<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>4 Peninggalan Kerajaan Majapahit, dari Candi hingga Prasasti Bersejarah</title><description>Empat peninggalan Kerajaan Majapahit menjadi bukti kejayaan salah satu kerajaan Hindu-Buddha terbesar dalam sejarah Nusantara. Kerajaan yang berdiri pada akhir abad ke-13 ini mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, dengan Gajah Mada sebagai mahapatih. Pada masa itu, pengaruh Majapahit meluas ke berbagai wilayah Nusantara.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/10/22/337/3249413/4-peninggalan-kerajaan-majapahit-dari-candi-hingga-prasasti-bersejarah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/10/22/337/3249413/4-peninggalan-kerajaan-majapahit-dari-candi-hingga-prasasti-bersejarah"/><item><title>4 Peninggalan Kerajaan Majapahit, dari Candi hingga Prasasti Bersejarah</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/10/22/337/3249413/4-peninggalan-kerajaan-majapahit-dari-candi-hingga-prasasti-bersejarah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/10/22/337/3249413/4-peninggalan-kerajaan-majapahit-dari-candi-hingga-prasasti-bersejarah</guid><pubDate>Kamis 22 Oktober 2026 06:35 WIB</pubDate><dc:creator>Niken Wulandari</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/21/337/3249413/candi_bajang_ratu-vbeu_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Candi Bajang Ratu Mojokerto (Foto: Javatravel)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/21/337/3249413/candi_bajang_ratu-vbeu_large.jpg</image><title>Candi Bajang Ratu Mojokerto (Foto: Javatravel)</title></images><description>&#13;
&#13;
JAKARTA &amp;ndash; Empat peninggalan Kerajaan Majapahit menjadi bukti kejayaan salah satu kerajaan Hindu-Buddha terbesar dalam sejarah Nusantara. Kerajaan yang berdiri pada akhir abad ke-13 ini mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, dengan Gajah Mada sebagai mahapatih. Pada masa itu, pengaruh Majapahit meluas ke berbagai wilayah Nusantara.&#13;
&#13;
Lantas, apa saja peninggalan Kerajaan Majapahit yang masih dapat dikenali hingga kini? Dikutip dari jurnal Estungkara Universitas Jambi, berikut empat peninggalan yang menyimpan jejak sejarah kerajaan tersebut.&#13;
&#13;
1. Candi Bajang Ratu&#13;
&#13;
Candi Bajang Ratu terletak di Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Bangunan ini berbentuk gapura paduraksa, yaitu gerbang yang memiliki atap.&#13;
&#13;
Waktu pembangunan gapura ini belum diketahui secara pasti. Namun, relief Ramayana serta ornamen binatang dan naga pada bangunannya menjadi bagian dari petunjuk sejarah yang berkaitan dengan periode Majapahit.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Candi Bajang Ratu dipercaya dibangun untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara. Bangunan ini bukan berfungsi sebagai makam, melainkan diduga berkaitan dengan akses menuju kompleks bangunan suci.&#13;
&#13;
Gapura tersebut dipugar pada 1989 hingga 1992. Candi Bajang Ratu juga termasuk dalam kawasan cagar budaya Trowulan yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 260/M/2013.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
2. Candi Tikus&#13;
&#13;
Candi Tikus terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Bangunan ini memiliki posisi lebih rendah dibandingkan permukaan tanah di sekitarnya dan diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Majapahit.&#13;
&#13;
Bangunan utamanya dikelilingi sejumlah menara kecil yang menjadi ciri khas arsitekturnya. Bentuk kompleks bangunan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan dengan pengelolaan air pada masa lampau.&#13;
&#13;
Candi Tikus diduga berfungsi sebagai tempat pemandian kerajaan atau lokasi pelaksanaan upacara tertentu. Dugaan tersebut antara lain dikaitkan dengan Nagarakretagama, yang mencatat kunjungan Raja Hayam Wuruk ke tempat pemandian kerajaan. Meski demikian, kitab tersebut tidak secara eksplisit menyebut Candi Tikus sebagai lokasi yang dimaksud.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
3. Kitab Nagarakretagama&#13;
&#13;
Nagarakretagama, yang juga dikenal dengan nama Desawarnana, merupakan karya sastra berbentuk kakawin yang ditulis oleh Mpu Prapanca dalam bahasa Jawa Kuno pada 1365. Karya ini terdiri atas 98 pupuh dan menggambarkan kehidupan Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350&amp;ndash;1389).&#13;
&#13;
Isinya mencakup kehidupan keraton, perjalanan raja, kegiatan keagamaan, serta wilayah-wilayah yang memiliki hubungan politik dan ekonomi dengan Majapahit. Karena itu, Nagarakretagama menjadi salah satu sumber penting untuk memahami sejarah kerajaan tersebut.&#13;
&#13;
Naskah ini ditemukan kembali pada 1894 oleh J.L.A. Brandes di Lombok ketika mengikuti ekspedisi militer Belanda. Naskah *Nagarakretagama* juga mendapat pengakuan UNESCO sebagai bagian dari program Memory of the World atau Memori Dunia.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
4. Prasasti Canggu&#13;
&#13;
Prasasti Canggu, yang juga dikenal sebagai Prasasti Trowulan I, merupakan prasasti berbahan tembaga yang berasal dari masa Kerajaan Majapahit. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dan berkaitan dengan pemerintahan Raja Hayam Wuruk.&#13;
&#13;
Prasasti tersebut memuat keterangan mengenai desa-desa penyeberangan atau tempat penyeberangan sungai beserta ketentuan yang mengatur aktivitasnya. Informasi ini menunjukkan pentingnya jalur sungai dalam menunjang mobilitas masyarakat dan kegiatan ekonomi pada masa Majapahit.&#13;
&#13;
Keberadaan Prasasti Canggu menjadi bukti bahwa pengelolaan transportasi air telah mendapat perhatian dalam tata pemerintahan kerajaan. Sungai tidak hanya berfungsi sebagai jalur penghubung antardaerah, tetapi juga berperan dalam mendukung aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.&#13;
&#13;
Berbagai peninggalan Kerajaan Majapahit, mulai dari candi, kitab, hingga prasasti, tidak hanya menjadi bukti kejayaan masa lalu, tetapi juga sumber pengetahuan mengenai arsitektur, sastra, pemerintahan, dan kehidupan masyarakat pada masa itu.&#13;
&#13;
Sebagian situs peninggalan Majapahit di Trowulan kini dilindungi sebagai bagian dari kawasan cagar budaya. Oleh karena itu, pelestarian warisan sejarah tersebut menjadi tanggung jawab bersama agar generasi mendatang tetap dapat mempelajari dan mengenal kejayaan peradaban Nusantara.&#13;
</description><content:encoded>&#13;
&#13;
JAKARTA &amp;ndash; Empat peninggalan Kerajaan Majapahit menjadi bukti kejayaan salah satu kerajaan Hindu-Buddha terbesar dalam sejarah Nusantara. Kerajaan yang berdiri pada akhir abad ke-13 ini mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, dengan Gajah Mada sebagai mahapatih. Pada masa itu, pengaruh Majapahit meluas ke berbagai wilayah Nusantara.&#13;
&#13;
Lantas, apa saja peninggalan Kerajaan Majapahit yang masih dapat dikenali hingga kini? Dikutip dari jurnal Estungkara Universitas Jambi, berikut empat peninggalan yang menyimpan jejak sejarah kerajaan tersebut.&#13;
&#13;
1. Candi Bajang Ratu&#13;
&#13;
Candi Bajang Ratu terletak di Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Bangunan ini berbentuk gapura paduraksa, yaitu gerbang yang memiliki atap.&#13;
&#13;
Waktu pembangunan gapura ini belum diketahui secara pasti. Namun, relief Ramayana serta ornamen binatang dan naga pada bangunannya menjadi bagian dari petunjuk sejarah yang berkaitan dengan periode Majapahit.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Candi Bajang Ratu dipercaya dibangun untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara. Bangunan ini bukan berfungsi sebagai makam, melainkan diduga berkaitan dengan akses menuju kompleks bangunan suci.&#13;
&#13;
Gapura tersebut dipugar pada 1989 hingga 1992. Candi Bajang Ratu juga termasuk dalam kawasan cagar budaya Trowulan yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 260/M/2013.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
2. Candi Tikus&#13;
&#13;
Candi Tikus terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Bangunan ini memiliki posisi lebih rendah dibandingkan permukaan tanah di sekitarnya dan diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Majapahit.&#13;
&#13;
Bangunan utamanya dikelilingi sejumlah menara kecil yang menjadi ciri khas arsitekturnya. Bentuk kompleks bangunan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan dengan pengelolaan air pada masa lampau.&#13;
&#13;
Candi Tikus diduga berfungsi sebagai tempat pemandian kerajaan atau lokasi pelaksanaan upacara tertentu. Dugaan tersebut antara lain dikaitkan dengan Nagarakretagama, yang mencatat kunjungan Raja Hayam Wuruk ke tempat pemandian kerajaan. Meski demikian, kitab tersebut tidak secara eksplisit menyebut Candi Tikus sebagai lokasi yang dimaksud.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
3. Kitab Nagarakretagama&#13;
&#13;
Nagarakretagama, yang juga dikenal dengan nama Desawarnana, merupakan karya sastra berbentuk kakawin yang ditulis oleh Mpu Prapanca dalam bahasa Jawa Kuno pada 1365. Karya ini terdiri atas 98 pupuh dan menggambarkan kehidupan Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350&amp;ndash;1389).&#13;
&#13;
Isinya mencakup kehidupan keraton, perjalanan raja, kegiatan keagamaan, serta wilayah-wilayah yang memiliki hubungan politik dan ekonomi dengan Majapahit. Karena itu, Nagarakretagama menjadi salah satu sumber penting untuk memahami sejarah kerajaan tersebut.&#13;
&#13;
Naskah ini ditemukan kembali pada 1894 oleh J.L.A. Brandes di Lombok ketika mengikuti ekspedisi militer Belanda. Naskah *Nagarakretagama* juga mendapat pengakuan UNESCO sebagai bagian dari program Memory of the World atau Memori Dunia.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
4. Prasasti Canggu&#13;
&#13;
Prasasti Canggu, yang juga dikenal sebagai Prasasti Trowulan I, merupakan prasasti berbahan tembaga yang berasal dari masa Kerajaan Majapahit. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dan berkaitan dengan pemerintahan Raja Hayam Wuruk.&#13;
&#13;
Prasasti tersebut memuat keterangan mengenai desa-desa penyeberangan atau tempat penyeberangan sungai beserta ketentuan yang mengatur aktivitasnya. Informasi ini menunjukkan pentingnya jalur sungai dalam menunjang mobilitas masyarakat dan kegiatan ekonomi pada masa Majapahit.&#13;
&#13;
Keberadaan Prasasti Canggu menjadi bukti bahwa pengelolaan transportasi air telah mendapat perhatian dalam tata pemerintahan kerajaan. Sungai tidak hanya berfungsi sebagai jalur penghubung antardaerah, tetapi juga berperan dalam mendukung aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.&#13;
&#13;
Berbagai peninggalan Kerajaan Majapahit, mulai dari candi, kitab, hingga prasasti, tidak hanya menjadi bukti kejayaan masa lalu, tetapi juga sumber pengetahuan mengenai arsitektur, sastra, pemerintahan, dan kehidupan masyarakat pada masa itu.&#13;
&#13;
Sebagian situs peninggalan Majapahit di Trowulan kini dilindungi sebagai bagian dari kawasan cagar budaya. Oleh karena itu, pelestarian warisan sejarah tersebut menjadi tanggung jawab bersama agar generasi mendatang tetap dapat mempelajari dan mengenal kejayaan peradaban Nusantara.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
