<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Said Aqil Luncurkan Buku 11 Jilid, Ungkap Peran Islam dalam Peradaban Nusantara</title><description>Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) meluncurkan dan menggelar bedah buku Historiografi Islam Nusantara karya Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj dan Imam Pituduh di Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu (17/10/2026). &#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/10/17/337/3248578/said-aqil-luncurkan-buku-11-jilid-ungkap-peran-islam-dalam-peradaban-nusantara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/10/17/337/3248578/said-aqil-luncurkan-buku-11-jilid-ungkap-peran-islam-dalam-peradaban-nusantara"/><item><title>Said Aqil Luncurkan Buku 11 Jilid, Ungkap Peran Islam dalam Peradaban Nusantara</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/10/17/337/3248578/said-aqil-luncurkan-buku-11-jilid-ungkap-peran-islam-dalam-peradaban-nusantara</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/10/17/337/3248578/said-aqil-luncurkan-buku-11-jilid-ungkap-peran-islam-dalam-peradaban-nusantara</guid><pubDate>Sabtu 17 Oktober 2026 21:48 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/17/337/3248578/said_aqil-Eabc_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ketua Umum LPOI sekaligus anggota Wantimpres, KH. Said Aqil Siroj (foto; dok ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/17/337/3248578/said_aqil-Eabc_large.jpg</image><title>Ketua Umum LPOI sekaligus anggota Wantimpres, KH. Said Aqil Siroj (foto; dok ist)</title></images><description>&#13;
&#13;
JAKARTA - Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) meluncurkan dan menggelar bedah buku Historiografi Islam Nusantara karya Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj dan Imam Pituduh di Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu (17/10/2026).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Buku tersebut mengajak masyarakat memahami perjalanan Islam di Nusantara melalui kajian sejarah yang ilmiah, terbuka, dan berbasis sumber yang beragam.&#13;
&#13;
Ketua Umum LPOI sekaligus anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), KH. Said Aqil Siroj, mengatakan, memahami Islam Nusantara tidak cukup hanya dengan menelusuri waktu kedatangan Islam dan tokoh-tokoh penyebarnya. Kajian sejarah juga perlu melihat interaksi Islam dengan kebudayaan lokal, pembentukan institusi sosial, perkembangan jaringan pengetahuan, hingga kontribusinya terhadap peradaban Indonesia.&#13;
&#13;
Menurut Said Aqil, posisi strategis Indonesia di persilangan dunia serta karakter Indonesia sebagai negara demokrasi dengan mayoritas penduduk Muslim menjadikan sejarah Islam Nusantara penting untuk dipahami dalam konteks yang lebih luas.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Gagasan tersebut menjadi salah satu landasan penyusunan buku Historiografi Islam Nusantara yang terdiri atas 11 jilid. Buku ini mengajak pembaca melihat historiografi Islam Nusantara sebagai bidang kajian ilmiah yang dinamis, terbuka terhadap perbedaan perspektif, serta terus berkembang seiring penemuan sumber sejarah baru dan penggunaan beragam pendekatan penelitian.&#13;
&#13;
Said Aqil menjelaskan, fakta-fakta sejarah Islam Nusantara dapat ditafsirkan secara berbeda bergantung pada perspektif, sumber, metode, dan kerangka analisis yang digunakan. Perbedaan tersebut melahirkan diskusi ilmiah mengenai asal-usul, jalur penyebaran, karakter perkembangan, serta kontribusi Islam dalam kehidupan masyarakat Nusantara.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dari perspektif sejarah, Islam di Nusantara tidak hanya hadir sebagai agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia, tetapi juga berperan dalam membentuk jaringan pendidikan, perdagangan, hukum, diplomasi, bahasa, sastra, kebudayaan, serta berbagai institusi sosial dan politik,&amp;quot; kata Said Aqil.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kontribusi tersebut dapat ditelusuri melalui perkembangan lembaga pendidikan Islam, tradisi keilmuan, jaringan ulama, manuskrip keagamaan, kesusastraan, gerakan sosial, hingga keterlibatan masyarakat Muslim dalam dinamika kebangsaan.&#13;
&#13;
Perkembangan organisasi Islam modern, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, juga memperlihatkan peran Islam dalam bidang pendidikan, pelayanan masyarakat, pemikiran keagamaan, dan kehidupan publik.&#13;
&#13;
Dalam kajian historiografi, organisasi Islam tidak hanya perlu ditempatkan sebagai objek penelitian. Organisasi tersebut juga merupakan subjek aktif yang menghasilkan pengetahuan, menyimpan memori kolektif, serta mewariskan pengalaman sejarah melalui dokumen, arsip, manuskrip, catatan organisasi, dan kesaksian lisan.&#13;
&#13;
Said Aqil menegaskan, pengembangan historiografi Islam Nusantara bukan bertujuan membangun sejarah yang bersifat apologetik atau mengunggulkan kelompok tertentu. Sebaliknya, upaya tersebut ditujukan untuk memperluas sumber dan perspektif dalam penulisan sejarah Indonesia, sekaligus menempatkan masyarakat Muslim Nusantara sebagai pelaku sejarah yang aktif dan memiliki kontribusi terhadap perkembangan peradaban.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pengembangan historiografi Islam Nusantara merupakan upaya memperluas sumber, perspektif, dan pelaku dalam penulisan sejarah Indonesia. Tujuannya bukan membangun sejarah yang bersifat apologetik atau mengunggulkan kelompok tertentu, melainkan menghadirkan kajian ilmiah yang menempatkan masyarakat Muslim Nusantara sebagai pelaku sejarah yang aktif, kreatif, dan memiliki kontribusi nyata terhadap perkembangan peradaban,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sementara itu, Sekretaris Jenderal LPOI sekaligus penulis buku, Imam Pituduh, mengatakan penerbitan buku tersebut merupakan bagian dari upaya menyambut Hari Santri 2026 sekaligus merekonstruksi narasi sejarah Islam di Nusantara untuk diwariskan kepada generasi mendatang.&#13;
&#13;
Menurut Imam, Surabaya dipilih sebagai lokasi peluncuran awal karena memiliki keterkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kegiatan tersebut juga dimaksudkan sebagai momentum untuk menelusuri kembali sejarah Nusantara serta mengambil inspirasi dari perjuangan para wali dan kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara.&#13;
&#13;
Imam menilai, di tengah derasnya arus informasi di ruang publik modern, sejarah kerap disajikan dalam narasi singkat dan terfragmentasi yang tidak selalu didukung bukti memadai. Penyederhanaan maupun manipulasi masa lalu dapat memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap identitas, hubungan antarkelompok, dan perjalanan bangsa.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Di tengah ruang publik modern yang dipenuhi informasi dengan peredaran sangat cepat, sejarah kerap hadir dalam bentuk narasi yang ringkas, terfragmentasi, dan tidak selalu didukung bukti yang memadai. Penyederhanaan maupun manipulasi masa lalu dapat memengaruhi cara masyarakat memahami identitas, hubungan antarkelompok, dan perjalanan bangsanya,&amp;quot; ujar Pituduh.&#13;
&#13;
Karena itu, ia menekankan pentingnya kemampuan masyarakat untuk membedakan fakta sejarah, interpretasi, dan opini; memeriksa sumber; memahami konteks; serta menilai suatu narasi secara kritis dan bertanggung jawab.&#13;
&#13;
Acara peluncuran dan bedah buku tersebut dihadiri anggota Wantimpres H. Soekarwo atau Pakde Karwo, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, pengurus LPOI, sejumlah rektor perguruan tinggi negeri dan swasta, perwakilan pondok pesantren di Jawa Timur, serta tokoh-tokoh masyarakat setempat.&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
JAKARTA - Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) meluncurkan dan menggelar bedah buku Historiografi Islam Nusantara karya Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj dan Imam Pituduh di Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu (17/10/2026).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Buku tersebut mengajak masyarakat memahami perjalanan Islam di Nusantara melalui kajian sejarah yang ilmiah, terbuka, dan berbasis sumber yang beragam.&#13;
&#13;
Ketua Umum LPOI sekaligus anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), KH. Said Aqil Siroj, mengatakan, memahami Islam Nusantara tidak cukup hanya dengan menelusuri waktu kedatangan Islam dan tokoh-tokoh penyebarnya. Kajian sejarah juga perlu melihat interaksi Islam dengan kebudayaan lokal, pembentukan institusi sosial, perkembangan jaringan pengetahuan, hingga kontribusinya terhadap peradaban Indonesia.&#13;
&#13;
Menurut Said Aqil, posisi strategis Indonesia di persilangan dunia serta karakter Indonesia sebagai negara demokrasi dengan mayoritas penduduk Muslim menjadikan sejarah Islam Nusantara penting untuk dipahami dalam konteks yang lebih luas.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Gagasan tersebut menjadi salah satu landasan penyusunan buku Historiografi Islam Nusantara yang terdiri atas 11 jilid. Buku ini mengajak pembaca melihat historiografi Islam Nusantara sebagai bidang kajian ilmiah yang dinamis, terbuka terhadap perbedaan perspektif, serta terus berkembang seiring penemuan sumber sejarah baru dan penggunaan beragam pendekatan penelitian.&#13;
&#13;
Said Aqil menjelaskan, fakta-fakta sejarah Islam Nusantara dapat ditafsirkan secara berbeda bergantung pada perspektif, sumber, metode, dan kerangka analisis yang digunakan. Perbedaan tersebut melahirkan diskusi ilmiah mengenai asal-usul, jalur penyebaran, karakter perkembangan, serta kontribusi Islam dalam kehidupan masyarakat Nusantara.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dari perspektif sejarah, Islam di Nusantara tidak hanya hadir sebagai agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia, tetapi juga berperan dalam membentuk jaringan pendidikan, perdagangan, hukum, diplomasi, bahasa, sastra, kebudayaan, serta berbagai institusi sosial dan politik,&amp;quot; kata Said Aqil.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kontribusi tersebut dapat ditelusuri melalui perkembangan lembaga pendidikan Islam, tradisi keilmuan, jaringan ulama, manuskrip keagamaan, kesusastraan, gerakan sosial, hingga keterlibatan masyarakat Muslim dalam dinamika kebangsaan.&#13;
&#13;
Perkembangan organisasi Islam modern, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, juga memperlihatkan peran Islam dalam bidang pendidikan, pelayanan masyarakat, pemikiran keagamaan, dan kehidupan publik.&#13;
&#13;
Dalam kajian historiografi, organisasi Islam tidak hanya perlu ditempatkan sebagai objek penelitian. Organisasi tersebut juga merupakan subjek aktif yang menghasilkan pengetahuan, menyimpan memori kolektif, serta mewariskan pengalaman sejarah melalui dokumen, arsip, manuskrip, catatan organisasi, dan kesaksian lisan.&#13;
&#13;
Said Aqil menegaskan, pengembangan historiografi Islam Nusantara bukan bertujuan membangun sejarah yang bersifat apologetik atau mengunggulkan kelompok tertentu. Sebaliknya, upaya tersebut ditujukan untuk memperluas sumber dan perspektif dalam penulisan sejarah Indonesia, sekaligus menempatkan masyarakat Muslim Nusantara sebagai pelaku sejarah yang aktif dan memiliki kontribusi terhadap perkembangan peradaban.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pengembangan historiografi Islam Nusantara merupakan upaya memperluas sumber, perspektif, dan pelaku dalam penulisan sejarah Indonesia. Tujuannya bukan membangun sejarah yang bersifat apologetik atau mengunggulkan kelompok tertentu, melainkan menghadirkan kajian ilmiah yang menempatkan masyarakat Muslim Nusantara sebagai pelaku sejarah yang aktif, kreatif, dan memiliki kontribusi nyata terhadap perkembangan peradaban,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Sementara itu, Sekretaris Jenderal LPOI sekaligus penulis buku, Imam Pituduh, mengatakan penerbitan buku tersebut merupakan bagian dari upaya menyambut Hari Santri 2026 sekaligus merekonstruksi narasi sejarah Islam di Nusantara untuk diwariskan kepada generasi mendatang.&#13;
&#13;
Menurut Imam, Surabaya dipilih sebagai lokasi peluncuran awal karena memiliki keterkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kegiatan tersebut juga dimaksudkan sebagai momentum untuk menelusuri kembali sejarah Nusantara serta mengambil inspirasi dari perjuangan para wali dan kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara.&#13;
&#13;
Imam menilai, di tengah derasnya arus informasi di ruang publik modern, sejarah kerap disajikan dalam narasi singkat dan terfragmentasi yang tidak selalu didukung bukti memadai. Penyederhanaan maupun manipulasi masa lalu dapat memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap identitas, hubungan antarkelompok, dan perjalanan bangsa.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Di tengah ruang publik modern yang dipenuhi informasi dengan peredaran sangat cepat, sejarah kerap hadir dalam bentuk narasi yang ringkas, terfragmentasi, dan tidak selalu didukung bukti yang memadai. Penyederhanaan maupun manipulasi masa lalu dapat memengaruhi cara masyarakat memahami identitas, hubungan antarkelompok, dan perjalanan bangsanya,&amp;quot; ujar Pituduh.&#13;
&#13;
Karena itu, ia menekankan pentingnya kemampuan masyarakat untuk membedakan fakta sejarah, interpretasi, dan opini; memeriksa sumber; memahami konteks; serta menilai suatu narasi secara kritis dan bertanggung jawab.&#13;
&#13;
Acara peluncuran dan bedah buku tersebut dihadiri anggota Wantimpres H. Soekarwo atau Pakde Karwo, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, pengurus LPOI, sejumlah rektor perguruan tinggi negeri dan swasta, perwakilan pondok pesantren di Jawa Timur, serta tokoh-tokoh masyarakat setempat.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
