinasi lintas sektor dari sumber transportasi, industri, pembakaran sampah, tidak bisa hanya satu sektor,&amp;rdquo;pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
