Share

QARDHAWI: Ulama Ensiklopedis dan Moderat

HAJRIYANTO Y. THOHARI, okezone · Kamis 11 Januari 2007 11:10 WIB
https: img.okezone.com content 2007 01 11 58 1669

Hari-hari ini bangsa Indonesia menerima kunjungan seorang ulama besar kelahiran Mesir dan doktor dari Universitas Al-Azhar, Cairo, yang kini memilih bermukim di Qatar, sebuah negara Arab kecil di kawasan Teluk.

Kunjungan ulama besar, Dr Yusuf Al Qardhawi yang diundang oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika mereka bertemu dalam kunjungan resmi ke Qatar belum lama berselang tersebut, sungguh merupakan kehormatan yang luar biasa bagi negeri kita yang tak putus dirundung duka ini.Kunjungan ulama besar yang sangat populer dan fenomenal ini memiliki makna yang sangat besar bagi kita bangsa Indonesia. Untuk menunjukkan betapa fenomenalnya Dr Yusuf Qardhawi sebagai ulama kelas dunia sampai-sampai ada ungkapan bahwa negeri Qatar itu menjadi terkenal karena dua hal: Televisi Al-Jazirah dan Dr Yusuf Qardhawi.

Pasalnya, Qatar itu sebuah kesultanan Arab yang sangat kecil dan tidak terkenal, tetapi gara-gara Al-Jazirah, yang sering disebut dengan “CNN-nya Timur Tengah”itu berada di Doha ibu kota Qatar,dan Dr Yusuf Qardhawi, bermukim di sana, Qatar menjadi sangat terkenal di seluruh dunia.Meski ini hanya sebuah seloroh, tetapi seloroh yang mengandung elemen kebenaran.

Ulama Ensiklopedis

Qardhawi adalah ulama paripurna, ulama par excellence! Jika ada ulama yang dapat dikategorikan sebagai benarbenar ensiklopedis, rasanya dialah salah satu contoh yang paling tepat. Betapa tidak. Karya-karyanya dalam bentuk buku sedemikian banyak dan menyeluruh sehingga hampir meliputi seluruh aspek ilmu-ilmu keislaman. Persoalan yang dibahas dalam buku-bukunya sedemikian lengkapnya mulai persoalanpersoalan keagamaan yang klasik dan klise sampai ke permasalahan-permasalahan dan problem-problem keislaman kontemporer yang paling aktual yang dihadapi umat Islam.

Benar-benar ensiklopedis keulamaannya! Lihatlah bukunya Hadyul Islam Fatwa Mu’ashirah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Fatwa- Fatwa Kontemporer (Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta) sebanyak tiga jilid yang masing-masing jilidnya hampir setebal 1000 halaman itu. Buku ini disusun dalam bentuk jawaban atas pertanyaan- pertanyaan kontemporer yang diajukan oleh umat Islam dari seluruh penjuru dunia dari soal fikih sampai soalsoal politik atau pemerintahan.

Dan dia juga menulis buku yang sangat banyak dari soal wudlu sampai soal politik kenegaraan, bahkan soal partai politik! Dari soal salat sampai soal ekonomi (lihat Daurul Qiyam wal Akhlak fi Iqtishodi ‘lislamy) sampai soal Teologi Kemiskinan (lihat Musykilatu ‘l-Faqr wa Kaifa Alajaha l-islam). Di samping itu, ia juga menulis buku Al-Siyasah Al-Syar’iyah, persis seperti judul magnum opus-nya Ibn Taimiyah yang klasik itu. Dalam buku ini, dia menanggapi pandangan-pandangan politik kaum liberalisme Islam,seperti misalnya Al-Islam wa Ushulu ‘l-Hukm karya Ali Abdurraziq, dan buku Kholid Mohammad Kholid Min Huna Nabda’ yang sangat kontroversial itu.

Dia,seperti yang ditulis dalam karyanya yang berjudul Tsaqofuna Baina ‘l-Infitah wa ‘l-Inqilab (Peradaban Islam: Eksklusif atau Inklusif), juga mengritik pandangan-pandangan Ibn Rusyd dan Ibn Hazm, failosof dan ulama besar dari Andalusia yang secara filosofis cukup liberal pada zamannya.

Sikap Moderasi yang Moderat

Meskipun sangat kritis kepada ulama dan pemikir-pemikir Islam yang lain, baik yang klasik sampai yang kontemporer, Al Qardhawi menyampaikannya dalam bahasa yang sangat santun dan tetap penuh penghormatan.Apalagi kalau kritik itu dialamatkan kepada ulamaulama besar masa lalu semacam Ibn Rus Ini semakin menunjukkan bahwa Al Qardhawi memang seorang ulama yang moderat yang selalu mengambil posisi moderasi. Pandangan-pandangan keagamaannya selalu moderat.

Lihatlah misalanya ketika dia membahas soal minoritas non-Islam dalam masyarakat Islam, minoritas Islam dalam masyarakat non Islam,pluralisme,demokrasi,fenomena multipartai, dan persoalan-persoalan kontemporer lainnya. Ketika sementara ulama sinisme pada partai-partai politik,Al Qardhawi justru berpendapat bahwa partai-partai politik dalam masyarakat Islam merupakan salah satu sarana untuk mengekspresikan kebebasan berpolitik dan salah satu cara modern yang dapat dipergunakan masyarakat untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Ketika diajukan kepadanya bagaimana umat Islam menghadapi fenomena multipartai, dia menjawab bahwa multipartai itu seperti multimadzhab dalam fikih. Artinya, kalau dalam fikih kita mendapati ada banyak madzhab,maka demikian jugalah dalam politik kita akan menghadapi banyak partai politik. Fahmi Huwaydi dalam bukunya Al-Islam wa ‘l-Dimuqrathiyah banyak sekali merujuk pada pandangan-pandangan Al Qardhawi tentang Islam dan politik. Meski pandangannya sangat moderat dan toleran, Al Qardhawi tidak kenes! Dia tidak kaku seperti ulama-ulama Wahabi, tetapi ketegasannya pada prinsip tidak kalah dengan penganut Wahabi.

Salah satu bukunya berjudul Islam Ekstrim: Analisis dan Pemecahannya menunjukkan dengan jelas dan terang benderang posisi moderasinya. Ia mengritik kaum ekstrim, tetapi dengan dosis yang tepat dan tidak berlebihan, apalagi memojokkan mereka secara semena- mena sebagaimana lazimnya orang-orang Islam liberal. Sebab, bagi dia, faktor-faktor yang mendorong seseorang atau sekelompok orang menjadi ekstrim itu sangatlah banyak dan kompleks. Ekstremitas kaum ekstrim bukan semata-semata soal pandangan teologisnya, melainkan juga karena faktor eksternal, yakni faktor sosial,ekonomi,dan ketidakadilan.

Dalam bukunya Tsaqofuna Baina ‘l-Infitah wa ‘l-Inqilab (Peradaban Islam: Ekslusif atau Inklusif), Al Qardhawi menunjukkan keterbukaan atau inklusifisme peradaban Islam secara sangat autentik, jauh dari paradigma- paradigma Barat. Sebagai ulama yang sudah sedemikian mendunia, dia tidak tergoda untuk membangun sakralitas dengan menjadikan dirinya sebagai ruhbaniyyah, ulama yang berwajah pendeta! Maksudnya, ia tidak pernah sekalipun menjadikan dirinya menjadi sebagai lembaga kerohanian yang kemudian eksesnya menjadi atau mengaku sebagai wali yang tidak bisa dibantah. Ia juga jauh dari ambisi-ambisi politik. Dia tidak pernah memberikan justifikasi atau legitimasi teologis kepada rezim pemerintah, tetapi juga tidak pernah sok kritis sebagaimana oposisi. Dia lurus saja pada pandangan-pandangannya tanpa dipengaruhi oleh kedekatan atau kejauhannya dengan rezim.

Qardhawi benar-benar seorang ulama par excellence. Bukan ulama yang begitu populer terus berbelok menjadi politisi atau maju sebagai calon presiden. Bukan politikus berjubah ulama, atau ulama yang sok kritis lalu berjubah oposisi. Dia seorang yang sederhana dalam bersikap. Dari autobiografinya yang berjudul Ibn ‘l-Qoryah wa ‘l-Kitab, kita menjadi tahu betapa Qardhawi orang yang sejak kecil hidup dalam kesederhanaan dan kesalehan sekaligus kecerdasan yang luar biasa! Tapi meski moderat bukan berarti Al Qardhawi lembek dalam berjihad. Pandangan- pandangan jihadnya tetap kokoh dan ghirrah-nya terhadap perjuangan Islam luar biasa kuat. Lihatlah bukunya Al-Shohwah Al-Islamiyah (Kebangkitan Gerakan Islam). Dalam buku ini ia tetap menggelorakan semangat jihad menghadapi musuh-musuh Islam yang biasanya dianggap tidak ada oleh kaum liberal. Karena sikap-sikapnya yang seperti itu,tak heran jika dia dihormati dan dijadikan rujukan umat Islam seluruh dunia yang tinggal dalam negeri-negeri yang berbeda-beda sistem dan ideologi politiknya. Marhaban ya Al Qardhawi!  (SINDO/mbs)
 HAJRIYANTO Y. THOHARI Anggota Komisi I DPR 

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

()

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini