nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Indonesia, Filipina, dan Thailand Terkorup di Asia

sindo, Jurnalis · Selasa 11 Maret 2008 08:36 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2008 03 11 1 90587

SINGAPURA - Jajak pendapat lembaga riset The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) menyebut Indonesia bersama Filipina dan Thailand sebagai negara dengan aktivitas ekonomi terkorup di Asia.

PERC membuat pemeringkatan negara-negara dengan ekonomi paling bersih di 13 negara Asia. Dalam laporan tahunan itu, PERC tidak memasukkan Myanmar dan Bangladesh karena negara tersebut telah memiliki catatan yang buruk terkait korupsi.

"Korupsi tetap menjadi masalah, kendati kemajuan ekonomi di kawasan ini pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah secara umum masih kurang memiliki kehendak politik untuk mengatasi masalah itu," ujar PERC. Sebanyak 1.400 orang dari berbagai negara menjadi responden dalam jajak pendapat yang digelar Januari- ebruari 2008. Peringkat terburuk ditempati Filipina, diikuti Thailand, Indonesia, dan China.

"Filipina merupakan contoh paling buruk dalam masalah korupsi. Situasi di Filipina mungkin tidak terlalu buruk dibandingkan Indonesia dan Thailand, tapi korupsi di sana telah dipolitisasi dan didiskusikan di media, tidak seperti China dan Vietnam," ungkap laporan PERC.

Filipina mendapat nilai 9,0 dari 10 poin dalam sistem pemeringkatan PERC. Nilai 0 diberikan pada negara paling bersih dan nilai 10 untuk yang paling buruk. Seperti dalam survei 2007, jajak pendapat tahun ini tetap menempatkan Thailand di peringkat kedua setelah Filipina. Thailand mendapatkan nilai 8,0 setelah militer yang melakukan kudeta pada 2006 gagal mengatasi masalah korupsi di negara tersebut.

"Perekonomian Thailand selama dua tahun terakhir menjadi salah satu ukuran terkait masalah politik dalam tuntutan skandal korupsi tokoh-tokoh terkenal (Perdana Menteri Thaksin Shinawatra dan keluarganya)," papar PERC. Indonesia berada di bawah Thailand dengan nilai 7,98.

Menurut PERC, Indonesia telah melakukan perbaikan di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). "Meski demikian, persepsi bahwa pegawai negeri sipil sebagai salah satu bagian yang cenderung korup masih kuat," ungkap PERC.

"Badan-badan pemeringkatan internasional mungkin telah menganggap Indonesia melakukan perbaikan serius, terutama dalam melihat upaya pemerintah mengatasi korupsi. Namun, masalah itu masih sangat serius," ujar PERC. Nilai China semakin buruk menjadi 7,98 dari 6,29 tahun lalu. Ini menjadi petunjuk bahwa korupsi telah menyebar luas di China, meski pemerintah berusaha memeranginya.

"Hukuman koruptor yang tertangkap mungkin sangat berat, tapi korupsi sudah menyebar sangat luas dan keuntungan yang didapat lebih besar daripada risiko tertangkapnya," ujar PERC. Korupsi juga memburuk di Malaysia tahun ini, Nilainya 6,37, lebih buruk dibandingkan 2007, 6,25. Meski demikian, Malaysia tetap berada di peringkat keenam dalam jajak pendapat itu.

"Perdana Menteri (PM) Malaysia Abdullah Ahmad Badawi gagal melaksanakan janji memerangi korupsi. Kegagalan itu menjadi salah satu alasan mengapa koalisi berkuasa (Barisan Nasional) gagal mempertahankan mayoritas dua pertiga di parlemen dalam pemilu Sabtu (8/3)," ungkap PERC.

Menurut PERC, dalam Pemilu 2004, Badawi menjadikan pemberantasan korupsi sebagai tema utama kampanye. "Kini Badawi harus menunjukkan keseriusannya memerangi korupsi dalam periode kedua sebagai PM," desak PERC. Tak cukup beruntung, India mendapat nilai 7,25. Nilai India saat ini lebih buruk dibandingkan tahun lalu 6,67.

(mbs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini