<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menag: Indonesia Jadi Model Moderasi Beragama, Banyak Negara Ingin Belajar</title><description>Menag mengungkapkan bahwa negara dan perguruan tinggi luar negeri telah mengungkapkan minat belajar moderasi beragama dari Indonesia. &#13;
</description><link>https://news.okezone.com/read/2026/10/30/337/3251146/menag-indonesia-jadi-model-moderasi-beragama-banyak-negara-ingin-belajar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2026/10/30/337/3251146/menag-indonesia-jadi-model-moderasi-beragama-banyak-negara-ingin-belajar"/><item><title>Menag: Indonesia Jadi Model Moderasi Beragama, Banyak Negara Ingin Belajar</title><link>https://news.okezone.com/read/2026/10/30/337/3251146/menag-indonesia-jadi-model-moderasi-beragama-banyak-negara-ingin-belajar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2026/10/30/337/3251146/menag-indonesia-jadi-model-moderasi-beragama-banyak-negara-ingin-belajar</guid><pubDate>Jum'at 30 Oktober 2026 15:39 WIB</pubDate><dc:creator>Yuwantoro Winduajie</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/30/337/3251146/menteri_agama_nasaruddin_umar-9AVx_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Agama Nasaruddin Umar. </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/30/337/3251146/menteri_agama_nasaruddin_umar-9AVx_large.jpg</image><title>Menteri Agama Nasaruddin Umar. </title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan bahwa Indonesia kini menjadi contoh moderasi beragama di mata dunia. Hal itu disampaikan Menag seusai melakukan kunjungan kerja ke Italia dan Vatikan untuk menghadiri pertemuan tokoh agama dunia di Assisi.&#13;
&#13;
Nasaruddin mengungkapkan, sejumlah negara menunjukkan ketertarikan untuk menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama dan Masjid Istiqlal. Negara-negara tersebut di antaranya Inggris, Australia, dan Pakistan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mereka ingin kerja sama dengan Kementerian Agama dan Istiqlal, terutama di Inggris, ya, kemarin Inggris, Australia, dan Pakistan,&amp;rdquo; ujar Nasaruddin, dikutip Jumat (30/10/2026).&#13;
&#13;
Dia menilai ketertarikan tersebut membuktikan bahwa pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman dan menjaga kehidupan beragama yang toleran mendapat perhatian positif dari dunia internasional.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pokoknya Indonesia itu sekarang jadi model, ya, terutama moderasi beragama kita,&amp;rdquo; ungkapnya.&#13;
&#13;
Selain negara-negara tersebut, dua perguruan tinggi di Italia dan Vatikan juga menyampaikan minat serupa untuk mempelajari cara Indonesia menjaga persatuan di tengah masyarakat majemuk.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ada dua universitas di Italia dan Vatikan itu mengajak kita kerja sama,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Salah satu perguruan tinggi tersebut adalah Pontificio Istituto di Studi Arabi e d&amp;#39;Islamistica (PISAI), lembaga pendidikan binaan Takhta Suci Vatikan yang berfokus pada studi Arab dan Islam.&#13;
&#13;
Nasaruddin menjelaskan, kerja sama ini menjadi momentum berharga bagi kedua pihak untuk saling mempelajari tradisi serta pengalaman masing-masing.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mereka berkepentingan untuk belajar ke Indonesia. Kita pun juga, saya kira, perlu belajar di Vatikan,&amp;rdquo; tuturnya.&#13;
&#13;
Dalam kunjungan tersebut, Nasaruddin juga menyempatkan diri mendatangi Perpustakaan Vatikan. Ia mengaku menemukan beragam koleksi literatur Islam, termasuk sejumlah kitab langka yang jarang dijumpai di Indonesia maupun kawasan Timur Tengah.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Selain peluang kerja sama di bidang pendidikan, gagasan ekoteologi dan diplomasi keagamaan yang disampaikan Menag dalam forum internasional di Assisi turut mendapat respons hangat dari pihak penyelenggara. Bahkan, kedua konsep tersebut rencananya akan diangkat sebagai tema utama pada pertemuan mendatang.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jadi, statement kita tentang ekoteologi dan tentang religious diplomacy itu nanti juga akan dijadikan tema besar yang akan datang,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
Ia menambahkan, para peserta forum juga antusias mempelajari Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa di Indonesia. Alokasi waktu berbicara Menag yang semula dijadwalkan tujuh menit pun membengkak hingga sekitar 30 menit karena banyaknya peserta yang ingin mendalami konsep Pancasila.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Karena mereka itu tertarik, minta dijelaskan tentang Pancasila. Pancasila itu bisa menjadi bukan hanya nilai-nilai Indonesia, tetapi juga bisa menjadi nilai-nilai universal,&amp;rdquo; ungkapnya.&#13;
&#13;
Di samping menghadiri forum tersebut, Nasaruddin juga menggelar pertemuan khusus dengan Menteri Luar Negeri Vatikan guna membahas penguatan hubungan bilateral, khususnya dalam menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan global. Menurutnya, Indonesia dan Vatikan memiliki kesamaan pandangan mengenai pentingnya membela kelompok yang tertindas tanpa memandang latar belakang agama.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Bahwa siapa pun yang tertindas itu harus dibela, dari kelompok agama mana pun,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Nasaruddin berharap respons positif selama kunjungan kerja ini dapat segera ditindaklanjuti menjadi bentuk kerja sama konkret, baik dalam bidang dialog antaragama, pendidikan, maupun penguatan diplomasi keagamaan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dan itulah, saya kira, connecting yang sangat bagus antara Indonesia dan Vatikan,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan bahwa Indonesia kini menjadi contoh moderasi beragama di mata dunia. Hal itu disampaikan Menag seusai melakukan kunjungan kerja ke Italia dan Vatikan untuk menghadiri pertemuan tokoh agama dunia di Assisi.&#13;
&#13;
Nasaruddin mengungkapkan, sejumlah negara menunjukkan ketertarikan untuk menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama dan Masjid Istiqlal. Negara-negara tersebut di antaranya Inggris, Australia, dan Pakistan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mereka ingin kerja sama dengan Kementerian Agama dan Istiqlal, terutama di Inggris, ya, kemarin Inggris, Australia, dan Pakistan,&amp;rdquo; ujar Nasaruddin, dikutip Jumat (30/10/2026).&#13;
&#13;
Dia menilai ketertarikan tersebut membuktikan bahwa pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman dan menjaga kehidupan beragama yang toleran mendapat perhatian positif dari dunia internasional.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Pokoknya Indonesia itu sekarang jadi model, ya, terutama moderasi beragama kita,&amp;rdquo; ungkapnya.&#13;
&#13;
Selain negara-negara tersebut, dua perguruan tinggi di Italia dan Vatikan juga menyampaikan minat serupa untuk mempelajari cara Indonesia menjaga persatuan di tengah masyarakat majemuk.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ada dua universitas di Italia dan Vatikan itu mengajak kita kerja sama,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
Salah satu perguruan tinggi tersebut adalah Pontificio Istituto di Studi Arabi e d&amp;#39;Islamistica (PISAI), lembaga pendidikan binaan Takhta Suci Vatikan yang berfokus pada studi Arab dan Islam.&#13;
&#13;
Nasaruddin menjelaskan, kerja sama ini menjadi momentum berharga bagi kedua pihak untuk saling mempelajari tradisi serta pengalaman masing-masing.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Mereka berkepentingan untuk belajar ke Indonesia. Kita pun juga, saya kira, perlu belajar di Vatikan,&amp;rdquo; tuturnya.&#13;
&#13;
Dalam kunjungan tersebut, Nasaruddin juga menyempatkan diri mendatangi Perpustakaan Vatikan. Ia mengaku menemukan beragam koleksi literatur Islam, termasuk sejumlah kitab langka yang jarang dijumpai di Indonesia maupun kawasan Timur Tengah.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Selain peluang kerja sama di bidang pendidikan, gagasan ekoteologi dan diplomasi keagamaan yang disampaikan Menag dalam forum internasional di Assisi turut mendapat respons hangat dari pihak penyelenggara. Bahkan, kedua konsep tersebut rencananya akan diangkat sebagai tema utama pada pertemuan mendatang.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jadi, statement kita tentang ekoteologi dan tentang religious diplomacy itu nanti juga akan dijadikan tema besar yang akan datang,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
Ia menambahkan, para peserta forum juga antusias mempelajari Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa di Indonesia. Alokasi waktu berbicara Menag yang semula dijadwalkan tujuh menit pun membengkak hingga sekitar 30 menit karena banyaknya peserta yang ingin mendalami konsep Pancasila.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Karena mereka itu tertarik, minta dijelaskan tentang Pancasila. Pancasila itu bisa menjadi bukan hanya nilai-nilai Indonesia, tetapi juga bisa menjadi nilai-nilai universal,&amp;rdquo; ungkapnya.&#13;
&#13;
Di samping menghadiri forum tersebut, Nasaruddin juga menggelar pertemuan khusus dengan Menteri Luar Negeri Vatikan guna membahas penguatan hubungan bilateral, khususnya dalam menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan global. Menurutnya, Indonesia dan Vatikan memiliki kesamaan pandangan mengenai pentingnya membela kelompok yang tertindas tanpa memandang latar belakang agama.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Bahwa siapa pun yang tertindas itu harus dibela, dari kelompok agama mana pun,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Nasaruddin berharap respons positif selama kunjungan kerja ini dapat segera ditindaklanjuti menjadi bentuk kerja sama konkret, baik dalam bidang dialog antaragama, pendidikan, maupun penguatan diplomasi keagamaan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dan itulah, saya kira, connecting yang sangat bagus antara Indonesia dan Vatikan,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
