<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Polri Bongkar Laboratorium Sabu Blue Ice 1,2 Ton di Aceh, Begini Kronologi Lengkapnya!</title><description>Mantan Kapolda banten ini menjelaskan, pada Februari 2026, jaringan narkotika asal Tiongkok terdeteksi mengangkut ratusan kilogram Methamphetamine cair dari Myanmar utara melintasi Laos dan Thailand.&#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/10/23/337/3249844/polri-bongkar-laboratorium-sabu-blue-ice-1-2-ton-di-aceh-begini-kronologi-lengkapnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/10/23/337/3249844/polri-bongkar-laboratorium-sabu-blue-ice-1-2-ton-di-aceh-begini-kronologi-lengkapnya"/><item><title>Polri Bongkar Laboratorium Sabu Blue Ice 1,2 Ton di Aceh, Begini Kronologi Lengkapnya!</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/10/23/337/3249844/polri-bongkar-laboratorium-sabu-blue-ice-1-2-ton-di-aceh-begini-kronologi-lengkapnya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/10/23/337/3249844/polri-bongkar-laboratorium-sabu-blue-ice-1-2-ton-di-aceh-begini-kronologi-lengkapnya</guid><pubDate>Jum'at 23 Oktober 2026 19:03 WIB</pubDate><dc:creator>Puteranegara Batubara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/23/337/3249844/polri-1qsn_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/23/337/3249844/polri-1qsn_large.jpg</image><title>Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto </title></images><description>JAKARTA - Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto mengungkap laboratorium pembuatan sabu Blue Ice seberat 1,2 ton di wilayah Aceh. Pengungkapan ini merupakan joint operation antaran Polri, BNN dan Bea Cukai.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kita telah berhasil mengungkap hampir 1,2 ton sabu yang tentu nilainya sangat fantastis. Yang paling penting, kita bisa menyelamatkan anak bangsa dari kehancuran yang dapat merusak masa depan anak-anak kita. Tepuk tangan dulu, Bapak dan Ibu sekalian,&amp;quot; kata Suyudi dalam jumpa pers, Jumat (23/10/2026).&#13;
&#13;
Mantan Kapolda banten ini menjelaskan, pada Februari 2026, jaringan narkotika asal Tiongkok terdeteksi mengangkut ratusan kilogram Methamphetamine cair dari Myanmar utara melintasi Laos dan Thailand.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sebelum akhirnya tiba di tujuan akhir, yaitu Banda Aceh, Indonesia, pada tanggal 18 Mei 2026. Jadi sudah berapa bulan, sekarang bulan apa, Oktober, ya, sudah 6 bulan yang lalu,&amp;quot; ujar Suyudi.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kemudian, pada 21 Mei 2026, dua warga negara asal Tiongkok selaku koki utama atau ahli kimia, yaitu tersangka LJ (45) dan XM (42), melakukan perjalanan dari Yunnan, Tiongkok, transit di Malaysia, dan masuk ke Banda Aceh pada tanggal 24 Mei 2026.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kedua tersangka WNA tersebut menginap di salah satu hotel di Banda Aceh selama 10 hari untuk melakukan survei di wilayah tersebut, kemudian kembali ke Malaysia pada tanggal 2 Juni 2026,&amp;quot; ucap Suyudi.&#13;
&#13;
Selanjutnya pada akhir Juli 2026, kedua tersangka WNA tersebut memulai pengiriman tahap kedua berupa hampir 1 ton Methamphetamine cair melalui rute yang sama seperti tahap pertama. Cairan tersebut disamarkan di dalam kaleng hijau untuk mengelabui petugas pada saat pengecekan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pada tanggal 15 Oktober 2026, tersangka LJ dan XM melakukan perjalanan dari Kunming, Tiongkok, dan tiba di Kuala Lumpur pada pukul 14.40 waktu setempat, lalu bertemu dengan tersangka B yang berkewarganegaraan Indonesia. Selama di Malaysia, tersangka LJ dan XM dibantu oleh tersangka MN untuk urusan akomodasi dan penginapan,&amp;quot; kata Suyudi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Berbekal informasi tersebut, tim gabungan langsung meningkatkan status operasi menjadi penyelidikan. Langkah itu dilakukan untuk mengawasi setiap pergerakan target dan logistik setibanya di tanah air.&#13;
&#13;
&amp;quot;Penyelidikan dimulai pada tanggal 16 Oktober 2026 saat tersangka B terbang mendahului dari Kuala Lumpur ke Banda Aceh, lalu menuju Samalanga, Kabupaten Bireuen,&amp;quot; tutur Suyudi.&#13;
&#13;
Pada hari Sabtu, 17 Oktober 2026 pukul 17.20 WIB, tersangka LJ, XM, dan MN mendarat di Banda Aceh, lalu dijemput oleh tersangka RI menggunakan mobil. Dalam perjalanan, rombongan mobil Innova berhenti untuk makan di salah satu restoran.&#13;
&#13;
Pada pukul 22.26 WIB, rombongan mobil Innova tiba di salah satu ruko yang berada di Jeunieb dan pada pukul 03.01 WIB, rombongan mobil Fortuner tiba di lokasi yang sama.&#13;
&#13;
Pada 18 Oktober 2026, mobil Fortuner bergerak ke daerah Medan. NNCC menginformasikan bahwa tersangka LJ menghubungi atasannya yang berada di Tiongkok berinisial LX serta rekannya berinisial LQ untuk melaporkan bahwa pembuatan sabu telah dimulai.&#13;
&#13;
Pada 19 Oktober 2026 pukul 21.51 WIB, rombongan Fortuner memindahkan koper dan kotak ke mobil Honda Jazz putih selaku penerima logistik. Pada pukul 22.23 WIB, NNCC memberikan informasi kepada tim gabungan bahwa atasan tersangka LJ yang berinisial LX menginstruksikan untuk mempercepat produksi dan pengemasan barang agar segera dikirim.&#13;
&#13;
&amp;quot;Mengetahui sebagian barang bukti mulai didistribusikan keluar dari laboratorium, tim memutuskan untuk segera mengunci lokasi dan melakukan penangkapan. Pada hari Rabu, 21 Oktober 2026 dini hari, tim melakukan konsolidasi di daerah Pidie untuk menggabungkan hasil analisis informasi dan pemantauan lapangan guna menentukan cara bertindak dengan pembagian tim yang solid,&amp;quot; kata Suyudi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Pada pukul 12.19 WIB, tim gabungan mendapatkan informasi bahwa tersangka LJ dan XM berada di sebuah ruko di Jalan Dayah Tanoh, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie.&#13;
&#13;
Pada pukul 14.40 WIB, tim gabungan melaksanakan penindakan di ruko tersebut beserta empat lokasi lainnya yang berada di wilayah Bireuen, Aceh Utara, dan Lhokseumawe secara serentak.&#13;
&#13;
&amp;quot;Di dalam ruko di Kabupaten Pidie, petugas mengamankan tersangka LJ, XM, F, MY, AK, dan AY. Tim gabungan mengamankan lokasi yang menjadi clandestine laboratory, kemudian melakukan penggeledahan. Di lokasi tersebut ditemukan barang berupa 20 drum sabu cair (meth oil) dan kurang lebih 500 kg sabu kristal (crystal meth) dengan total barang bukti yang berhasil diamankan kurang lebih 1,2 ton bruto,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Selain itu, tim gabungan juga mengamankan peralatan yang digunakan untuk pengolahan sabu, yaitu 60 kaleng Titan Pro, 4 kompor 2 tungku, 7 buah tabung gas 12 kg, 3 mesin cuci yang digunakan untuk pengkristalan, serta 6 unit handphone di lokasi clandestine laboratory.&#13;
&#13;
&amp;quot;Proses yang mereka lakukan sangat sistematis, sangat terstruktur, dan menunjukkan bahwa jaringan ini dikendalikan oleh ahli kimia berpengalaman,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto mengungkap laboratorium pembuatan sabu Blue Ice seberat 1,2 ton di wilayah Aceh. Pengungkapan ini merupakan joint operation antaran Polri, BNN dan Bea Cukai.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kita telah berhasil mengungkap hampir 1,2 ton sabu yang tentu nilainya sangat fantastis. Yang paling penting, kita bisa menyelamatkan anak bangsa dari kehancuran yang dapat merusak masa depan anak-anak kita. Tepuk tangan dulu, Bapak dan Ibu sekalian,&amp;quot; kata Suyudi dalam jumpa pers, Jumat (23/10/2026).&#13;
&#13;
Mantan Kapolda banten ini menjelaskan, pada Februari 2026, jaringan narkotika asal Tiongkok terdeteksi mengangkut ratusan kilogram Methamphetamine cair dari Myanmar utara melintasi Laos dan Thailand.&#13;
&#13;
&amp;quot;Sebelum akhirnya tiba di tujuan akhir, yaitu Banda Aceh, Indonesia, pada tanggal 18 Mei 2026. Jadi sudah berapa bulan, sekarang bulan apa, Oktober, ya, sudah 6 bulan yang lalu,&amp;quot; ujar Suyudi.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kemudian, pada 21 Mei 2026, dua warga negara asal Tiongkok selaku koki utama atau ahli kimia, yaitu tersangka LJ (45) dan XM (42), melakukan perjalanan dari Yunnan, Tiongkok, transit di Malaysia, dan masuk ke Banda Aceh pada tanggal 24 Mei 2026.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kedua tersangka WNA tersebut menginap di salah satu hotel di Banda Aceh selama 10 hari untuk melakukan survei di wilayah tersebut, kemudian kembali ke Malaysia pada tanggal 2 Juni 2026,&amp;quot; ucap Suyudi.&#13;
&#13;
Selanjutnya pada akhir Juli 2026, kedua tersangka WNA tersebut memulai pengiriman tahap kedua berupa hampir 1 ton Methamphetamine cair melalui rute yang sama seperti tahap pertama. Cairan tersebut disamarkan di dalam kaleng hijau untuk mengelabui petugas pada saat pengecekan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Pada tanggal 15 Oktober 2026, tersangka LJ dan XM melakukan perjalanan dari Kunming, Tiongkok, dan tiba di Kuala Lumpur pada pukul 14.40 waktu setempat, lalu bertemu dengan tersangka B yang berkewarganegaraan Indonesia. Selama di Malaysia, tersangka LJ dan XM dibantu oleh tersangka MN untuk urusan akomodasi dan penginapan,&amp;quot; kata Suyudi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Berbekal informasi tersebut, tim gabungan langsung meningkatkan status operasi menjadi penyelidikan. Langkah itu dilakukan untuk mengawasi setiap pergerakan target dan logistik setibanya di tanah air.&#13;
&#13;
&amp;quot;Penyelidikan dimulai pada tanggal 16 Oktober 2026 saat tersangka B terbang mendahului dari Kuala Lumpur ke Banda Aceh, lalu menuju Samalanga, Kabupaten Bireuen,&amp;quot; tutur Suyudi.&#13;
&#13;
Pada hari Sabtu, 17 Oktober 2026 pukul 17.20 WIB, tersangka LJ, XM, dan MN mendarat di Banda Aceh, lalu dijemput oleh tersangka RI menggunakan mobil. Dalam perjalanan, rombongan mobil Innova berhenti untuk makan di salah satu restoran.&#13;
&#13;
Pada pukul 22.26 WIB, rombongan mobil Innova tiba di salah satu ruko yang berada di Jeunieb dan pada pukul 03.01 WIB, rombongan mobil Fortuner tiba di lokasi yang sama.&#13;
&#13;
Pada 18 Oktober 2026, mobil Fortuner bergerak ke daerah Medan. NNCC menginformasikan bahwa tersangka LJ menghubungi atasannya yang berada di Tiongkok berinisial LX serta rekannya berinisial LQ untuk melaporkan bahwa pembuatan sabu telah dimulai.&#13;
&#13;
Pada 19 Oktober 2026 pukul 21.51 WIB, rombongan Fortuner memindahkan koper dan kotak ke mobil Honda Jazz putih selaku penerima logistik. Pada pukul 22.23 WIB, NNCC memberikan informasi kepada tim gabungan bahwa atasan tersangka LJ yang berinisial LX menginstruksikan untuk mempercepat produksi dan pengemasan barang agar segera dikirim.&#13;
&#13;
&amp;quot;Mengetahui sebagian barang bukti mulai didistribusikan keluar dari laboratorium, tim memutuskan untuk segera mengunci lokasi dan melakukan penangkapan. Pada hari Rabu, 21 Oktober 2026 dini hari, tim melakukan konsolidasi di daerah Pidie untuk menggabungkan hasil analisis informasi dan pemantauan lapangan guna menentukan cara bertindak dengan pembagian tim yang solid,&amp;quot; kata Suyudi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Pada pukul 12.19 WIB, tim gabungan mendapatkan informasi bahwa tersangka LJ dan XM berada di sebuah ruko di Jalan Dayah Tanoh, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie.&#13;
&#13;
Pada pukul 14.40 WIB, tim gabungan melaksanakan penindakan di ruko tersebut beserta empat lokasi lainnya yang berada di wilayah Bireuen, Aceh Utara, dan Lhokseumawe secara serentak.&#13;
&#13;
&amp;quot;Di dalam ruko di Kabupaten Pidie, petugas mengamankan tersangka LJ, XM, F, MY, AK, dan AY. Tim gabungan mengamankan lokasi yang menjadi clandestine laboratory, kemudian melakukan penggeledahan. Di lokasi tersebut ditemukan barang berupa 20 drum sabu cair (meth oil) dan kurang lebih 500 kg sabu kristal (crystal meth) dengan total barang bukti yang berhasil diamankan kurang lebih 1,2 ton bruto,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
Selain itu, tim gabungan juga mengamankan peralatan yang digunakan untuk pengolahan sabu, yaitu 60 kaleng Titan Pro, 4 kompor 2 tungku, 7 buah tabung gas 12 kg, 3 mesin cuci yang digunakan untuk pengkristalan, serta 6 unit handphone di lokasi clandestine laboratory.&#13;
&#13;
&amp;quot;Proses yang mereka lakukan sangat sistematis, sangat terstruktur, dan menunjukkan bahwa jaringan ini dikendalikan oleh ahli kimia berpengalaman,&amp;quot; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
