Share

China-Rusia Dukung Nuklir Iran

Sindo Sore, · Sabtu 17 November 2007 15:31 WIB
https: img.okezone.com content 2007 11 17 18 61645

LONDON - Pemerintah China dan Rusia menempuh kebijakan yang menguntungkan Iran terakit isu nuklir. Kedua negara menolak penjatuhan sanksi lebih berat untuk Teheran.

Beijing dini hari tadi, Sabtu (17/11/2007), menolak menghadiri rapat Dewan Keamanan Persatuan Bangsa Bangsa (DK PBB) yang digelar Senin (19/11) di Brussel, Belgia.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Seorang diplomat Uni Eropa (EU) yang enggan disebutkan namanya kepada Reuters mengatakan, sikap China tersebut tak lepas dari penolakan Beijing terhadap sanksi tahap ketiga yang digagas Amerika Serikat (AS) dan beberapa anggota EU.

"Sedianya rapat akan digelar oleh Inggris, Prancis, EU, China, Rusia, dan AS di Brussel. Tapi, China menyatakan tidak akan menghadiri pertemuan itu. Sepertinya Beijing keberatan dengan sanksi tahap ketiga untuk Teheran," papar diplomat EU.

Lebih lanjut diplomat ini mengatakan, belum ada jadwal pengganti terkait pembatalan rapat di Brussel. Namun demikian, dia berharap dalam waktu dekat DK PBB sudah dapat menentukan jadwal baru guna mengakhiri konflik nuklir Iran.

Pasalnya, DK PBB telah menerima laporan resmi dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) terkait proyek nuklir Iran. Dalam laporannya dua hari lalu IAEA mengungkapkan, Iran telah memberikan akses yang cukup bagi IAEA untuk memeriksa proyek nuklirnya.

Namun, Teheran tetap menolak menutup reaktor nuklirnya. Pemerintah Beijing sendiri hingga kini belum memberikan komentar resmi terkait rapat di Brussel. Sebelumnya, Beijing menolak sanksi tegas untuk Iran karena dianggap dapat semakin mempersulit upaya komunitas internasional menyelesaikan konflik nuklir Negeri Mullah.

Dari Moskow dilaporkan, pemerintah Rusia siap mengirim bahan baku nuklir ke reaktor nuklir Bushehr, Iran. Wakil Kepala Novosibirsk Chemical Concentrate Plant, Konstantin Grabelnikov dini hari tadi mengungkapkan, pengiriman tersebut dilakukan enam bulan sebelum reaktor nuklir tersebut diaktifkan.

"Kami bersedia bekerja sama dengan IAEA dalam proyek ini," tegasnya tanpa merinci tanggal pengiriman. Sikap Rusia ini bertentangan dengan seruan AS agar komunitas internasional menghentikan semua bentuk kerja sama nuklir dengan Teheran.

AS menuduh Teheran mengembangkan bom pemusnah massal yang membahayakan keamanan dunia.

Sementara itu, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dalam wawancara dengan televisi Al Arabiya dini hari tadi berjanji tidak akan menghentikan proyek nuklir yang menjadi hak asasi rakyat Iran.

Ahmadinejad bahkan mendesak AS dan sekutunya agar meminta maaf karena telah mengusik proyek pengayaan uranium di Teheran. Ahmadinejad menganggap AS sengaja menyudutkan Iran, meski Teheran telah bersedia bekerja sama dengan IAEA.

"Kami telah melaporkan proyek nuklir kepadda IAEA. Karenanya, AS dan sekutunya harus meminta maaf karena telah menuduh Iran menyebarkan berita bohong tentang nuklir Iran. Proyek kami untuk tujuan damai, lalu mengapa harus ada sanksi lagi," ujar Ahmadinejad.

"Nuklir hanyalah dalih AS. Harusnya isu nuklir sudah ditutup. Mereka seharusnya tidak merencanakan peperangan. Karena hal itu akan membuat kekacauan yang besar," imbuhnya.

(jri)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini